Belum Mendapat Petunjuk, Bolehkah Mengulang-ulang Salat Istikharah?

0
169

BincangSyariah.Com – Islam memiliki solusi dalam setiap persoalan umatnya. Salah satunya adalah adanya syariat istikharah (meminta petunjuk kepada Allah Swt.) ketika dihadapkan dalam suatu pilihan yang rumit baik dengan melaksanakan salat atau doa.

Istikharah ini disunnahkan diulang-ulang sebanyak tujuh kali. Hal ini sebagaimana hadis riwayat Ibnu Sunni di dalam kitab Amalul Yaum Wallailah dari Anas bin Malik, Rasulullah saw. bersabda:

«يَا أَنَسُ، إِذَا هَمَمْتَ بِأَمْرٍ فَاسْتَخِرْ رَبَّكَ فِيهِ سَبْعَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ انْظُرْ إِلَى الَّذِي يَسْبِقُ إِلَى قَلْبِكَ، فَإِنَّ الْخَيْرَ فِيهِ» أخرجه ابن السني

Wahai Anas, jika kamu gundah dengan suatu hal, maka mintalah pilihan (petunjuk) kepada Tuhan mu sebanyak tujuh kali. Kemudian lihatlah yang tersirat pada hatimu, maka sungguh kebaikan ada di dalamnya.” (HR. Ibnu Sunni).

Namun, isitikharah itu dilakukan berulang-ulang ketika tidak ada tanda-tanda yang jelas padanya (orang yang melaksanakan istikharah). Jika sudah jelas baginya apa yang dapat melegakan/melapangkan dadanya, maka ia tidak perlu mengulang istikharahnya.

Kelapangan dada seseorang atas pilihannya adalah perwujudan dari kecondongan seseorang dan kecintaannya pada sesuatu. Bukan sekedar karena menuruti hawa nafsunya atau karena adanya tujuan dan maksud tertentu.

Jadi, istikharah itu bisa diulang-ulang sampai tujuh kali jika belum ada tanda yang jelas  baik dengan cara salat atau doa. Bahkan ulama fikih menjelaskan bahwa jika belum ada tanda-tanda yang jelas baginya setelah melaksanakan istikharah tujuh kali, maka ia boleh untuk mengulanginya lagi lebih dari itu.

Imam Ibnu Abidin Al Hanafi di dalam kitab Raddul Mukhtar Alad Daril Mukhtar mengatakan:

وَيَنْبَغِي أَنْ يُكَرِّرَهَا سَبْعًا … وَلَوْ تَعَذَّرَتْ عَلَيْهِ الصَّلاةُ اسْتَخَارَ بِالدُّعَاءِ

“Dan disunnahkan ia mengulangi istikharah sampai tujuh kali,…… Jika ia tidak mampu melaksanakan salat, maka ia (boleh) istikharah dengan doa.”

Syekh Alisy dari ulama mazhab Maliki mengatakan di dalam kitab Minahul Jalil Syarh Mukhtasar Khalil

وَيَمْضِي لِمَا يَنْشَرِحُ صَدْرُهُ إلَيْهِ مِنْ فِعْلٍ أَوْ تَرْكٍ، وَإِنْ لَمْ يَنْشَرِحْ لِشَيْءٍ مِنْهُمَا فَلْيُكَرِّرْهَا إلَى سَبْعِ مَرَّاتٍ

Baca Juga :  Bolehkah Salat Istikharah Diwakilkan Orang Lain?

“Ia akan (memilih) melaksanakan atau meninggalkan terhadap apa yang dadanya merasakan kelapangan (akan hal itu). Dan jika belum ada kejelasan (condong) pada sesuatu dari keduanya (antara melaksanakan atau meninggalkan terhadap suatu pilihan), maka hendaknya ia mengulanginya sampai tujuh kali.”

Ibnu Illan Al Syafii di dalam kitab Al Futuhat Al Rabbaniyah juga mengatakan:

فإن لم ينشرح صدره لشيءٍ فالذي يظهر أن يكرر الاستخارة بصلاتها ودعائها حتى ينشرح صدره لشيء وإن زاد على السبع، والتقييد بها في خبر أنس جريٌ على الغالب؛ إذ انشراح الصدر لا يتأخر عن السبع

Jika belum ada kejelasan dalam dadanya terhadap sesuatu, maka hal yang jelas adalah mengulangi istikharahnya baik dengan salat atau doa sampai dadanya merasakan kelapangan (untuk memilih) pada sesuatu. Meskipun dilakukan lebih dari tujuh kali. Adapun batasan tujuh itu adalah berdasarkan riwayat Anas dan itu menjadi dasar keumuman. Oleh karena itu, untuk sampai dapat menjadikan dadanya lapang maka tidak diakhiri dengan batasan tujuh”.

Wa Allahu a’lam bis shawab (Diolah dari laman Darul Ifta’ Al Misriyyah dengan judul Ma Hukmu Tikraril Istikharah).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.