Bayar Hutang Dulu atau Zakat Dulu?

0
31

BincangSyariah.Com – Salah satu pertanyaan yang cukup menarik untuk dikaji dalam persoalan zakat dari harta yang dimiliki adalah mana dulu yang harus diutamakanialah tentang prioritas mana dulu yang mesti diutamakan untuk dikerjakan oleh seseorang dalam hartanya. Apakah membayar hutangnya terlebih dahulu, ataukah membayar zakatnya.

Agar persoalan ini menjadi lebih jelas, maka izinkan penulis membuatkan satu contoh. Misalkan seorang petani padi, saat panen dia mendapatkan hasil sebanyak 1 ton padi yang jika diuangkan adalah senilai 5 juta rupiah. Sementara dia memiliki hutang sebesar 3 juta rupiah. Sebagaimana kita ketahui, zakat pertanian yang diairi menggunakan air tadah hujan ialah 10%. Artinya, ia berkewajiban mengeluarkan zakat sebesar 1 kuintal padi atau setara 500 ribu rupiah. Apakah dalam hal ini ia mesti mendahulukan mengeluarkan zakat dulu sebesar 500 ribu rupiah atau mendahulukan pembayaran hutang terlebih dahulu.

Agar pembahasan ini menjadi lebih terperinci, maka penulis akan menjelaskan terlebih dahulu definisi antara hutang dan zakat.

Hutang ialah sebuah kegiatan meminjam uang yang kita lakukan pada seseorang atau organisasi tertentu untuk memenuhi  kebutuhan kita dengan tempo penyelesaian pembayaran yang telah ditentukan. Meskipun terkesan hutang ini adalah persoalan duniawi, namun kita ketahui bersama bahwa persoalan hutang ini akan dihisab akhirat nanti.

Zakat ialah sebagian harta yang wajib ditunaikan baik yang berjenis zakat diri maupun zakat harta dengan persyaratan tertentu seperti nishab, haul dan lain sebagainya. Untuk zakat harta, maka kewajibannya melekat pada harta tertentu, bukan perorangannya. Artinya meskipun misalkan harta itu adalah milik anak kecil ataupun orang gila, maka tetap wajib dizakati meskipun yang bersangkutan secara individu tidak dituntut untuk beribadah.

Kembali pada persoalan diatas, manakah yang lebih didahulukan, apakah membayar hutang terlebih dahulu atau zakat dulu. Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa hutang tidak menjadi lagiyimasi seseorang untuk membayar zakat.

Baca Juga :  Cara Menghitung Zakat Emas, Perak dan Harta Dagangan

Ulama yang menyatakan bahwa zakat tetap wajib ditunaikan meskipun seseorang memiliki hutang berargumen dengan keumuman ayat QS. At Taubah [9]: 103:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ واللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Khuż min amwālihim ṣadaqatan tuṭahhiruhum wa tuzakkīhim bihā wa ṣalli ‘alaihim, inna ṣalātaka sakanul lahum, wallāhu samī’un ‘alīm

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ayat diatas tidak memberikan pengecualian bagi seseorang yang memiliki hutang ataupun tidak. Demikian juga Rasulullah SAW ketika mengutus para amil untuk menarik zakat, Nabi tidak memerintahkan mengecek terlebih dahulu apakah para pemiliki masih memiliki tanggungan hutang ataupun tidak.

Sementara pendapat kedua yang mengatakan bahwa hutang bisa menjadi penghalang zakat berargumen dengan ucapan Sahabat Usman bin Affan di bulan ramadhan:“Bulan ini adalah bulan berzakat kalian, barang siapa mempunyai tanggungan hutang maka segera melunasinya” Dari pernyataan tersebut kita bisa memahami bahwa Sahabat Utsman menghendaki bahwa jika hutangnya sudah jatuh tempo, maka wajib didahulukan hutang dari pada zakat.

Dari dua pendapat ini, sesungguhnya kita bisa menarik kesimpulan bahwa apabila hutang seseorang sudah jatuh tempo, maka ia wajib mengutamakan pembayaran hutang terlebih dahulu, namun jika hutangnya ialah hutang jangka panjang, maka ia harus memprioritaskan zakat. Namun perlu diingat bahwa ketentuan ini berlaku pada zakat uang, seperti emas perak perniagaan dan lain sebagainya.

Berbeda dengan zakat pertanian dan peternakan. Untuk kedua zakat tersebut, para ulama madzhab, khususnya mazhab Hanafiyah menyatakan bahwa pertanian dan hewan ternak tumbuh dengan sendirinya, sehingga kenikmatan padanya lebih sempurna. Kewajiban zakat padanya lebih kuat sebagai wujud syukur nikmat. Sehingga hutang tidak berpengaruh dalam menggugurkannya. Lain halnya dengan uang. Mereka berdalil bahwasanya zakat pertanian dan peternakan adalah hak bumi, sehingga tidaklah menjadi pertimbangan kondisi keuangan pemiliknya.

Baca Juga :  Haram Zakat dan Sedekah untuk Keluarga Nabi

Dengan demikian, mengacu pada penjelasan ini, pada kasus diatas, sang petani tetap harus membayar zakatnya sebesar 500 ribu rupiah meskipun dia memiliki tanggungan hutang sebesar 3 juta rupiah. Meskipun terkesan memberatkan, namun beginilah ketentuan syariat. Karena sekali lagi perlu ditekankan, bahwa sebagaimana telah disebutkan diatas, zakat harta ini terkait dengan hartanya tersebut, bukan dengan individunya, sebagaimana logika bahwa harta anak kecil dan orang gila tetaplah wajib dizakati. Insyaallah, jika kita mengikuti aturan syariat ini, Allah akan selalu menaungi kita dengan rahmat-Nya sebagaimana yang telah dijanjikan. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here