Bolehkah Menyalurkan Zakat Fitrah tanpa Melalui Lembaga Zakat?

1
7062

BincangSyariah.Com – Beberapa hari lagi kita akan meninggalkan bulan Ramadhan. Disatu sisi kita patut berbangga karena kita akan menemui hari kemenangan ( Idul Iitri). Tapi disisi yang lain kita sebagai orang muslim sejati akan merasakan kesedihan yang sangat mendalam, karena kita akan ditinggal oleh bulan yang sangat indah dan mulia. Lalu, hari kemenangan (Idul Iitri) yang akan kita sambut beberapa hari kedepan tidak serta merta kita lalui hanya seorang diri atau hanya dengan  keluarga saja. Kita yang mampu harus memimikirkan orang yang tidak mampu agar ia juga ikut merasakan kesenangan dihari kemenangan. Maka dari itu, diwajibkanlah zakat fitrah bagi kita yang mampu agar kita bisa berbagi dengan yang tidak mampu.

Namun, timbul pertanyaan terkait penyaluran zakat fitrah. Bisakah seorang yang akan memberikan zakat (muzakki) menyalurkan zakat fitrah tanpa melalui lembaga zakat, simpulnya, menyalurkan secara pribadi. Terlarangkah dalam Islam?

Jawabannya dari pertanyaan dan persoalan diatas dapat kita temukan dalam penjelasan imam al-‘Imrani, salah-satu ulama Syafi’iyah dalam bukunya alBayan Fi mazhab alImam alSyafi’i i (h. 289-290) sebagaimana redaksi berikut,

وفي زكاة الفطر وجهان:

( الأول )  قال في القديم : (يجب دفعها إلى الإمام أو النائب عنه، فإن فرقها بنفسه أعاد)

والثاني ) قال في الجديد : ( يجوز لرب المال أن يفرقها بنفسه)  وهو الصحيح، لأنها زكاة ، فيجوز لرب المال أي يفرقها بنفسه، كالأموال الباطنة

Dalam redaksi diatas, beliau menjelaskan bahwa cara penyaluran zakat fitrah kepada yang tidak mampu atau kepada kelompok penerima lainnya menurut pandangan Imam Syafi’i dapat dilihat dalam kedua pendapatnya.

Pertama, dalam pendapat lamanya (qaul qadim: pendapat beliau waktu di baghdad Iraq) zakat fitrah harus disalurkan kepada panitia atau lembaga yang resmi menangani pengumpulan zakat tidak boleh disalurkan langsung kepada para penerima. Jika terpaksa dilakukan maka harus diambil lagi dan diserahkan kepada panitia atau lembaga pengumpul zakat.

Baca Juga :  Haram Zakat dan Sedekah untuk Keluarga Nabi

Kedua, beliau dalam pendapat barunya (qaul jadid : pendapat beliau waktu dimesir) mengatakan bahwa zakat fitrah boleh-boleh saja disalurkan secara langsung kepada para penerima zakat. Ia tidak harus disalurkan melalui lembaga dan panitia pengumpul zakat. Karena menurut beliau zakat fitrah ini juga disamakan dengan harta-harta yang tergolong harta batin ( tidak nampak sebagaimana hewan, buah-buanan dan lain sebagainya).  Maka ia diberikan kebebbasan untuk menyalurkannya.

Selanjutnya, lebih utama mana antara menyalurkan secara lansung tanpa melalui lembaga atau didistribusikan melalui lembaga amil zakat? Beliau memperpanjang penjelasannya dalam buku dan halaman yang disebutkan diatas dengan mengatakan sebagai berikut:

اختلف في ذلك أصحابنا،: فمنهم من قال تفرقته بنفسه أفضل، لأنه على يقين من تفرقة نفسه وعلى شك من تفرقة غيره. ومنهم من قال: دفعها إلى الإمام أفضل…….لأن دفعه إلى الإمام يجزئه بلا خلاف وتفرقته بنفسه مختلف فيه في إجزائه عنه، ولأن الإمام أعرف بحاجة المساكين.

Imam al-‘Imrani dalam redaksi diatas juga menyampaikan perbedaan pendaapat dalam kalangan ulama syafi’iyah yang diwakilkan oleh para ulama di dalam mazhab Syafi’i. Ada yang mengatakan bahwa zakat fitrah lebih utama disalurkan secara langsung tanpa perantara kepada para penerima. Karena jalan ini lebih meyakinkan bagi orang yang memiliki kewajiban mengeluarkan zakat.

Sebagian lain mengatakan sebaliknya. Zakat fitrah lebih utama disalurkan melalui lembaga atau panitia pengumpul dana zakat. Karena dengan jalan ini kebutuhan mereka para penerima khususnya fakir miskin lebih terjamin dan tercukupi. Berbeda jika disalurkan secara lansung, kadang mencukupi kadang tidak.

Kesimpulan penulis adalah zakat fitrah yang diwajibkan semenjak kedatangan hari kemenangan (idul fitri) tidak harus disalurkan melalui lembaga atau panitia pengumpul zakat. Ia boleh dibagikan secara langsung oleh muzakki (orang yang berzakat) kepada pihak penerima.

Baca Juga :  Penjelasan tentang Zakat untuk Hasil Pertanian

Hanya saja, melihat bahwa diantara hikmah zakat ini juga bertujuan pengentasan kemiskinan maka lebih utama disalurkan melalui lembaga atau panitia pengumpul zakat. Harapannya, zakat lebih terarah dan lebih produktif yang puncaknya ingin mengentaskan kemiskinan. Wallahu A’lam

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here