Bayi Menangis, Bolehkah Membatalkan Salat?

1
842

BincangSyariah.Com – Membatalkan salat dengan sengaja pada dasarnya adalah tidak boleh. Contohnya ada panggilan masuk di gawai (gadget) atau sineteron kesayangannya sudah mulai, dan lain sebagainya yang tidak penting dan genting.

Hanya saja terkadang membatalkan salat menjadi sebuah kewajiban. Misalkan mendengar
orang minta bantuan sedang di sekitarnya tidak ada orang lagi. Atau ada binatang buas yang menghampirinya, misalkan ular. Daripada dipatok ular, lebih baik berhenti dari salat.
Di lain kesempatan, membatalkan salat dihukumi boleh-boleh saja. Syekh Wahbah Az-Zuhaily berkata dalam kitabnya, Al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu (j. 2 h. 46)

واما ما يجوز قطع الصلاة له ولو فرضا لعذر فهو ما يأتي سرقة المتاع ولو كان المسروق لغيره اذا كان المسروق يساوي درهما فاكثر او
خوف المرأة على ولدها او خوف فوران القدر او احتراق الطعام على النار

Wa amma ma yajuzu qoth’ussholati lahu walau fardlon li ‘udzrin fahuwa ma ya’ti sirqotul mata’i, walaw kaana al-masruqu lighairihi idza kana al-masruqu yusawi dirhaman fa aktsara, aw khoufu al-mar’ati ala waladiha aw khoufu fauroni al-qidri aw ihtiroqi at-tho’aami ‘ala an-nar.

Adapun sesuatu yang membolehkan memutus salat adalah sebagai berikut, (1) Terjadi aksi pencurian walau bukan hartanya sendiri, dengan syarat lebih dari satu dirham, (2) seorang ibu yang menghawatirkan ankanya (karena menangis terus), (3) khawatir (masakan dalam) panci mendidih, (4) khawatir makanan gosong.

Dalam artian, ketika seseorang yang lagi salat mengkhawtirkan sesuatu yang penting dan dalam keadaan genting boleh berhenti dari salatnya. Termasuk ibu-ibu yang baru melahirkan, tentunya ia akan selalu dihantui rasa takut atas bayinya. Hal ini bukanlah yang terlarang dalam agama. Silahkan para ibu berhenti dari salatnya ketika mendengar tangisan anaknya. Kecuali jika anaknya sudah ada yang menjaga, maka lebih baik ia melanjutkan salatnya. Karena kekhawatirannya tidak cukup kuat.

Baca Juga :  Tata Cara dan Doa Bersiwak

Apalagi hanya dalam salat sunah, yang wajib saja bisa diputus di tengah jalan. Bahkan terkadang lebih baik berhenti salat daripada meneruskannya. Seperti dipanggil-panggil oleh kedua orang tua. Cukup kisah Sayyidina Juraij menjadi uswah dalam kehidupan kita. Dimana panggilan orang tua, lebih-lebih ibu akan berdampak luar biasa ketika kita mengabaikannya walaupun sedang salat.

Jadi, timbang-timbanglah saat sedang salat, sekiranya bisa menunggu sampai selesai salat, maka lanjutkanlah. Namun jika hanya berakibat negatif, baik pada diri sendiri, orang lain, atau pada harta, maka sah-sah saja apabila kita keluar dari salat. Allah Ta’ala A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here