Bolehkah Bermakmum pada Orang yang Tidak Fasih Baca Alquran?

4
7864

BincangSyariah.Com- Pada saat kita bermakmum seringkali dihadapkan pada kenyataan bahwa imam yang sedang memimpin salat kurang bagus bacaan Alqurannya. Padahal, kita sudah belajar di pesantren tentang tahsin dan tajwid cara membaca Alquran dengan baik dan benar.

Bahkan dalam hadis Nabi Saw. disebutkan bahwa membaca Alquran, yakni surah al-Fatihah, adalah bagian dari rukun solat yang wajib dibacakan. Bunyi hadis tersebut adalah:

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابْ

“Tidak ada salat (tidak sah salatnya) bagi orang yang tidak membaca surat al-Fatihah” (HR. Bukhari).

Semengtara itu, dalam hadis yang lain disebutkan bahwa syarat orang yang menjadi imam adalah orang yang paling fasih bacaannya. Sebagaimana riwayat Imam Abu Dawud dan Ibnu Majah:

لِيُؤَذِّنْ لَكُمْ خِيَارُكُمْ، وَلْيَؤُمَّكُمْ قُرَّاؤُكُم

“Hendaklah azan orang yang terpilih di antara kalian, dan menjadi imam orang yang paling fasih (qurra) di antara kalian.”

Lantas bagaimana hukum bermakmum kepada imam yang kurang fasih membaca Alquran terutama surat al-Fatihah?

Terkait dengan hal ini, Imam al-Nawawi dalam kitab Raudlat al-Thalibin wa ‘Umdat al-Muftin telah merinci penjelasan mengenai hukum bermakmum kepada imam yang tidak bias/baik membaca al-Fatihah.

فَإِنْ أَخَلَّ بِأَنْ كَانَ أُمِّيًّا، فَفِي صِحَّةِ اقْتِدَاءِ الْقَارِئِ بِهِ ثَلَاثَةُ أَقْوَالٍ. الْجَدِيدُ الْأَظْهَرُ: لَا تَصِحُّ. وَالْقَدِيمُ: إِنْ كَانَتْ سِرِّيَّةً صَحَّ، وَإِلَّا فَلَا. وَالثَّالِثُ: مُخَرَّجٌ أَنَّهُ يَصِحُّ مُطْلَقًا.

“Jika orang yang menjadi Imam itu adalah yang tidak bisa membaca Alquran/al-Fatihah (Ummy), maka hukum sah salat bagi makmum yang lebih fasih ada tiga pendapat: pendapat pertama jadid tidak sah, sedang pendapat kedua sah jika sedang salat sirriyyah (tidak mengeraskan suara: Zuhur, Ashar), jika salat jahriyyah (Subuh, Magrib, Isya) tidak sah. Adapun pendapat ketiga, pendapat paling lemah (mukharraj/dha’if), sah secara mutlak”.

Baca Juga :  Anjuran Melakukan Takziyah

Dari keterangan di atas, Imam al-Nawawi selanjutnya menjelaskan bahwa ia lebih cenderung kepada pendapat yang pertama yakni tidak sah.

Akan tetapi, penulis berpendapat jika kita terlanjur bermakmum, tetapi tidak ingin membuat imam tersinggung, alangkah baiknya niat mufarraqah (berniat memisahkan diri dari jamaah) dan tetap mengikuti gerakan salat sesuai ritme imam. Agar hubungan sosial tidak rusak dengan berupaya sebisa mungkin mengajak si imam untuk belajar kembali membenarkan bacaan Alqurannya.
Wallahu A’lam.

4 KOMENTAR

  1. jawaban sebaiknya tetap punya referensi seperti jawaban saudara.tidak usah pakai jawaban ‘ hemat penulis’ ,tanpa punya referensi.jika mufaroqoh tetapi gerakan tetap mengikuti mantan imam,bukankah tidak sah sholat mengikuti gerakan orang,tanpa berniyat makmum padanya?
    sebagaimana disemua literasi fiqh.

  2. Assalamualaikum, nama saya aziz rifai, sayan kebetulan baru pindah kesebuah kontrakan yg sebelumnya saya bertempat tinggal bersama mertua, setiap kali saya ergi kemasjidaya mendapati seorang imam yg bacaan alfatihahnya berantakan sekali, dari panjang pendek, maghorijul huruf, serta tajwidnya sangat2 melenceng.. tarinya saya selalu ikut berjamaah namun semakin hari hati semakin tak yakin, karna beliau sang imam selalu langaung ke arah pengimaman ketika qomat sedang berkumandang, warga pun satu2 pernah saya tanyakan tentang pendapat bacaan sang imam, namun mereka selama ini tak pernah memperhatikan bacaan imam.. saat ini saya tak pernah lagi kemasjid padahal hati saya selalu ingin pergi kemasjid, ingin rasanya pergi kemasjid yg lebih jauh dari masjid tersebut, namun saya takut membuat tersinggung sang imam.. bagaimana pendapatnya tadz..

  3. Banyak sbtulnya yg nemui kasus sprti itu trmasuk saya..berimam pd org yg maksa jadi imam tapi bacaanya belepotan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here