Bolehkah Mencicil Mandi Janabah?

1
2386

BincangSyariah.Com – Mandi janabah adalah mandi secara ritual yang bertujuan untuk menyucikan diri, dalam hal ini mengikat hadas besar. Mandi wajib mensyaratkan niat. Untuk membedakan dengan mandi biasa ketentuannya hanya sampai batas meratakan air ke seluruh tubuh.

Seseorang mandi janabah disebabkan karena orang tersebut mengalami hadas besar, misalnya karena berhubungan suami istri, atau sebab usai dari haid dan nifas. Menurut mayoritas ulama, rukun mandiri janabah hanya dua, yakni niat dan meratakan air pada seluruh tubuh. Adapun selain rukun, mandi janabah punya tata cara lain yang hukumnya sunah, seperti mencuci kemaluan sebelum mulai mengguyur air ke badan, berwudu, mendahulukan anggota kanan sebelum yang kiri, dan sebagainya.

Terkait dengan hal ini, di dalam kajian fikih ada istilah almuwalah, artinya melakukan satu perbuatan atau lebih dalam waktu yang bersamaan. Penyelesaiannya tanpa dijeda dengan durasi yang cukup lama.

Misalnya ketika seseorang melaksanakan wudu dalam satu waktu, ia menyelesaikan wudunya dari niat hingga mencuci kaki tanpa diselingi perbuatan lain. Di sini, ia dikatakan telah melaksanakan wudu dengan muwalah, sebab melakukan semua rukun wudu tanpa dijeda dan diselingi dengan perbuatan lain.

Sedangkan jika ia berniat wudu lalu membasuh wajahnya, kemudian keluar kamar mandi untuk menerima tamu di rumah. Beberepa saat kemudian ia kembali lagi ke kamar mandi untuk menyelesaikan wudunya (membasuh tangan, kepala/rambut, dan kaki), maka dalam wudunya ini tidak ada unsuralmuwalah.

Lazimnya, orang tidak akan menyudahi mandinya sebelum seluruh tubuhnya basah dengan siraman air. Namun jika ada orang ingin mencicil mandi janabahnya karena suatu hal, apakah dibolehkan? Misalnya, malam hari mencuci kepala dan rambut, lalu subuh menyempurkan mandi dengan menyiram anggota tubuh yang lain.

Baca Juga :  Dua Hal yang Menyebabkan Jinabat

Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian mengatakan boleh, sebagian lagi tidak. Perbedaan ini didasari apakah almuwalah dalam mandi janabah itu hukumnya wajib, ataukah sunah. Jika wajib, maka tidak boleh mandi janabah sambil diselingi dengan hal yang lain dengan durasi yang cukup lama. Sedangkan bagi yang mengatakan bahwa almuwalahhukumnya sunah, maka boleh.

Mayoritas ulama dari mazhab Hanafiyah, Syafi’iah (qaul jadid) dan Hanabilah mengatakan bahwaalmuwalah dalam mandi janabah hukumnya sunah. Artinya, almuwalahtidak menjadi parameter sah dan tidaknya mandi janabah, sebab ia bukan termasuk rukun. Jika seseorang mandi janabah misalnya, lalu niat dan membasahi sebagian tubuhnya, lalu keluar kamar mandi dan melakukan hal lain, kemudian kembali ke kamar mandi dan menyelesaikan siraman ke sisa tubuh yang lain, mandi janabahnya ini sah menurut ulama dari mazhab ini.

Imam As-Sarakhsi, salah seorang ulama dari mazhab Hanafiyah dalam kitabnya Al-Mabsuth mengatakan :

وإن غسل بعض أعضائه، وترك البعض حتى جف ما قد غسل أجزأه؛ لأن الموالاة سنة عندنا

“Dan bahkan ketika ia membasuh sebagian tubuhnya, dan tidak membasuh sebagian yang lain hingga anggota tubuh yang tadi dibasuh menjadi kering, sebab almuwalahdalam mazhab kami hukumnya sunah.”

Ibnu ‘Abdin yang juga ulama dari mazhab Hanafiyah mengatakan:

سنن الغسل : (قوله: كسنن الوضوء) أي من البداءة بالنية والتسمية والسواك والتخليل والدلك والولاء

“Sunah-sunah mandi janabah sama dengan sunah-sunah di dalam wudu, yakni dari awal dimulai dari niat,basmalah, bersiwak, dan menyela-nyela, memijat, dan muwalah.”

