Bagaimana Hukumnya Pemimpin Mengakhirkan Waktu Shalatnya?

0
1240

BincangSyariah.Com – Distingsi antara muslim dan non-muslim itu ash-shalah. Demikian diktum Nabi SAW. Sebegitu penting posisi shalat bagi seorang muslim, beliau juga pernah menerangkan bahwa agama ini dibangun di atas pondasi shalat 5 waktu yang kita kerjakan 24/7. Maka sebuah keniscayaan ketika syari’at menaruh perhatian khusus kepada rukun Islam yang kedua ini.

Pengerjaan shalat dianjurkan di awal waktu dan secara berjamaah. Komitmen ini –walaupun sunnah, memiliki keutamaan tersendiri. Namun pasang surut kehidupan terkadang memaksa kita untuk mengakhirkan shalat sampai di akhir waktunya. Apabila kasus ini dalam konteks seorang pemimpin mengakhirkan waktu shalatnya, bagaimana status hukumnya?

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ : ” كَيْفَ أَنْتَ إِذَا كَانَتْ عَلَيْكَ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا أَوْ يُمِيتُونَ الصَّلاةَ عَنْ وَقْتِهَا قَالَ قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي قَالَ صَلِّ الصَّلاةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا مَعَهُمْ فَصَلِّ فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌ

Dari Abu Dzar, katanya Rasulullah SAW bertanya kepadaku: “Bagaimana pendapatmu jika engkau dipimpin oleh para penguasa yang mengakhirkan shalat dari waktunya, atau meninggalkan shalat dari waktunya? Abu Dzar menjawab, “Lantas apa yang engkau perintahkan kepadaku?”. Beliau bersabda: “Lakukanlah shalat tepat pada waktunya, jika kamu mendapati bersama mereka, maka shalatlah lagi. Sebab hal itu dihitung pahala sunnah bagimu”. (HR. Muslim no. 1027)

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa, umara’ di dalam redaksi tersebut adalah pemimpin pemerintahan muslim. Maka maksud mengakhirkan dan meinggalkan waktu shalat disini tetap di dalam naungan injury time atau waktu yang paling mepet. Hampir keluar waktu. Tapi tidak melewatinya.

Makruh bagi seorang muslim untuk mengakhirkan shalat sebagaimana lelaku ‘pemimpin’ ini. Ia dianjurkan untuk berusaha mengerjakan sendiri (munfarid) di awal waktu. Namun andai, dia mendapati sang pemimpin berjama’ah dengan masyarakat lain di akhir waktu dan mengusahakan bergabung, maka shalat yang kedua dihitung sebagai nafilah (pahala shalat sunnah).

Perlu digarisbawahi, jika pemisahan shalat munfarid itu beresiko (faktualnya barangkali; memisahkan dari barisan, mengganggu stablitias, menentang “atasan”, dan pertimbangan maslahat lain), menurut Imam an-Nawawi ia tetap dibolehkan mengakhirkan shalat.

Redaksi lain dari Musnad Ahmad bin Hanbal menyebutkan, dosa ‘peng-akhiran’ tersebut ditanggung hanya oleh pemimpin tersebut. Dari Qabishah bin Waqqash dari Rasulullah SAW:

يكون عليكم أمراء بعدي يؤخرون الصلاة، فهى لكم، وهى عليهم

“Akan datang suatu masa setelahku di mana para pemimpin kalian mengakhirkan shalat, maka bagi kalian tetap mendapatkan pahala, sementara mereka mendapatkan dosa”. (HR. Ahmad no. 370)

Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here