Bermakmum Shalat pada Imam Fasik, Apakah Shalatnya Sah?

0
1962

BincangSyariah.Com – Ketika kita hendak melaksanakan shalat berjemaah, kita dianjurkan untuk bermakmum pada imam yang fasih dan sholeh. Namun dalam kondisi tertentu kita terpaksa harus bermakmum pada imam fasik. Misalnya, tidak ada shalat berjemaah lain kecuali shalat berjemaah yang diimami oleh imam fasik tersebut. Bagaimana hukum bermakmum pada imam fasik, apakah sah? (Imam Lupa Niat Imaman Lillahi Ta‘ala, Apakah Mendapatkan Keutamaan Shalat Berjemaah?)

Dalam fiqih, kata fasik biasanya ditujukan untuk orang yang senantiasa melakukan perbuatan dosa kecil atau pernah melakukan dosa besar tanpa ada i’tikad untuk bertaubat. Namun, jika sudah bertaubat, maka tidak disebut dengan orang fasik lagi.

Menurut Imam Al-Syairazi, bermakmum pada imam fasik hukumnya diperbolehkan dan shalat tetap dihukumi. Selama orang fasik tersebut masih dipastikan sebagai muslim, maka bermakmum padanya dibolehkan. Bahkan Ibnu Umar pernah bermakmum pada imam fasik, yaitu Hajjaj bin Yusuf yang sudah terkenal dengan kefasikannya. Ini menunjukkan bahwa bermakmum pada imam fasikh boleh dan sah.

Imam Al-Syairazi berkata dalam kitab Al-Muhadzdzab sebagai berikut;

وتجوز الصلاة خلف الفاسق لقوله صلى الله عليه وسلم  صلوا خلف من قال لا إله إلا الله وعلى من قال لا إله إلا الله  ولان ابن عمر رضي الله عنهما صلى خلف الحجاج مع فسقه

Boleh melaksanakan shalat (bermakmum) pada imam fasik. Ini berdasarkan hadis Nabi Saw, ‘Shalatlah kalian dibelakang orang yang mengucapkan ‘laa ilaaha illallaah’ dan atas orang yang mengucapkan ‘laa ilaaha illallaah’. Selain itu, Ibnu Umar pernah shalat dibelakang Hajjaj bin Yusuf yang terkenal dengan kefasikannya.

Meskipun boleh dan sah, namun para ulama mengatakan bahwa bermakmum pada imam fasik hukumnya makruh. Jika karena tidak terpaksa, maka sebaiknya mencari imam lain yang sekiranya lebih wara’ dan lebih shaleh. Ini berdasarkan hadis riwayat Imam Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah, Nabi Saw bersabda;

Baca Juga :  Mengambil Berkah Al-Qur'an untuk Berobat

لا تؤمن امرأة رجلا، ولا يؤم أعرابي مهاجرا، ولا فاجر مؤمنا إلا أن يقهره بسلطان يخاف سيفه وسوطه

Seorang perempuan tidak boleh mengimami seorang lelaki, begitu pula seorang a’rabi (badui) tidak boleh mengimami seorang muhajir dan seorang yang fajir (fasik) tidak boleh mengimami seorang mukmin. Kecuali (seorang mukmin) dipaksa dengan kekuasaan (yang dimiliki oleh si fasik), dimana seorang mukmin tersebut takut akan ditebas oleh pedangnya dan dicambuk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here