Bolehkah Imam dan Khatib Berbeda Orang saat Salat Jumat?

0
1099

BincangSyariah.Com – Salat Jumat merupakan tradisi wajib umat Islam laki-laki ketika datang hari Jumat. Pada hari ini, seluruh umat Islam laki-laki yang akil balig dan bermukim (bukan musafir) wajib mengganti salat Zuhurnya yang berjumlah empat rakaat dengan salat Jumat yang hanya dua rakaat.

Namun demikian, subsidi dua rakaat itu tidaklah gratis. Pada praktiknya, ia digantikan oleh dua khutbah sebelum salat Jumat dilangsungkan. Seperti halnya salat Jumat yang disyaratkan harus 40 orang, khutbah Jumat juga disyaratkan harus didengar oleh 40 orang (Sulam al-Taufiq h. 24).

Di banyak tempat, seorang khatib (orang yang melakukan khutbah) Jumat sekaligus juga bertindak sebagai imam Jumat. Namun, di banyak tempat lain, tidaklah demikian. Orang yang menjadi imam Jumat justru bukanlah orang yang menjadi khatib. Bolehkah hal semacam ini terjadi?

Dalam beberapa referensi, hal semacam ini dihukumi boleh-boleh saja. Akan tetapi dengan syarat sang imam mendengar khutbahnya khatib sebelumnya.

Dalam kitab Hasyiyah al-Jamal disebutkan:

لَوْ خَطَبَ شَخْصٌ وَأَرَادَ أَنْ يُقَدِّمَ شَخْصًا غَيْرَهُ لِيُصَلِّيَ بِالْقَوْمِ فَشَرْطُهُ أَنْ يَكُوْنَ مِمَّنْ سَمِعَ الْخُطْبَةَ

“Jika seseorang membacakan khutbah lantas ia menghendaki untuk mengajukan orang lain untuk menjadi imam salat, maka disyaratkan ia merupakan orang yang mendengar khutbah.”

Dalam Bughyah al-Mustarsyidin juga disebutkan:

وَإِنِ اسْتَخْلَفَ فِي الْخُطْبَةِ مَنْ سَمِعَ أَوْ خَطَبَ وَأَمَّ مَنْ سَمِعَهَا صَحَّ لَكِنِ الْاِسْتِخْلَافُ خِلَافُ الْأَوْلَى

“Jika sang khatib posisinya sebagai khatib digantikan oleh orang yang mendengarkan khutbah atau ia tetap menjadi khatib namun yang mengimami salat ialah orang lain yang mendengarkan khutbah, maka hukumnya sah. Namun penggantian khatib di tengah-tengah khutbah dihukumi kurang baik.”

Baca Juga :  Menurut Mazhab Syafi'iyyah, Ini Hukum Bermakmum Pada Imam yang Beda Mazhab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here