Belum Bisa Bahasa Arab, Bolehkah Doa dan Zikir dalam Salat Menggunakan Bahasa Indonesia?

0
820

 BincangSyariah.Com – Rangkaian bacaan salat memang menuntut kita sebagai orang Islam untuk bisa berbahasa Arab. Minimal bisa baca Alquran dan hadis. Karena bagaimanapun bahasa Arab adalah bahasa yang mulia dan bahasa surga.

Dalam beberapa literatur kitab klasik banyak menjelaskan bahwasanya bacaan salat adalah dengan menggunakan bahasa Arab. Pada umumnya praktik seperti inilah yang berlaku di tengah-tengah masyarakat Muslim. Bisa dikatakan semua orang yang salat menggunakan bahasa Arab tidak dengan bahasa ajami (selain bahasa Arab, baik bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, dan lain-lain).

Lantas, bagaimana pandangan ulama atas orang yang baru masuk Islam yang semua doa dalam salat dibaca menggunakan bahasa Indonesia? Apakah diperbolehkan hal semacam itu?

Jika demikian, maka hukumnya ditafsil (tidak tunggal), sebagaimana disebutkan dalam kitab Mughnil Muhtaj, juz 1, hlm.117

ومن عجز عنهما – أي التشهد والصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم وهو ناطق، (ترجم) عنهما وجوبا, لا إعجاز فيهما. أما القادر لايجوزله ترجمتهما، وتبطل به صلاته (ويترجم للدعاء) المندوب (والذكر المندوب) ندبا كالقنوت وتكبيرات الإنتقالات وتسبيحات الركوع والسجود (العاجز) لعذره (لا القادر) لعدم عذره (فى الأصح) فيهما. أما غير المأثور بأن إخترع دعاء أوذكرا بالعجمية في الصلاة فلا يجوز، انتهى

“Barang siapa yang tidak mampu membaca tahiyat dan salawat kepada Nabi Muhammad sementara dia dapat berbicara maka bacaan tahiyat dan salawat harus diterjemahkan secara wajib karena dia mampu menerjemahkan keduanya. Sedangkan bagi orang yang hafal keduanya maka tidak diperbolehkan baginya menerjemah keduanya, dan bahkan salatnya menjadi batal (jika dipaksakan menerjemahkan). Bagi orang yang tidak mampu diperbolehkan menerjemahkan doa dan zikir yang disunahkan, seperti doa qunut, takbir perpindahan, takbir rukuk dan sujud, karena ketidakmampuannya, namun tidak diperbolehkan bagi orang yang mampu karena dia mampu untuk membaca dengan bahasa Arab. Demikian menurut pendapat yang sahih. Sedangkan untuk bacaan yang tidak dianjurkan Nabi, termasuk membuat doa dan zikir sendiri selain bahasa Arab di dalam salat maka hal itu tidak diperbolehkan (haram)”. 

Dari penjelasan di atas, ada beberapa jawaban yang didapat,

Baca Juga :  Tips Salat Khusyuk menurut Pengarang Kitab "Fathul Muin"

Pertama, apabila doa atau zikir itu termasuk dari rukun salat maka orang yang tidak mampu membaca itu harus dan wajib membaca terjemahannya. Supaya bacaan salat yang wajib terpenuhi.

Kedua, apabila doa atau zikir tersebut bukan termasuk rukun salat dan doa itu ma’tsurah atau mandubah, maka salatnya tetap sah bagi orang yang memang tidak mampu.

Ketiga, apabila doa atau zikir itu tidak ma’tsurah (karangan sendiri) dan menggunakan bahasa selain bahasa Arab jelas salatnya batal secara mutlak (baik bagi yang tidak mampu ataupun yang mampu). Wallahu’alam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here