Bolehkah Membersihkan Kencing Bayi dengan Percikan Air?

0
280

BincangSyariah.com – Najis adalah sesuatu yang dianggap kotor yang menjadi sebab terhalangnya seseorang untuk beribadah kepada Allah swt. Namun apakah semua najis itu sama? Bagaimana dengan air kencing bayi, apakah sifat najisnya sama dan bolehkah membersihkan najis air kencing bayi dengan percikan air saja?

Membersihkan dan menghilangkan najis yang paling diutamakan adalah dengan air dan dengan mencucinya, sehingga rasa (at-tho’m), bau (ar-riih), dan warna (al-lawn) hilang. Namun yang jadi pertanyaannya adalah bagaimana dengan air kencing bayi, apakah dengan percikan air sudah cukup untuk menghilangkan najis, mengingat kotoran bayi termasuk najis ringan.

Merawat dan mengasuh bayi yang masih kecil memang membutuhkan perhatian tersendiri, salah satunya adalah bahwa bayi-bayi yang masih kecil ini terbiasa buang hajat kapan pun dalam frekuensi yang sering. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua yang mengasuh dan merawat mereka harus lebih banyak mengerti lagi tentang masalah najisnya .

Memang benar di dalam hadis-hadis nabi disebutkan ada bayi yang kalau mereka buang air kecil tidak perlu dicuci hanya dipercikkan air saja. Namun, bayi yang dimaksud adalah bayi laki-laki yang belum makan apa-apa selain air susu ibu (ASI). Ini didasarkan kepada salah satu hadis,

عَنْ أُمِّ قَيْسٍ بِنْتِ مِحْصَنٍ أَنَّهَا أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا صَغِيرٍ ، لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ، فَأَجْلَسَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى حِجْرِهِ ، فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ

Dari Ummu Qois binti Mihshon, ia datang dengan anak laki-lakinya yang masih kecil dan anaknya tersebut belum mengonsumsi makanan. Ia membawa anak tersebut ke hadapan Rasulullah saw. Beliau lantas mendudukkan anak tersebut di pangkuannya. Anak tersebut akhirnya kencing di pakaian beliau. Beliau lantas meminta diambilkan air dan memercikkan bekas kencing tersebut tanpa mencucinya. (HR. Bukhari no. 223 dan Muslim no. 287).

Baca Juga :  Memahami Esensi Bersuci dalam Islam

Dari hadis ini kita bisa mengetahui bahwa bayi dalam kategori tersebut, cara menyucikan air kencinya tidak dicuci, hanya dipercikkan air saja. Beberapa syarat yang harus dipenuhi adalah,

pertama, bayi itu harus bayi laki-laki bukan bayi perempuan. Apa hikmah dibalik itu? kita serahkan pada Allah. Tetapi kalau bayi perempuan itu harus dicuci, tidak boleh hanya dipercikkan air saja.

Kedua, bayi itu belum makan sesuatu kecuali air susu ibunya.

Ketiga, bayi ini usianya belum lagi melebihi 2 tahun. Jika dia sudah lebih dari 2 tahun lalu dia mengompol, maka air kencingnya ini tetap wajib dicuci sehingga hilang baunya, rasanya atau juga warnanya. Ini didasarkan kepada sebuah hadis,

يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلاَمِ

Air seni anak perempuan itu dicuci, sedangkan air seni anak laki-laki itu dipercikkan. (HR. Abu Daud no. 377, An Nasa’i no. 303,).

Wallahu A’lam



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here