Benarkah Berulangnya Maksiat Melemahkan Hasrat Kebaikan?

0
1545

BincangSyariah.Com – Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab al-Daa’ wa al-Dawaa’ menyebutkan, salah satu dampak lain dari maksiat adalah melemahkan jalannya hasrat kebaikan dalam kalbu, bahkan menghalanginya dan menghentikan perjalanannya hingga kalbu tidak lagi memiliki hasrat untuk melakukan kebaikan.

Menurut Ibnu Qayyim, ini adalah dampak yang paling mengkhawatirkan. Terbiasanya melakukan maksiat berulang-ulang dapat melemahkan dorongan kalbu untuk berbuat baik. Keinginan berbuat maksiat semakin menguat sementara keinginan untuk insaf sedikit demi sedikit melemah hingga akhirnya menghilang.

Pada saat demikian, hati tidak lagi membenci maksiat karena telah terbiasa. Ia juga tidak lagi risih dengan pandangan dan komentar manusia tentang dirinya. Pada titik ini, jelas Ibnu Qayyim, bagi orang yang melakukan maksiat berulang-ulang akan bangga dengan perbuatannya atau malah memamerkan perbuatan tersebut.

Orang semacam ini disinggung oleh Rasulullah Saw dalam hadisnya, pintu taubat tertutup dan terkunci baginya. Sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut

عن أبي هريرة يقول سمعت رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم- يقول: كلّ أمّتي معافى إلّا المجاهرين، وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملا، ثمّ يصبح وقد ستره اللّه فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربّه، ويصبح يكشف ستر اللّه عنه

Dari  Abu Hurairah ra bercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecual orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa. Yaitu orang yang berbuat dosa pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.” (HR. Bukhari & Muslim)

Baca Juga :  Tiga Waktu Terkabulnya Doa pada Bulan Ramadan

Maksiat yang dilakukan berulang-ulang dapat membutakan kalbunya sehingga ia bangga dengan apa yang dilakukan. Karena itu, Ibnu Qayyim mengingatkan tentang bahaya maksiat yang dapat melemahkan kalbu sehingga hasrat berbuat kebaikan menjadi hilang. Kelemahan kalbu ini bisa membawa seseorang kepada delapan kondisi yang Nabi Saw berlindung darinya; risau dan sedih, lemah dan malas, pengecut dan bakhil, dililit hutang dan ditekan orang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here