Berdoa dengan Bahasa Asing yang Tak Dipahami Maknanya, Bagaimana Hukumnya?

0
330

BincangSyariah.Com – Bagi seorang muslim, selain salah satu bentuk ibadah, doa juga merupakan kebutuhan baginya. Semakin dalam penghayatan seseorang terhadap Islam, dia akan semakin sadar bahwa dirinya tak mempunyai daya apa-apa, dengan begitu dia akan semakin banyak berdoa, entah untuk kemaslahatan duniawi mauphn ukhrawi. Maka tidak heran jika dikatakan

الدعاء سلاح المؤمن

Doa adalah senjata bagi orang yang beriman

Allah pun menyukai hambanya yang gemar berdoa, sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan Imam Al-Thabrani

إن الله يحب الملحين بالدعاء

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang terus-menerus berdoa

Dalam berdoa, banyak bacaan yang bisa kita amalkan, baik yang diriwayatkan dari Nabi (ma’tsur), dari para ulama, atau berdoa menggunakan bahasa sendiri. Kita dianjurkan untuk selektif dalam memilih amalan yang kita baca dalam berdoa, jika bacaan tersebut mengandung kalimat yang tidak diketahui maknanya, maka alangkah baiknya untuk tidak diamalkan. Al-Habib Abdullah Al-Haddad pernah ditanya mengenai hal ini, yaitu hukum berdzikir dan berdoa dengan bahasa selain arab yang tidak diketahui maknanya oleh orang yang melafalkannya, beliau menjawab

أن مثل ذلك إذا وقع في خلال أدعية المحققين من العارفين الجامعين بين العلم واليقين، مثل الإمام الغزالي والشيخ السهروردي والشيخ أبي الحسن الشاذلي وأضرابهم نفع الله بهم ورضي الله عنهم. فما على الذاكر بذلك والداعي به من بأس. وهم مقلدون فيه وهم أهل التقليد والأمانة

وأما إذا وقع في كلام من ليس بهذه المثابة فلا ينبغي أن يذكر به حتى يعرف معناه ، فإنه ربما كان ذلك كفراً أو قريبا منه كما قاله بعض المحققين

Sesungguhnya hal yang demikian itu, jika terdapat pada doanya para ulama yang arif, memiliki ilmu dan keyakinan pada Allah tinggi seperti Imam Al-Ghazali, Syaikh Al-Suhrowardi, Syaikh Abu Hasan Al-Syadzili, dan sesamanya, maka boleh diamalkan, karena beliau-beliau adalah para ulama yang terpercaya serta sah untuk diikuti. Namun jika kalimat tersebut didapati dari orang yang tidak seperti beliau-beliau, maka sebaiknya tidak diamalkan, karena dikhawatirkan kalimat-kalimat tersebut memiliki makna yang bisa menyebabkan kekufuran atau mendekatinya, sebagaimana telah dijelaskan oleh sebagian ulama

Baca Juga :  Rasulullah Ajarkan Doa Sebelum Tidur Ini

Penjelasan tersebut dapat dilihat dalam kitab Al-Nafais Al-Ulwiyyah, sebuah kumpulan fatwa Al-Habib Abdullah Al-Haddad tentang permasalahan tasawuf. Dari penjelasan Al-Habib Abdullah Al-Haddad di atas, pada intinya adalah berhati-hati agar tidak terjebak ke dalam kekufuran, jangan sampai doa yang seharusnya menjadi media seorang hamba untuk mendekat kepada Allah, justru menjadi lembah ketersesatannya. Dari sini dapat disimpulkan, jika seseorang berdoa dengan selain bahasa arab namun dia tau maknanya bukanlah hal yang bisa menyebabkan kufur, atau tidak tahu maknanya, namun doa tersebut diriwayatkan dari ulama dengan kriteria di atas, maka hukumnya diperbolehkan. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here