Bolehkan Orang Musafir dan Anak Kecil Berkurban?

0
960

BincangSyariah.Com – Syekh Wahbah Al Zuhaili di dalam kitabnya Alfiqh Al Islami Wa Adillatuh menyebutkan bahwa ulama fikih telah sepakat syarat orang yang berkurban itu harus orang Islam, merdeka, balig, berakal, mukim alias tidak berpergian dan mampu melaksanakan kurban.

Namun mereka berbeda pendapat dalam hukum kurbannya orang yang berpergian/musafir dan anak kecil.

Adapun kurbannya orang yang sedang berpergian atau musafir menurut ulama Hanafiyah mereka tidak wajib baginya berkurban. Karena Abu Bakar dan Umar tidak berkurban ketika mereka sedang berpergian. Ali ra juga pernah berkata: “

ليس على المسافر جمعة ولا أضحية

“Tidak ada jumatan dan kurban bagi musafir.”

Selain itu pelaksanaan kurban dapat menyebabkan masyaqat atau terbebaninya musafir. Maka bagi musafir tidak wajib melaksanakan kurban karena untuk menghindari “rasa” sempit seperti salat Jumat.

Sedangkan menurut ulama Malikiyyah kurban itu disunnahkan bagi orang yang tidak sedang melaksanakan haji, karena yang disunnahkan adalah membayar hadyu. Adapun bagi orang yang tidak sedang berhaji maka ia tetap disunnahkan berkurban secara mutlak baik ia sedang menetap di negaranya atau sedang musafir.

Sementara pandangan ulama Syafiiyah dan Hanabilah mengatatakan bahwa kurban itu disunnahkan bagi setiap umat Muslim baik ia musafir, haji atau lainnya. Karena terdapat hadis riwayat imam Al Bukhari dan Muslim yang menyebutkan bahwa Nabi Saw. pernah berkurban sapi di Mina untuk istri-istrinya. Tapi ada yang berpendapat bahwa hadis tersebut mengindikasikan tentang kurban itu tidak disunnahkan bagi orang yang berhaji ketika di Mina, dan yang disembelih Nabi Saw. itu adalah hadyu bukan hewan kurban.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa semua ulama selain ulama Hanafiyyah mengatakan tetap disunnahkan bagi orang yang sedang berpergian atau musafir untuk bekurban. Sedangkan menurut ulama Hanafiyah, tidak ada kurban bagi musafir, meskipun ia mampu, karena dapat membebankannya.

Baca Juga :  Ini Dua Doa yang Sunah Dibaca setelah Takbir Keempat Salat Jenazah

Adapun hukum kurbannya anak kecil maka menurut pendapat yang paling sahih dari imam Abu Hanifah dan Abu Yusuf mengatakan bahwa anak kecil tidak wajib berkurban dengan hartanya. Tetapi ia berkurban dengan harta bapaknya atau walinya, dan anak kecil tersebut boleh makan dari hewan kurbannya, menjual sisanya dari apa yang dapat dimanfaatkan karena tidak dapat dikonsumsi. Dan hendaknya wali itu menyembelih untuk masing-masing anaknya satu kambing, atau ia menyembelih unta atau sapi untuk tujuh anaknya seperti halnya di dalam urusan pembayaran zakat fitri. Sedangkan menurut imam Muhammad dan Zufar dari kalangan madzhab Hanafi juga berpendapat lain, yakni seorang wali itu menyembelih kurban dari hartanya sendiri, bukan dari hartanya anak kecil itu.

Menurut ulama Malikiyyah, berpendapat bahwa kurban itu juga disunnahkan untuk anak kecil. Sedangkan ulama Syafiiyyah dan Hanabilah mengatakan kurban itu tidak disunnahkan bagi anak kecil.

Dengan demikian maka kesimpulannya bahwa kurban bagi anak kecil dengan harta orang tuanya atau walinya itu berhukum sunnah menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah. Tetapi menurut ulama Syafiiyyah dan Hanabilah tidak sunnahkan. Wa Allahu A’lam bis Sawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here