Ibnu Najim dari mazhab Hanafiyah sedikit menyempitkan bolehnya menjeda mandi janabah. Beliau mengatakan bahwa mencicil mandi janabah hukumnya boleh jika ada uzur (alasan yang dibenarkan syariat). Misalnya karena minimnya ketersediaan air di mana airnya tidak cukup digunakan untuk mandi, lalu ia pergi mencari-cari air beberapa saat, lalu melanjutkan mandinya yang tadi belum selesai.

Baca Juga :  Hukum Hewan Kurban yang Belum Disembelih Hingga Lewat Hari Tasyriq

Imam Annawawi, ulama dari mazhab Syafi’iyah menguatkan pendapat ulama dari mazhab Hanafiyah bahwaalmuwalah dalam mandi janabah hukumnya sunah, sebagaimana yang beliau tulis dalam kitab almajmu’:

وأما موالاة الغسل فالمذهب أنها سنة

“Dan adapun muwalah dalam mandi janabah menurut mazhab ini (Syafi’i) hukumnya sunah.”

Begitu juga ulama dari mazhab Hambali, mereka memiliki pendapat yang sama. Imam Almardawi dari mazhab Hanabilah mengatakan:

لا يشترط للغسل موالاة، على الصحيح من المذهب

Muwalah tidak disyaratkan dalam mandi janabah menurut mazhab ini.”

Ibnu Qudamah yang juga dari mazhab Hanabilah menambahkan dalam kitab almugni bahwa almuwalah tidak masuk dalam rukun mandi janabah:

فعلى هذا تكون واجبات الغسل شيئين لا غير : النية، وغسل جميع البدن

“Oleh karena itu, hal-hal yang wajib dilakukan saat mandi janabah hanya dua saja, yakni: niat dan membasuh/menyiram seluruh tubuh.”

Ulama dari mazhab Hanabilah dan salah satu pendapat dari mahab Syafi’i mengatakan bahwa mandi janabah yang terpotong (dijeda oleh hal lain) hukumnya sah, asalkan ketika kembali menyelesaikan mandinya ia wajib memperbarui niat sebelum menyiramkan air pada sisa anggota tubuh lainnya. Sebab niatnya diawal terpotong dengan jeda waktu yang cukup lama.

Di dalam kita almajmu’ sebagian ulama lain dari mazhab Syafi’iyah tidak mewajibkan untuk memperbarui niat saat ia kembali menyelesaikan siraman pada sisa anggota tubuh yang lain.

b. Al-Muwalah Dalam Mandi Janabah Hukumnya Wajib

Ulama dari mazhab Malikiyyah mengatakan bahwa almuwalahhukumnya fardu dalam mandi janabah. Dalam melakukan mandi janabah, seseorang harus menyelesaikan mandinya dalam satu waktu, tanpa harus disela atau dipotong dengan hal yang lain.

Alqarafi, salah satu ulama dari mazhab ini mempertegas dalam kitabnya Adzdzakhirah:

Baca Juga :  Bolehkah Gabungkan Niat Mandi Junub dan Mandi Jumat?

لخامس : الموالاة فرض في الوضوء والغسل خلافا لأحمد بن حنبل

“(Rukun) kelima ; almuwalahhukumnya fardu dalam wudu dan mandi janabah, pendapat ini berbeda dengan pendapat Imam Ahmad bin Hambal.”

Addasuki dari mazhab ini mengatakan bahwa kedudukan almuwalah dalam mandi janabah adalah wajib, selama ia tidak lupa dan tidak ada uzur. Maka, jika di tengah-tengah mandi janabah ia melakukan perbuatan lain dengan durasi yang cukup lama, kemudian ia melanjutkan mandinya, maka mandi janabahnya tidak sah. Akan tetapi, bagi yang punya uzur syar’i seperti ketersediaan air yang sangat minim, atau uzur syar’i lain, maka ia boleh menjeda mandi janabahnya tanpa harus memperbarui niat saat melanjutkan mandi dan menyiram pada sisa angota tubuh lainnya.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here