Bertayamum Ketika Sakit, Bolehkah?

0
69

BincangSyariah.Com – Shalat adalah ibadah yang wajib dilaksanakan oleh umat islam dalam kondisi apapun. Dan syariat islam telah mengeluarkan seperangkat aturan dalam mengatur kewajiban sholat agar mampu dan sesuai diterapkan dalam kehidupan seorang muslim. Semisal bila kita tidak mampu menemukan air yang digunakan berwudhu’ untuk melaksanakan sholat, maka sudah ada tayammum sebagai jalan keluar mengatasi permasalahan ini.

Tapi, bagaimana bila kasusnya dalam keadaan ada air akan tetapi kondisi sangat tidak memungkinkan untuk berwudhu’, Misalnya dalam kondisi sakit. Maka, bolehkah bertayamum ketika sakit, dan adakah batasan-batasan kebolehannya?

Untuk menjawab permalasahan ini, kita perlu mengetahui boleh tidaknya bertayammum ketika dalam kondisi sedang sakit. Banyak ulama yang telah menerangkan dan menjawab pertanyaan ini. diantaranya yang ada di dalam kitab Fathul Qorib, Syekh Ibnu Qosim al–Ghozi menerangkan bahwasanya diantara syarat bolehnya tayammum ialah udzur menggunakan air.

(وَ) الرَّابِعُ : (تَعَذُّرُ اسْتِعْمَالِهِ) أَيْ الْمَاءِ بِأَنْ يُخَافَ مِنْ اسْتِعْمَالِهِ الْمَاءَ عَلَى ذِهَابِ نَفْسٍ أَوْ مَنْفَعَةِ عُضْوٍ

yang keempat ialah udzur menggunakan air dengan sekiranya dikhawatirkan apabila menggunakan air dapat menghilangkan nyawanya atau hilang kemanfaatan anggota badannya.

Sedang di dalam kitab tuhfatut tullab bi syarhi tahrir tanqihul lubab, syekh Zakariya Al–Anshor menerangkan redaksi “khawatir atau takut” dengan kalimat lain.

(أَوْ خَافَ مِنْ اسْتِعْمَالِهِ تَلَفَا) لِنَفْسِهِ أَوْ غَيْرِهَا (أوْ) خَافَ مِنْهُ (بُطْءُ بُرء) أي طُوْل مُدتِهِ (أَوْ زِيَادَة مَرَضٍ أَو حُصُول شِيْنٍ فَاحِشٍ بِعُضْوٍ ظَاهِرٍ)

atau ia khawatir dari menggunakan air dapat merugikan dirinya atau orang lain, atau telat untuk sembuh dari penyakit. Artinya,semakin lama masanya (dalam keadaan sakit).  Atau sakitnya semakin parah dan atau malah terjadi cacat pada anggota badannya yang luar.

Dalam ungkapan diatas sudah jelas, bahwasanya diantara kebolehan melakukan tayammum sebagai ganti dari wudhu’ ialah ketika sakit. Dalam artian, ketika kita sakit dan hendak menggunakan air untuk wudhu’, maka di khawatirkan akan terjadi sakitnya yang tidak kunjung sembuh, sakitnya semakin parah atau bahkan muncul aib atau cacat pada anggota badannya.

Baca Juga :  Kritik Hadits Keutamaan Shalat Memakai Sorban

Lalu, Syekh Zakariya Al–Anshori melanjutkan dengan menjelaskan yang dijadikan landasan dan pertimbangan dalam permalasahan ini sebagaimana berikut :

وَيُعْتَمَدُ فِى الْخَوْفِ قَوْلُ عَدْلٍ فِى الرِّوَايَةِ

dan yang dijadikan landasan dalam permasalahan kekhawatiran ini adalah ucapan dari orang yang adil periwayatannya.

Hal ini juga senada sebagaimana yang ditulis oleh Syekh Ibrahim Al–Baijuri dalam Hasiyah Syekh Ibrohim AlBaijuri. Beliau menulis sebagaimana berikut :

وَيُعْتَبَرُ فِى الْخَوْفِ قَوْلُ طِيْبٍ عَدْلٍ فِى الرِّوَايَةِ وَ يُعْمَلُ بِمَعْرِفَتِهِ لَا بِتَجْرِبَتِهِ عَلِى الْمُعْتَمَدِ كَمَا تَقَدَّمَ فِى الْمَرَضِ

dan yang dipertimbangkan dalam (kategori) khawatir ialah ucapan dari seorang dokter yang adil dalam periwayatan dan ucapan dokter itu diamalkan karena pengetahuannya. Bukan karena percobaannya menurut pendapat yang dijadikan pegangan sebagaimana penjelasan yang telah lalu didalam menjelaskan permasalahan sakit.

Kesimpulannya, ketika sakit, kita boleh mengganti wudhu’ dengan tayammum dengan ketentuan muncul kekhawatiran apabila kita menggunakan air akan dapat menyebabkan sakit yang tak kunjung sembuh, sakit yang semakin parah atau bahkan muncul cacat pada anggota dhohirnya. Akan tetapi, kekhawatiran tersebut disahkan dengan adanya ucapan atau rekomendasi dari seorang dokter yang adil periwayatannya.

Sekian. Terima kasih. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here