Bolehkah Berbicara Saat Tawaf?

0
844

BincangSyariah.Com – Tawaf merupakan salah satu komponen yang harus dilaksanakan di dalam pelasanaan haji atau umrah. Ibadah ini dilakukan dengan cara mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali. Lalu, bagaimana hukumnya berbicara di tengah melaksanakannya?

Berbicara di sela-sela melaksanakan tawaf itu boleh dan tidak berdosa, selama apa yang dibicarakan adalah hal yang boleh atau dibutuhkan. Sementara jika tidak ada kebutuhan atau kepentingan untuk berbicara, maka lebih baik ditinggalkan.

Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan hadis, Nabi saw. bersabda:

  «الطَّوَافُ حَوْلَ الْبَيْتِ مِثْلُ الصَّلاةِ؛ إِلا أَنَّكُمْ تَتَكَلَّمُونَ فِيهِ، فَمَنْ تَكَلَّمَ فِيهِ فَلا يَتَكَلَّمَنَّ إِلا بِخَيْرٍ»

“Tawaf (mengelilingi) sekitar Baitullah (Ka’bah) adalah seperti salat, kecuali sungguh kalian berbicara di dalamnya. Oleh karena itu, siapa yang berbicara ketika tawaf, maka (hendaknya) dia tidak berbicara kecuali tentang kebaikan.” (HR. Al Tirmidzi dan Al Hakim).

Imam An Nawawi di dalam kitab Al Majmu’ Syarh Muhadzab berkata:

فَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ يَجُوزُ الْكَلَامُ فِي الطَّوَافِ وَلَا يَبْطُلُ بِهِ وَلَا يُكْرَهُ لَكِنَّ الْأَوْلَى تَرْكُهُ إلَّا أَنْ يَكُونَ كَلَامًا فِي خَيْرٍ كَأَمْرٍ بِمَعْرُوفٍ أَوْ نَهْيٍ عَنْ مُنْكَرٍ أَوْ تَعْلِيمِ جَاهِلٍ أَوْ جَوَابِ فَتْوَى وَنَحْوِ ذَلِك

“Imam Syafii dan murid-muridnya mengatakan bahwa berbicara di dalam tawaf itu boleh, tidak membatalkan tawaf dan tidak dimakruhkan, tetapi lebih utama ditingalkan kecuali pembicaraan tentang kebaikan seperti memerintahkan kebajikan, mencegah kemungkaran, mengajari orang yang belum tahu, menjawab fatwa dan lain sebagainya.”

Imam Ibnu Qudamah di dalam kitab Al Mughni juga mengatakan:

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَدَعَ الْحَدِيثَ -أي في الطواف-؛ إلا ذِكْرَ اللهِ تَعَالَى، أَوْ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ، أَوْ أَمْرًا بِمَعْرُوفٍ، أَوْ نَهْيًا عَنْ مُنْكَرٍ، أَوْ مَا لا بُدَّ مِنْهُ؛ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وآله وسلم: «الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلاةٌ، فَمَنْ تَكَلَّمَ فَلا يَتَكَلَّمُ إلا بِخَيْرٍ

Baca Juga :  Rutinitas Nabi Saw di Hari Jumat

“Disunnahkan meninggalkan perkataan, yakni ketika di dalam tawaf kecuali dzikir kepada Allah, membaca Al Qur’an, memerintahkan kebajikan, mencegah kemungkaran atau sesuatu yang harus diucapkan. Karena Nabi saw. bersabda: Tawaf di baitullah itu (seperti) shalat, oleh karena itu siapa yang berbicara, maka hendanya ia tidak berbicara kecuali tentang kebaikan.”

Demikianlah hukum berbicara ketika tawaf, yakni diperbolehkan tetapi pembicaraan tentang kebaikan dan dibutuhkan. Dan sebaiknya tidak mengatakan hal-hal yang tidak baik atau hal yang tidak diperlukan ketika melakukannya. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here