Bagaimana Salat Idulfitri Bagi Seorang Musafir?

0
1135

BincangSyariah.Com – Musafir adalah orang yang melakukan suatu perjalanan, seringkali dengan menempuh jarak yang cukup jauh. Perjalanan jauh (safar) juga merupakan sesuatu yang melelahkan. Bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai sepenggal adzab (karena berpisahnya dengan sanak keluarga). Sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

السَّفَرُ قِطْعَةٌ من الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ نَوْمَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ فإذا قَضَى أحدكم نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إلى أَهْلِهِ

Safar adalah bagian dari adzab (siksa). Ketika safar salah seorang dari kalian akan sulit makan, minum dan tidur. Jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketika melakukan safar, apakah masih tetap dianjurkan untuk melakukan salat Idulfitri? Pada hakikatnya Salat Idulfitri adalah ibadah sunnah, yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan bila ditinggalkan tidaklah mengapa. Dalam konteks salat idulfitri juga sama, ketika memberatkan boleh tidak dilakukan. Akan tetapi jika keadaan mendukung dan tidak memberatkan, tidak ada ruginya untuk melaksanakannya.

Ibnu Taimiyah menjelaskan dalam kitab Majmu Fatawa bahwa Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang menghukumi musafir tetap disyariatkan untuk salat idulfitri, ada juga yang tidak karena ia bukan mukim. Namun pendapat yang benar tanpa keraguan adalah pendapat yang kedua.

Beliau memaparkan bahwa salat Idulfitri tidak disyariatkan bagi musafir, karena Rasulullah banyak melakukan safar dan melakukan 3 kali umrah selain umrah haji, beliau juga berhaji wada’ dan ribuan manusia menyertai beliau, serta beliau berperang lebih dari 20 peperangan, namun tidak seorangpun menukilkan bahwa dalam safarnya beliau melakukan Salat Jum’at dan Salat Id…”

Tidak disyariatkannya salat Idulfitri bagi seorang musafir sebagaimana pula tidak disyariatkannya salat jum’at bagi seorang musafir. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Baca Juga :  Anjuran Berbuat Baik Kepada Tetangga

لَيْسَ عَلَى الْمُسَافِرِ جُمُعَةٌ

Tidak ada kewajiban salat Jum’at bagi musafir.”

Bahkan dalam kitab fiqh Al Muyassar fi Dau’i Al Kitab Wa As Sunnah menyebutkan salah satu syarat salat Idulfitri adalah berdomisili di daerah tersebut (al-isthithan), sehingga tidak diperkenankan bagi orang yang sedang dalam perjalanan menyelenggarakan salat id, meskipun pada saat itu sedang tinggal di daerah itu. Musafir hanya boleh mengikuti shalat id yang diselenggarakan oleh masyarakat di suatu daerah yang dilewatinya dan salatnya sah. Adapun jika dia bertindak sebagai penyelenggara maka salat id-nya tidak sah.

Dari keterangan diatas, bisa disimpukan bahwa benar adanya bahwa salat Idulftri itu sunnah, namun syariat tersebut tidak berlaku bagi seorang musafir. Sehingga bagi siapa saja yang sedang melaksanakan perjalan pada tangal 1 Syawal, ia tidak dianjurkan untuk shalat Idul Fitri. Bila tidak memberatkan atau kebetulan melewati salat Idulfitri sedang berlangsung, maka diperbolehkan mengikuti. Namun jika memberatkan, meninggalkan shalat Idul Fitri adalah bukanlah sebuah kesalahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here