Benarkah Tidur Dapat Membatalkan Wudhu?

0
22

BincangSyariah.Com – Menurut para ulama, baik ulama dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah dan Hanabilah, mengatakan bahwa secara keseluruhan tidur termasuk bagian dari perkara yang membatalkan wudhu. Hal ini karena jika seseorang tidur, maka kemungkinan besar akan mengelurkan kentut atau angin dari duburnya.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

يَرَى جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ أَنَّ النَّوْمَ نَاقِضٌ لِلْوُضُوءِ فِي الْجُمْلَةِ، وَاسْتَدَلُّوا بِحَدِيثِ الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ، فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ

Kebanyakan para ulama fiqih dari kalangan ulama Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah dan Hanabilah berpandangan bahwa secara keseluruhan tidur dapat membatalkan wudhu. Mereka berdalil dengan hadis; Mata adalah tali penutup dubur, siapa saja yang tidur, maka hendaknya dia berwudhu.

Meski pada dasarnya tidur membatalkan wudhu, namun ada satu bentuk tidur yang tidak membatalkan wudhu, yaitu tidur dalam keadaan duduk dengan kedua pantatnya menekan ke tanah atau lantai. Jika tidur dalam keadaan demikian, menurut ulama Syafiiyah, maka wudhunya tidak batal karena lubang dubur bisa tertutup dengan rapat sehingga angin atau kentut tidak keluar.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

وَقَال الشَّافِعِيَّةُ: إِنَّ النَّوْمَ يَنْقُضُ الْوُضُوءَ كَيْفَمَا كَانَ إِلاَّ نَوْمَ الْمُتَمَكِّنِ مَقْعَدُهُ مِنَ الأْرْضِ أَوْ غَيْرِهَا، فَلاَ يَنْقُضُ وُضُوءَهُ، وَإِنِ اسْتَنَدَ إِلَى مَا لَوْ زَال لَسَقَطَ لأِمْنِ خُرُوجِ شَيْءٍ حِينَئِذٍ مِنْ دُبُرِهِ.. وَلأِثَرِ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَال كَانَ أَصْحَابُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنَامُونَ ثُمّ يُصَلُّونَ وَلاَ يَتَوَضَّئُونَ   وَفِي رِوَايَةٍ كَانَ أَصْحَابُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْتَظِرُونَ الْعِشَاءَ الآْخِرَةَ حَتَّى تَخْفِقَ رُءُوسُهُمْ

Artinya:

Ulama Syafiiyah berkata; Tidur membatalkan wudhu seperti apapun bentuknya, kecuali tidurnya orang yang menekankan pantatnya ke tanah atau lainnya.

Dalam keadaan demikian, maka wudhunya tidak batal, meskipun dia bersandar pada sesuatu yang jika sandaran itu hilang, dia bisa jatuh karena, dalam keadaan tidur demikian, tidak akan keluar sesuatu dari duburnya.

Juga berdasarkan atsar dari Anas, dia berkata; Sahabat Rasulullah Saw tidur, lalu mereka melaksanakan shalat dan mereka tidak wudhu. Dalam satu riwayat disebutkan; Sahabat Rasulullah Saw menunggu shalat Isya’ akhir sampai kepala mereka mengangguk-ngangguk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here