Benarkah Shalat Hajat Itu Bid’ah?

0
2368

BincangSyariah.Com – Fenomena bid’ah-membid’ahkan sebuah ibadah karena ibadah tersebut tidak disebutkan dalam nash Al-Qur’an atau sabda Nabi sering kali terjadi. Tanpa mempertimbangkan jika esensi dari ibadah tersebut merupakan sebuah anjuran yang sering dikatakan oleh baginda Rasul. Salah satunya shalat hajat.

Ada yang menyebut shalat hajat termasuk dari hal-hal yang bid’ah karena Rasulullah tidak pernah menyebut tentang shalat hajat. Sehingga menurut kelompok tersebut shalat hajat adalah bid’ah sebab tidak ada dalilnya. Tapi benarkah demikian?

Menurut Kiai Ali Musthafa Ya’qub dalam buku Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal, meski tidak menyebutkan sama sekali kata shalat hajat, hal ini tidak serta merta menjadikan shalat hajat adalah bid’ah. Sebab dalam hadis hadis-hadis tersebut mengandung esensi ajaran shalat hajat. Dimana disebutkan tentang tatacara berdoa bagi orang  memiliki hajat agar berwudhu dan shalat dua rakaat lalu berdoa seperti yang diajarkan Nabi Saw.

“Imam Syaukani dalam kitab Tuhfah al-Dziakirin menyebutkan beberapa hadis yang menjadi dalil untuk shalat  hajat, namun dalam hadis-hadis Nabi Saw tidak menyebutkan sama sekali kata shalat hajat,” tulis Kiai Ali dalam buku Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal.

Sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, al-Hakim, al-Nasa’i berikut ini

أن رجلا ضرير البصر أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: ادع الله أن يعافيني، قال: إن شئت دعوت وإن شئت صبرت فهو خير لك، قال فادعه، قال: فأمره أن يتوضأ فيحسن وضوءه، فتوضأ ويصلي ركعتين، ثم يدعو: اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمد نبي الرحمة يا محمد إني توجهت بك إلى ربي في حاجتي هذه لتقضى لي اللهم فشفعه فيّ

“Sesungguhnya ada seorang laki-laki buta yang mendatangi Nabi Saw, ia berkata, ‘Wahai Nabi, berdoalah kepada Allah agar Ia menyembuhkanku.’ Rasul bersabda, ‘Jika kau mau akau akan berdoa atau jika mau kau bisa tetap bersabar dan itu lebih baik bagimu,’. Laki-laki itu berkata lagi, ‘berdoalah pada-Nya.’ Maka Nabi menyuruhnya untuk berwudhu dengan sempurna, lalu ia wudhu dan shalat dua rakaat, lalu ia berdoa; Ya Allah saya memohon kepada-Mu dan saya menghadap pada-Mu dengan Nabi-Mu Muhammad, Nabi pembawa rahmat, wahai Muhammad aku menghadap denganmu kepada Tuhanku dalam hajatku ini agar doaku terkabul, Wahai Allah berikanlah ia hak syafaat untuk diri saya.'” (HR. Tirmidzi&al-Nasai)

Baca Juga :  Lakukan Tiga Hal Ini agar Terhindar dari Sifat Riya dalam Beribadah

Hadis ini menurut Kiai Ali, dijadikan sebagai dalil syariat shalat hajat oleh para ulama. Terdapat pula dalam hadis lain Rasulullah pernah mengatakan bahwa jika seseorang wudhu lalu shalat dua rakaat dan berdoa maka Allah akan mengabulkan apa yang diinginkan.

Hadis tersebut kemudian yang dijadikan oleh para ulama sebagai dalil disunnahkannya shalat hajat. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadis berikut ini

عن أتي درداء رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من توضأ فاسبغ الوضوء ثم صلى ركعتين بتمامهما اعطاه الله ما سال معجلا أو مؤخرا

Dari sahabat Abu Darda’ Ra berkata, ” Aku pernah mendengar Rasulullah Saw berkata, ‘Barang siapa yang berwudhu kemudian shalat dua rakat dengan sempurna maka Allah akan memberikan apa yang dimintanya cepat atau lambat,’.” (HR Thabrani)

Kyai Ali Musthafa Ya’qub menekankan agar umat Islam perlu mengetahui bahwa tidak semua ibadah yang sering dilakukan oleh Rasulullah atau para sahabat pada masa itu disebutkan namanya, seperti Shalat Tahiyatul Masjid. Beliau hanya mengatakan bahwa disunnahkan shalat dua rakaat ketika memasuki masjid. Begitu pula shalat hajat. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here