Bolehkah Muazin Menerima Upah Azan?

1
1086

BincangSyariah.Com –Pada saat ini tugas sebagai muazin sudah banyak yang mendapatkan bayaran, kadang dari pengurus masjid dan kadang juga dari pemerintah setempat. Sebenarnya, bolehkah muazin menerima upah dari azannya?

Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama empat mazhab. Setidaknya, ada dua pendapat mengenai kebolehan muazin mengambil bayaran, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Fiqh ‘ala Mazahib al-Arba’ah.

Pertama, menurut ulama Hanafiyah dan Syafiiyah, ketika seseorang bertugas sebagai muazin, maka dia boleh mengambil bayaran. Begitu juga bagi imam, guru dan lainnya, mereka boleh mengambil bayaran atas tugasnya tersebut.

يجوز أخذ الأجرة على الأذان ونحوه، كالإمامة والتدريس باتفاق الحنفية، والشافعية

“Boleh mengambil bayaran atas azan dan lainnya, seperti imam dan mengajar, menurut kesepakatan ulama Hanafiyah dan  Syafiiyah.”

Adapun menurut ulama Malikiyah, seseorang hanya boleh mengambil bayaran ketika bertugas sebagai muazzin dan muqim. Adapun jika bertugas sebagai imam, maka hukumnya makruh mengambil bayaran apabila uangnya dari para jemaah. Namun jika dari uang waqaf atau pemerintah, maka hukumnya boleh dan tidak makruh. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Fiqh ‘ala Mazahib al-Arba’ah berikut;

المالكية قالوا: يجوز أخذ الأجرة على الأذان والإقامة، وعلى الإمامة إن كانت تبعاً للأذان أو للإقامة، وأما أخذ الأجرة عليها استقلالاً فمكروه إن كانت الأجرة من المصلين، وأما إن كانت من الوقف، أو بيت المال فلا تكره.

“Ulama Malikiyah berkata, ‘Boleh mengambil bayaran atas azan dan iqamah, juga karena menjadi imam  jika tugas imam tersebut ikut terhadap tugas azan dan iqamah. Adapun jika mengambil bayaran hanya karena menjadi imam, maka hukumny makruh jika bayaran tersebut dari jemaah. Namun jika dari uang waqaf atau bait al-Mal, maka tidak makruh.”

Baca Juga :  Shalat Fardhu Sendirian, Apakah Disunahkan Azan dan Iqamah?

Kedua, menurut ulama Hanabilah, jika ada yang bersedia menjadi muazin dengan suka rela, maka membayar muazin hukumnya adalah haram. Namun jika tidak ada yang bersedia, maka pemerintah harus membayar orang yang bertugas sebagai muazin dengan uang dari bait al-Mal, atau uang kas kaum muslimin.

الحنابلة قالوا: يحرم أخذ الأجرة على الأذان والإقامة إن وجد متطوع بهما، وإلا رزق ولي الأمر من يقوم لهما من بيت مال المسلمين لحاجة المسلمين إليهما

“Ulama Hanabilah berkata, ‘Haram mengambil bayaran atas azan dan iqaman jika ada orang yang suka rela untuk melakukan azan dan iqamah. Jika tidak ada, maka pemerintah harus memberi rizki kepada orang yang melaksanakan azan dan iqamah dari dana kas kaum muslimin, karena kaum muslimin sangar butuh terhadap azan dan iqamah.”

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Pada umumnya, antara muadzin dan imam beda orang. Jarang kita jumpai muadzin merangkap sebagai imam, atau sebaliknya. Namun dalam kondisi tertentu, seperti shalat berjemaah  bersama istri di rumah, kita mengumandangkan adzan, iqamah dan sekaligus kita menjadi imam. Bagaimana hukum merangkap menjadi muadzin dan imam ini, apakah disunnahkan? (Bolehkah Muazin Menerima Upah Azan?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here