Bolehkah Puasa Sunah Asyura, Tapi Punya Hutang Puasa Ramadan?

2
5167

BincangSyariah.Com – Puasa Sunah adalah di antara jalan yang diberikan oleh Allah Swt. untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ibadah yang hukumnya sunah bisa menjadi pelengkap ibadah wajib yang kita lakukan, apalagi misalnya ibadah wajib tersebut ada sedikit kekurangan yang tidak terpenuhi sunnah dan keutamaannya.

Namun, bagaimana jika kita mengerjakan ibadah sunah seperti puasa Asyura atau puasa sunah lainnya di bulan Muharram, namun masih memiliki kewajiban puasa ramadan yang ditinggalkan di bulan ramadan tersebut?

Jawabannya adalah seseorang sebenarnya boleh saja melakukan puasa sunah di bulan Muharram, tapi hukumnya makruh karena masih memiliki tanggungan puasa ramadan yang belum diselesaikan.

Pendapat ini dipegang oleh mazhab Syafii dan mazhab Maliki. Alasannya sama, yaitu makruhnya mendahulukan puasa sunah sementara masih ada hutang puasa wajib.
Bahkan, dalam mazhab Hanbali, mendahulukan puasa sunnah sementara masih memiliki hutang puasa ramadan hukumnya haram. Meskipun, waktu untuk qadha puasa ramadan masih banyak, yaitu sampai ramadan berikutnya.

Dasarnya adalah hadis riwayat Ahmad dari Abu Hurairah Ra.,

“من صام تطوعاً وعليه من رمضان شيء لم يقضه فإنه لا يقبل منه حتى يصوم”.

“Siapa yang berpuasa sunnah namun ia masih memiliki tanggungan puasa ramadan (yang harus di-qadha), puasa sunnah tidak terima sampai ia menyelesaikan puasa wajibnya.”

Lebih lanjut, mazhab Hanabali mengkiaskan praktik ini dengan tidak bolehnya seseorang menjadi badal haji bagi orang lain namun ia belum melaksanakan berhaji.

Pendapat jumhur memang membolehkan berpuasa sunnah sementara masih memiliki tanggungan puasa Ramadan. Dalilnya di antaranya adalah dari mazhab Hanafi yang berpandangan bahwa qadha’ puasa masuk ke dalam kategori al-wajib al-muwassa’. Maksud al-wajib al-muwassa’ adalah waktu menunaikan kewajiban itu luas.

Baca Juga :  Hukum Melakukan Puasa Membisu

Nah, qadha puasa Ramadan dipahami demikian karena dapat dikerjakan di hari lain selama tidak sampai kepada bulan ramadan lainnya. Sementara, puasa sunnah yang spesifik waktunya seperti Asyura, hanya terjadi sekali di bulan tersebut.

Namun penulis cenderung untuk melunasi puasa wajib terlebih dahulu. Baru setelah itu, melaksanakan puasa sunah. Ini dikarenakan mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub) seyogianya mendahulukan yang wajib terlebih dahulu. Wallahu A’lam.

2 KOMENTAR

  1. Komentar:bagaimana hukumnya bila masih memiliki qada puasa ramadhan yang lalu dan telah datang ramadhan berikutnya, dalam keadaan sakit

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here