Bolehkah Berkurban Atas Nama Lembaga?

0
2039

BincangSyariah – Kurban merupakan di antara ibadah sunah yang dianjurkan bagi orang yang memiliki rezeki berlebih, baik perorangan maupun lembaga. Dalam konteks Indonesia, yang terjadi biasanya sebuah lembaga/perusahaan menyumbangkan hewan kurban kepada masjid atau komunitas masyarakat tertentu. Ini sebagai bentuk kepedulian sosial dari lembaga kepada masyarakat (kepedulian sosial/social responsibility) atau kepada masjid sebagai pengkoordinir ibadah kurban.

Contoh lain misalnya sebuah lembaga – dan biasanya sekolah dengan alasan untuk mendidik para siswa untuk belajar berkurban – melakukan iuran bersama untuk membeli hewan kurban tertentu.
Dua contoh di atas memiliki pola yang sama yaitu tidak adanya nama perseorangan yang diatasnamakan hewan kurban. Jika kondisinya seperti ini, apakah hewan kurbannya menjadi sah?
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa konsep hewan (al-an’aam) memiliki ukuran berapa orang yang bisa diatasnamakan untuk seekor hewan. Untuk hewan jenis sapi, kerbau, unta, atau yang setara dengan keduanya bisa digunakan untuk berkurban tujuh orang. Sementara untuk jenis kambing atau domba, maka hanya untuk satu orang. Kedua ukuran ini berdasarkan riwayat dari hadis Nabi saw. dalam riwayat Imam Muslim,

خرجنا مع رسول الله صلّى الله عليه وسلم مهلين بالحج، فأمرنا رسول الله صلّى الله عليه وسلم أن نشترك في الإبل، والبقر، كل سبعة منا في بدنة

“Kami keluar bersama Rasulullah saw. dalam kondisi beribadah haji. Kemudian, Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk berkelompok di setiap unta dan sapi. Setiap tujuh orang dari kita berkurban dengan satu hewan (unta atau sapi).”

Adapun jika sebuah lembaga bisnis/perusahaan ingin menyalurkan bantuan sosialnya dengan nama hewan kurban, maka solusinya bisa dengan cara menyebutkan orang yang diatasnamakan atas hewan kurban tersebut. Maka, hewan kurban tersebut statusnya menjadi sah.
Adapun dalam kasus iuran hewan kurban dengan jumlah orang yang menyumbang lebih dari satu atau tujuh orang. Solusinya hampir mirip dengan kasus yang pertama. Hanya saja, orang yang diatasnamakan tersebut disuruh meniatkan agar pahala berkurbannya diniatkan untuk para penyumbang sebagaimana dijelaskan dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin:

) مَذْهَبُ الشَّافِعِي وَلاَ نَعْلَمُ لَهُ مُخَالِفًا عَدَمَ جَوَازِ التَضْحِيَّةِ بِالشَّاةِ عَنْ أَكْثَرَ مِنْ وَاحِدٍ … إِلَى أَنْ قَالَ قَالَ الخَطِيْبُ وَ م ر وَغَيْرُهُمَا لَو أَشْرَكَ غُيْرُهُ فِى ثَوَابِ أُضْحِيَةِ كَأَنْ قَالَ عَنِّى وَعَنْ فُلاَنٍ أَوْ عَنْ أَهْلِ بَيْتِى جَازَ وَحَصَلَ الثَوَابُ لِلْجَمِيْعِ

Baca Juga :  Kurban; Antara Seremonial dan Proses Humanisasi

Mazhab Syafi’i dan kami tidak tahu mazhab lain yang berbeda pendapat (dengan mazhab Syafi’i), bahwa tidak boleh berkurban dengan kambing atas nama lebih dari satu orang … al-Khatib (al-Syirbini), al-Ramli, dan selain keduanya berkata, kalau selain orang yang diatasnamakan tersebut menyertakan pahala hewan kurbannya seperti mengatakan “hewan kurban ini (kutujukan) untukku dan untuk fulan dan bagi keluargaku”, maka itu boleh dan pahalanya didapat oleh semuanya.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here