Bolehkah Berwudhu Dengan Cara Menyelam?

1
914

BincangSyariah.Com –  Dalam mazhab Syafi’i, rukun terakhir dari wudhu’ adalah tertib. Artinya, seorang yang melaksanakan wudhu’ harus berurutan ketika melaksanakan rukun atau fardhu’ wudhu yang pertama hingga ke lima, yakni niat, membasuh muka, membasuh kedua tangan hingga siku, mengusap sebagian kepala dan terakhir membasuh kaki hingga mata kaki.

Akan tetapi, yang menjadi permasalahan adalah ketika muncul kasus atau perisitiwa dimana seseorang yang berwudhu dengan cara menyelam ? bagaimana ulama fikih menanggapi hal ini?

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al–Malibari, salah satu ulama’ yang sangat populer dikalangan pesantren, pernah membahas permasalahan ini dalam kitab monumentalnya, yakni Fathul Mu’in bis Syarhi Qurrotul A’in. Beliau menyebutnya dengan teks bahasa arab seperti ini :

وَلَوْ انْغَمَسَ مُحْدِثٌ  وَلَوْ فِيْ مَاءٍ قَلِيْلٍ بِنِيَّةٍ مُعْتَبَرَةٍ مِمَّا مَرَّ أَجْزَأَهُ عَنِ الْوُضُوْءِ زَمَنًا يُمْكِنُ فِيْهِ التَّرْتِيْبُ

“Andaikan seorang yang berhadats menyelam (sekalipun pada air yang kurang dari dua kulah) dengan berniat yang mu’tabaroh, maka wudhu’nya sudah sah dengan waktu yang memungkin untuk melaksanakan tertib.”

Dari keterangan sudah jelas, bila ada seseorang yang berwudhu’ dengan cara menyelam itu hukumnya sah, asalkan ia berwudhu’ dengan niat yang mu’tabaroh (niat yang dianggap dalam fikih). Para ulama telah menjelaskan yang dimaksud niat–niat yang dianggap dalam fikih, diantaranya adalah niat wudhu’, niat fardhu wudhu’, niat menghilangkan hadats, niat bersesuci untuk perkerjaan yang tidak sah kecuali harus dengan wudhu’, atau niat melaksanakan pekerjaan yang membutuhkan kepada wudhu’ seperti sholat dan lain sebagainya.

Tidak berhenti disini, dalam kebolehan berwudhu’ dengan cara tenggelam pada air yang sedikit (kurang dari dua kulah/270 liter), Syekh Abu Bakr Utsman bin Syattha Ad–Dimyathi memberikan catatan pinggir (hasiyah) dalam karyanya yang berjudul I’anatut Thalibin. Dalam jus pertama beliau memberikan keterangan seperti ini,

Baca Juga :  Ini Jumlah Rakaat Shalat Tahiyatul Masjid

 وَلَو فِيْ مَاءٍ قَلِيْلٍ غَايَةٌ لِمَقْدَرٍ أَيْ اِنْغَمَسَ فِيْ مَاءٍ مُطْلَقٍ وَلَوْ كَانَ قَلِيْلًا لَكِنْ مَحَلُّ الْإِكْتِفَاءِ بِالْإنْغِمَاسِ فِيْهِ كَمَا فِيْ الْكُرْدِي فِيْمَا إِذَا نَوَى الْمُحْدِثُ بَعْدَ تَمَامِ الْإِنْغِمَاسِ رَفْعَ الْحَدَثِ وَاِلَّا ارْتَفَعَ الْحَدَثُ عَنِ الْوَجْهِ فَقَطْ اِنْ قَارَنَتْهُ النِّيَةُ وَحُكِمَ بِاسْتِعْمَالِ الْمَاءِ

(Sekalipun berwudhu’ di air yang sedikit) adalah puncak pada ukuran. Artinya, seseorang berwudhu’ (itu hukumnya sah) di air mutlak sekalipun airnya kurang dari dua kulah. Akan tetapi, tempat kecukupan (sah)nya wudhu’ dengan cara menyelam adalah apabila seseorang itu berniat menghilangkan hadats setelah ia sempurna tenggalam. Apabila tidak sampai sempurna, maka hanya hadats di wajah saja yang hilang. Sekalipun ia melakukannya dengan membarengkan niat dan airnya dihukumi air musta’mal.

Dari keterangan diatas dapat dipahami bahwa seseorang yang berwudhu’ dengan cara menyelam pada air yang sedikit (kurang dari dua kulah) adalah ketika ia berniat menghilangkan hadats disaat sudah sempurna tenggelam seluruh badannya.

Apabila tidak dengan cara demikian, maka hanya hadats wajahnya yang hilang dan ia wajib menghilangkan hadats anggota wudhu’ lainnya dengan cara yang sah. Karena air yang ia gunakan untuk menyelam saat itu telah menjadi air mustam’al (air yang telah digunakan untuk bersesuci). Dan air musta’mal itu tidak dapat digunakan untuk bersesuci.

Terakhir, Syekh Abu Bakar bin Syattha Ad–Dimyathi memberikan alasan kenapa wudhu’ dengan cara tenggelam itu sah karena tertib itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat.

Wallahu A’lam bis Shawab..

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here