Bolehkah Non-Muslim Memandikan Jenazah Muslim?

1
224

BincangSyariah.Com – Umumnya, di negara seperti Indonesia atau di mana pun yang wilayahnya mayoritas muslim, jenazah biasanya dimandikan oleh mereka yang seagama dengan jenazah tersebut. Misalnya ada yang khusus bertugas memandikan jenazah, jika yang jasad yang wafat adalah seorang muslim, maka petugas atau orang yang dimintai bantuan memandikan juga seorang muslim. Tapi, bagaimana jika yang memandikan adalah non-muslim?

Sebelum membahas sisi boleh atau tidaknya, kondisi demikian – non-muslim memandikan muslim – sangat mungkin terjadi. Misalnya, orang yang wafat di rumah sakit, biasanya langsung sudah dimandikan oleh petugas rumah sakit, yang sangat mungkin, tidak merasa perlu mempertimbangkan yang memandikan itu seagama atau tidak. Atau misalnya, jika dimandikan di rumah, ada anggota keluarga yang ingin ikut membantu memandikan (ini biasa terjadi di Indonesia). Tapi boleh jadi ada kejadian anggota keluarga tidak memeluk agama yang sama dengan yang dimandikan. Tapi, ia adalah orang yang sangat dekat, semisal pasangannya sendiri, anak, atau keluarga dekatnya. Lantas dalam ilustrasi-ilustrasi kondisi tersebut, bolehkah non-muslim memandikan jenazah muslim, begitu juga sebaliknya?

Pada prinsipnya, memandikan jenazah itu spiritnya adalah memuliakan jenazah tersebut. Itu mengapa ia perlu dimandikan sebelum dikafani, dishalati, dan dikuburkan. Namun, ulama berbeda pendapat apakah memandikan jenazah itu dikategorikan sebagai ibadah atau bentuk upaya memuliakan sesama manusia saja? Dalam mazhab Syafi’i, seperti misalnya dikutip dari kitab Fath al-Mu’in, disebutkan ringkas bahwa memandikan oleh orang kafir terhadap muslim itu sah.

ويكفي غُسلُ كافر

dan cukup (sah) basuhan orang kafir (terhadap jenazah muslim).

Ungkapan tersebut, disyarahi oleh Syaikh Abu Bakar Syatha’ dalam kitabnya I’anah at-Thalibin, bahwa pendapat yang paling shahih adalah memandikan jenazah itu niatnya untuk membersihkan, jadi tidak diharuskan niat (seperti ibadah).

Baca Juga :  Masuk Islam Setelah Murtad, Wajibkah Qadha Shalat, Puasa, dan Zakat?

Yang berpendapat serupa, setelah penulis telusuri, selain mazhab Syafi’i, adalah mazhab Hanafi, dan satu riwayat pendapat dari imam Ahmad bin Hanbal (bukan mazhab Hanabilah). Dalam mazhab Hanafi, menurut mereka seorang muslim boleh memandikan orang kafir, jika ia memiliki hubungan kekerabatan dengan muslim tersebut. Tapi, jika sudah ada orang yang seagama dengan sang jenazah tersebut, maka yang muslim tidak perlu ikut memandikan. Yang lebih utama adalah yangs seagama dengannya

Kembali pada kasus muslim memandikan non-muslim, landasannya adalah riwayat ‘Ali bin Abi Thalib ra. bahwa ia juga tetap memandikan dan mengafani ayahnya, Abu Thalib, sesuai dengan izin Nabi Saw. Landasan ini yang digunakan oleh Mazhab Syafi’i. Pendapat ini juga misalnya didukung oleh kisah Nabi Saw. yang tetap mengafani Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin orang-orang munafik, dengan menggunakan jubah miliknya. Nabi Saw. melakukan itu atas permohonan anak Abdullah bin Ubay, Abdullah. Namun, sebagian ulama menganggap keputusan Nabi Saw. yang demikian itu hanya untuk menyenangkan sahabatnya.

Namun, pendapat yang membolehkan ini juga mendapat penolakan dari mazhab lain, semisal mazhab Maliki, mazhab Hanbali, dan pendapat ulama kontemporer semisal Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin. Menurut mereka yang menolak pendapat mazhab Syafi’i, riwayat tentang kisah Ali bin Abi Thalib tersebut bermasalah dari segi sanadnya. Mereka berpandangan, non-Muslim tidak boleh ikut mengurusi jenazah muslim termasuk memandikan, begitu juga sebaliknya. Terkait kasus muslim memandikan non-muslim, itu baru bisa dilakukan jika tidak ada sama sekali dari kalangan non-muslim yang mengurusnya. Selain itu, tujuannya hanyalah agar untuk memperlakukan jenazah secara wajar, dan tidak didoakan. Wallahu A’lam.

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here