Berbuka Puasa Dengan Minuman Keras, Bagaimana Hukumnya?

0
1183

BincangSyariah.Com – Bagi sebagian orang, buka puasa merupakan momen yang paling dinanti-nanti oleh orang yang berpuasa. Setelah seharian menahan lapar dan haus, tibalah waktu kebolehan menyantap makanan kembali. Tentu itu menjadi secercah kebahagiaan tersendiri bagi kita yang melaksanakannya. Hal itu sangatlah wajar dan manusiawi. Bahkan, Nabi saw. sendiri pun mengakui ini.

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan 2 kebahagiaan: Bahagia saat waktu berbuka dan bahagia saat bertemu Tuhannya disebabkan puasanya. (HR. Bukhari Muslim)

Bagi Nabi, beberapa butir kurma dan air putih sudah cukup untuk dijadikan santapan berbuka puasa. Berbeda dengan sebagian orang-orang di Indonesia, menu makanannya sangat beragam. Ada yang berbuka dengan Takjil, seperti gorengan, kue, dan es teh manis. Ada juga yang langsung makan berat, Nasi dan lauknya.

Hal-hal di atas, tentu merupakan hal yang biasa di kalangan kita. Namun, bagaimana jadinya jika berbuka puasa dengan minuman keras (khamr) ? Padahal kita ketahui bahwa meminum Khamr merupakan hal yang dilarang dalam agama.

Syeikh ‘Ali Jum’ah, mantan mufti Mesir, memberikan pandangan menarik terkait hal ini. Dalam program acara televisi CBC (salah satu Channel TV di Mesir), yang berjudul Min Mishr  yang disiarkan pada tanggal 15 April 2020, Syeikh Ali Jum’ah berkata:

الإفطار على خمر لا يبطل الصيام

Berbuka puasa dengan minum Khamr tidaklah membatalkan puasanya

Maksudnya, orang yang berbuka puasa dengan cara meminum Khamr, puasanya tetap dianggap sah. Namun, lanjut Syeikh ‘Ali Jum’ah, hanya saja orang tersebut terkena dosa. Alasan beliau mengatakan demikian adalah

إن الدين يحرم المعصية ولا يربطها العبادة

Meskipun agama itu mengharamkan maksiat, akan tetapi kemaksiatan yang ia kerjakan itu tidak ada kaitannya dengan ibadah yang ia kerjakan.

Alasan beliau cukup logis. Bahkan, beliau menganalogikan dengan kasus lainnya, kita ketahui ber-Tabarruj (bersolek/dandan berlebihan yang dapat mengundang syahwat) itu diharamkan, apakah disebabkan karena orang tersebut ber-Tabarruj menjadikan puasa Ramadhannya itu haram untuk dirinya? Tentu tidak. Sebab, pelanggaran yang dilakukannya itu, tidak ada hubungannya dengan ibadah-ibadah. Begitu pula dengan kasus orang yang berbuka puasa dengan cara meminum Khamr. Maka, puasanya tetap dianggap sah, dan meminum Khamr merupakan urusan lain yang tidak ada hubungannya dengan puasanya.

Dalam pandangan Syeikh Ali Jum’ah, ketika seseorang mengerjakan ibadah, maka oleh Allah tentu itu akan dinilai ibadah dan ketika seseorang mengerjakan maksiat, maka akan dinilai maksiat. Tidak ada ceritanya seorang pejabat yang Shalat 5 waktu, Shalatnya menjadi tidak sah, karena dia merupakan seorang koruptor. Tentu tidak demikian. Perkara korupsi dan Shalatnya merupakan 2 hal yang berbeda dan tidak ada sangkut pautnya.

Lebih lanjut, Syeikh Ali Jum’ah menambahkan,

هل من المنقول أن نقول لأحد: لا تصم لأنك تشرب الخمر، بل نقول له: ما دمت صائما فلا تشرب الخمر، ونأمره بالمعروف وننهاه عن المنكر، ولا نحكم عليه شيئ

Apakah termasuk hal yang logis, bahwasanya kita berkata kepada seseorang: “Engkau tidak dianggap berpuasa (tidak sah puasanya), karena engkau meminum Khamr.” Akan tetapi, kita harus mengatakan kepadanya: “Engkau kan tadi berpuasa (hal kebaikan), maka seharusnya engkau tidak meminum Khamr (hal keburukan).” Itu menjadi ladang Amar-Ma’ruf Nahi-Munkar untuk kita dan jangan kita hukumi apapun terhadapnya.

Demikianlah pandangan Syeikh Alî Jum’ah mengenai orang yang berbuka puasa dengan cara meminum Khamr. Pandangan yang cukup menarik, dan boleh jadi sebelumnya tidak pernah terlintas dibenak kita mengenai kasus tersebut. Meskipun demikian, semoga kita bukan termasuk orang yang sedang disinggung dalam masalah ini. Dan semoga Allah senantiasa memelihara kita dengan hal-hal positif dan menjauhi dari hal-hal negatif. Amin.

Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here