Bolehkah Mengumbar Kebaikan maupun Aib Mayit?

0
122

BincangSyariah.Com – Seseorang yang meninggal dunia, ia telah berpindah dimensi (alam). Ia tinggalkan alam dunia menuju alam kubur. Harta dan keluarga ia tinggalkan, hanya menyisakan kewajiban bagi para anggota keluarga untuk mengurusi jasadnya. Mulai dari memandikan, mengafani, menyalati, dan menguburkan.

Seringkali, pada saat memandikan, orang-orang yang memandikan akan menemukan kejangalan pada tubuh mayit. Kejanggalan tersebut kemudian mereka tafsirkaan secara liar. Ada yang menafsirinya sebagai pertanda baik, ada juga yang menafsirinya sebagai pertanda buruk.

Sesudah menemukan kejanggalan tersebut, biasanya mulut menjadi gatal untuk menyebarkannya. Maka tersebarluaskanlah perihal pertanda pada tubuh mayit, entah baiknya maupun buruknya. Bahkan kabar tentang pertanda-pertanda ini sukses menginspirasi timbulnya sinetron-sinetron tidak jelas yang bertemakan azab.

Sebenarnya, bagaimanakah hukum menyebarluaskan pertanda yang kita temukan pada diri mayit khususnya yang terlihat saat mayit sedang dimandikan?

Imam al-Mawardi dalam kitab al-Hawi al-Kabir (j. 3 h. 30) menjelaskan tentang pentingnya menjaga kerahasiaan apapun pertanda yang ia lihat pada diri mayit dengan pernyataan beliau:

وَأَمَّا كِتْمَانُهُ لِمَا يَرَى مِنْ تَغْيِيرِ الْمَيِّتِ وَسُوءِ أَمَارَةٍ فَمَأْمُورٌ بِهِ لَا يَحِلُّ لِلْغَاسِلِ أَنْ يَتَحَدَّثَ بِهِ، لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ ” مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فَكَتَمَ عَلَيْهِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ أَرْبَعِينَ مَرَّةً ” فَأَمَّا مَا يَرَى مِنْ مَحَاسِنِهِ فَقَدْ كَانَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا يَأْمُرُ بِسِتْرِهَا وَيَمْنَعُ مِنَ الْإِخْبَارِ بِهَا لِأَنَّهَا رُبَّمَا كَانَتْ عِنْدَهُ مَحَاسِنَ وَعِنْدَ غَيْرِهِ مَسَاوِئَ

Artinya: “Sangat diperintahkan menjaga kerahasiaan apapun yang ia lihat pada diri mayit, baik berupa membusuknya daging mayit ataupun pertanda jelek lainnya. Tidak dihalalkan bagi orang yang memandikan mayit untuk membicarakannya. Sebagaimana hadis Nabi SAW: “Barangsiapa yang memandikan mayit, kemudian menjaga kerahasiaannya, maka akan diampuni oleh Allah sebanyak 40 kali”.

Adapun pertanda baik yang terlihat, sebagian ulama ada yang lebih condong untuk tetap merahasiakannya juga, karena seringkali sebuah pertanda dianggap baik oleh seseorang namun dianggap jelek oleh orang lainnya.”

Dari pemaparan diatas bisa kita pahami bahwa haram hukumnya menyebarluaskan hal-hal buruk ataupun pertanda jelek yang ditemukan pada diri mayit. Bahkan Rasulullah menjanjikan pahala yang sangat banyak bagi mereka yang merahasiakan hal tersebut.

Baca Juga :  Macam-macam Niat Salat Sunah Qabliyah Subuh

Untuk pertanda baik, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa sebaiknya hal itu tetap dirahasiakan karena bisa jadi sebuah pertanda dianggap baik oleh seseorang namun dianggap buruk oleh orang lainnya.

Meski demikian, khusus untuk pertanda baik, pendapat yang lebih sahih menyatakan bahwa boleh saja ungtuk mengabarkan pertanda baik karena hal itu bisa mengundang orang lain untuk mendoakan mayit dan menginspirasi orang untuk melakukan kebaikan. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here