Bagi Seorang Hamba, Lebih Utama Kualitas atau Kuantitas Beribadah?

0
1164

BincangSyariah.Com – Tentang ibadah seorang hamba, sebenarnya lebih utama kualitas atau kuantitas? Untuk menjawab ini, kita perlu merenungi ungkapan Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari dalam kitabnya al-Hikam berkata:

لمّا عَلِمَ الحَقُّ مِنْكَ وُجودَ المَلَلِ، لَوَّنَ لَكَ الطّاعاتِ

“Karena Allah mengetahui bahwa engkau mudah merasa bosan, maka Dia membuat bermacam-macam cara taat untukmu”

Ketaatan itu bukan hanya dalam bentuk ibadah mahdhah (seperti shalat baik yang wajib maupun . masih banyak ragam ketaatan yg bernilai ibadah yang bisa dilakukan seseorang ketika jenuh dengan amalan tertentu. Ibadah sosial, misalnya dengan silaturrahim, saling membantu, bershadaqah dan lain sebagainya. Bahkan, traveling sambil menghayati (tadabbur) ayat-ayat Tuhan yang ada di sekitar juga bagian dari ketaatan yang bisa bernilai ibadah. Jadi, karena tabiat manusia yang memang cenderung akan merasa bosan jika melakukan suatu hal terus-menerus, maka Allah memberikan banyak pilihan cara untuk menggapai ketaatan ibadah.

وًعَلِمَ ما فيكَ مِنْ وُجودِ الشَّرَهِ فَحَجَرَها عَلَيْكَ في بَعْضِ الأوْقاتِ

“Dan karena Allah juga tahu bahwa engkau rakus, maka Dia membatasi ketaatan itu hanya pada waktu-waktu tertentu”

Ada beberapa orang yang memang punya karakter terlalu rajin ibadah. Rakus pahala. Lalu, Allah malah menjadikan beberapa waktu tertentu yang justru seseorang tidak boleh melakukan ibadah, agar orang tersebut mempunyai jedah atau batas. Misalnya perempuan yang diberi haid pada tiap bulannya. Hal itu adalah jedah waktu yang diberikan Allah kepada perempuan selain agar ia tidak rakus beribadah, ia juga tidak merasa bosan melakukannya. Bukankah jarak dan jedah itu selalu mengundang kerinduan?

Jadi, ketaatan dibuat beragam karena adanya rasa bosan. Ketaatan dilarang diwaktu-waktu tertentu karena adanya ketamakan. keragaman dan ketentuan waktu ketaatan ini merupakan dua nikmat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Di sisi lain, rasa bosan dan sifat rakus amal adalah justru dua hal yang dapat memutus amal.

Baca Juga :  Tips Salat Khusyuk menurut Pengarang Kitab "Fathul Muin"

لِيَكونَ هَمُّكَ إقامَةَ الصَّلاةِ لا وُجودَ الصَّلاةِ، فَما كُلُّ مُصَلٍّ مُقيمٌ

“(hal tersebut di atas) agar perhatianmu tertuju pada kesempurnaan shalat, bukan pada adanya shalat. karena tidak semua orang yang shalat dapat menyempurnakan shalatnya”

Ketika ada beragam cara dan jedah ketaatan, di sana lah Allah ingin mengajarkan kepada hambanya tentang sebuah kualitas rasa ketaatan, bukan hanya semata kuantitas ketaatan. maksudnya adalah, bukan hanya melihat dari banyak dan seringnya seseorang melakukan sholat (misalnya), tapi bagaimana seorang hamba itu bisa merasakan benar-benar medirikan shalatnya, yakni dengan dalamnya memaknai rasa dan kualitas shalat itu sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here