Bolehkah Menambahkan Doa Saat Shalat yang Tidak Terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadis?

1
1355

BincangSyariah.Com – Shalat lima waktu atau shalat sunah yang biasa kita lakukan tentu memiliki tata cara dan aturan, bacaan apa saja yang harus dan sunah dibaca. Misalnya, membaca Alfatihah dalam setiap rakaat shalat wajib maupun sunah itu harus dibaca. Sementara itu, misalnya membaca subhana rabbiyal ‘azhimi wa bi hamdih saat rukuk itu sunah. Nah, bagaimanakah menambahkan doa pribadi yang bersifat ukhrawi atau pun duniawi saat kita sedang shalat yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadis? Misalnya, menambahkan doa terkait permohonan jodoh, bertambah rezeki, diberi anak, dan sebagainya.

Syekh Ali Jum‘ah Muhammad dalam kumpulan fatwa Darul Ifta al-Mishriyyah mengatakan demikian:

اتفقت المذاهب الفقهية المتبوعة فيما هو المعتمد عندهم على أنه لا يشترط في الصلاة الالتزامُ بنصوص الدعاء الواردة في الكتاب والسنة، وأن ذلك ليس واجبًا ولا متعينًا، وإن كان هو الأفضل إذا وافق ذكر اللسان حضور القلب، وأنه يجوز للمصلي أن يذكر ويدعو في صلاته بغير الوارد مما يناسب الوارد ولا مخالفة فيه .

Mazhab-mazhab fikih yang diikuti sepakat bahwa pendapat yang muktamad menurut mereka itu dalam shalat tidak disyaratkan bersesuaian dengan nas-nas doa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadis. Hal itu tidak wajib dan tidak ditentukan secara khusus, walaupun memang yang lebih utama itu membaca doa yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis bila mampu meresapi bacaan zikir itu ke dalam hati. Selain itu, orang yang shalat itu boleh berzikir dan beroda dalam shalatnya dengan zikiran dan doa apa pun yang semakna dengan doa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadis, dan tidak bertentangan dengannya.

Salah satu dalil yang dikutip Syekh Ali Jum‘ah adalah pendapat Imam Ibnu Hajar al-Asqalin berikut:

Baca Juga :  Doa Ketika Anak Meninggal Lengkap Dengan Arab Latin dan Terjemah

قال الحافظ ابن حجر في “فتح الباري” (2/ 321، ط. دار المعرفة) في شرح قول النبي صلى الله عليه وآله وسلم فيما يدعو به المصلي بعد التشهد: «ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو»: [واستُدِلَّ به على جواز الدعاء في الصلاة بما اختار المصلي من أمر الدنيا والآخرة

Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari saat menjelaskan sabda Nabi mengenai doa yang dibaca setelah tasyahud, “Kemudian orang itu dipersilakan berdoa dengan sesuatu yang mengagumkan dirinya, dan orang itu pun berdoa.” Dari sini dapat disimpulkan mengenai kebolehan doa dalam shalat sesuai kehendak yang bersangkutan, baik doa tentang duniawi atau pun ukhrawi.

Selain itu, dalil lain yang dikutip Syekh Ali Jum‘ah adalah penedapat mazhab Maliki berikut:

وقال الإمام الباجي في “المنتقى شرح الموطأ”: [وهذا كما قال لا بأس بالدعاء في المكتوبة وغيرها من الصلوات؛ يدعو بما شاء من أمر دينه ودنياه؛ سواء كان ذلك من القرآن أو غيره] اهـ.

Al-Imam al-Baji dalam al-Muntaqa syarah al-Muwatha menjelaskan, “Hal ini sebagaimana Imam Malik berkata, “Tidak masalah berdoa dalam shalat maktubah dan lainnya dengan bentuk doa sesuai yang dikehendaki, baik berupa doa ukhrawi atau pun duniawi, baik yang sesuai dengan doa dari Al-Qur’an atau pun mengarang sendiri.

Dari beberapa penjelasan di atas, membaca doa dalam shalat untuk memohon diberikan keistikamahan dalam beribadah, diberikan anak yang saleh dan salihah, atau diberikan rezeki yang berlimpah agar dapat bersedekah ke banyak orang itu diperbolehkan dan tidak membatalkan shalat. Doa tersebut dapat dibaca saat sujud, rukuk, atau tasyahud. Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here