Bolehkah Meng-qada Salat Sunah Rawatib Subuh?

0
650

BincangSyariah.Com – Salat sunah yang sangat istimewa dan tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam selama hidupnya adalah salat dua rakaat sebelum Subuh. Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan seperti diriwayatkan oleh al-Bukhari,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللّه عَنْهُمَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ أخرجه الشيخان

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan satu pun salat sunnah yang dilakukan secara terus-menerus melebihi dua rakaat (salat rawatib) Subuh. (H.R. Bukhari)

Begitu istimewanya salat dua rakaat sebelum salat Subuh, bahkan dalam kondisi darurat sekalipun Nabi tetap melaksanakannya. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pernah kesiangan melaksanakan salat Subuh dalam satu perjalanan. Beliau bangun saat matahari sudah terbit kemudian beliau menyuruh Bilal untuk mengumandangkan azan Subuh dan salat fajar dua rakaat yang diikuti oleh para sahabat. Kemudian beliau salat Subuh bersama mereka. Kisah ini disebutkan dalam Sunan Abu Dawud.

Demikian luar biasanya salat sunah dua rakaat sebelum Subuh. Nabi Saw. menjelaskan dalam sabdanya seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Hurairah Ra.,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dua rakaat fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. (H.R. Muslim)

Fakta karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam tak pernah meninggalkan dua rakaat sebelum salat Subuh sekalipun dalam keadaan darurat, maka ulama menegakkan hukum salat sunnah ini termasuk salat sunah muakkad atau sangat ditekankan untuk dilaksanakan.

Jika begitu penting dan istimewanya salat sunnah dua rakaat sebelum Subuh, lalu bagaimanakah jika seseorang tidak punya kesempatan menjalankannya. Bolehkah qada salat sunah rawatib Subuh itu?

Jika seseorang tidak berkesempatan menjalankan salat sunah ini, maka boleh baginya qada atau menggantinya setelah selesai atau pada waktu matahari sudah terbit di waktu Duha. Qada salat sunnah ini dibenarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam berdasarkan hadits dari Qais bin Amr, ia menuturkan bahwa,

Baca Juga :  Menderita Maag Kronis, Bolehkah Tidak Berpuasa?

أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الصُّبْحَ ، وَلَمْ يَكُنْ رَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، فَلَمَّا سَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ؛ سَلَّمَ مَعَهُ ، ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ ، فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيْهِ

Saya salat Subuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan belum melakukan salat sunnah dua rakaat qabliyah subuh. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah salam maka ia pun salam bersama beliau, kemudian ia bangkit dan melakukan salat dua rakaat qabliyah subuh, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat perbuatan tersebut dan tidak mengingkarinya. (HR. At-Tirmidzi, disahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Sahih Sunan At Tirmidzi: 1/133)

Diamnya Nabi shallallahu alaihi wasallam menunjukkan pengakuannya akan kebolehan qada atau mengganti salat sunah qabliyah subuh dilakukan setelah salat Subuh.

Akan tetapi menurut ulama kontemporer mengakhirkannya sampai matahari meninggi lebih utama karena Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan hal ini. Adapun mengerjakannya sesudah salat Subuh sebenarnya juga sudah dibenarkan oleh Nabi saw.

Inilah pendapat Imam Ahmad, beliau berkata jika ia mengerjakannya sesudah fajar salat Subuh maka itu sudah cukup. Adapun memilih mengqada atau menggantinya di waktu Duha. Hal ini berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu di atas. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here