Melafal Bacaan Tasbih Lebih dari Tiga Kali saat Rukuk, Bagaimana Hukumnya?

0
16835

BincangSyariah.Com – Rukuk dan sujud merupakan dua komponen dari rukun-rukun salat yang tidak boleh ditinggalkan. Ketika rukuk disunahkan melafal bacaan tasbih, “subhana rabbiyal adzimi wa bihamdihi”, sedangkan ketika sujud disunahkan membaca “subhana rabbiyal a’la wa bihamdihi”.

Lalu, apakah bacaan tasbih tersebut harus diucapkan secara ganjil atau boleh dengan hitungan genap? Haruskah dibaca satu, tiga atau bolehkah lebih dari itu?

Pada dasarnya bacaan tasbih dalam rukuk dan sujud adalah disunahkan dengan jumlah tiga kali. Hal ini sebagaimana riwayat imam Abu Daud, dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah saw. bersabda:

“إذَا رَكَعَ أحَدُكُم فَلْيَقُلْ ثَلاَثَ مَرّاتٍ: سُبْحَانَ رَبّيَ الْعَظِيمِ ثَلاَثاً، وَذَلِكَ أدْنَاهُ، فإذَا سَجَدَ فَلْيَقُلْ: سُبْحَانَ رَبّيَ الأعْلَى ثَلاَثاً، وَذَلِكَ أدْنَاهُ” .

“Jika salah satu dari kamu ruku, maka ucapkanlah Subhanarabbiyal adzimi tiga kali, dan itu adalah batas minimal. Lalu jika salah satu dari kamu sujud, maka ucapkanlah subhana rabbiyal a’la tiga kali, dan itu adalah batas minimalnya.” (HR. Abu Daud).

Imam Abadi di dalam kitab Aunul Ma’bud syarah Sunan Abi Daud mengatakan bahwa hadis tersebut, mengindikasikan bahwa, seseorang itu tidak akan mendapat kesunahan jika membaca tasbih ketika rukuk dan sujud kurang dari tiga kali.

Namun, jika ia hanya membaca tasbih sekali saja, menurut imam Al Mawardi cukup, dan tasbihnya dianggap. Sedangkan jika tasbih itu dibaca lebih dari batas kesunnahan yakni tiga kali maka hal ini diperbolehkan.

Tetapi, disunahkan dengan hitungan ganjil, yakni lima, tujuh atau sembilan kali menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah. Atau boleh sampai 11 kali menurut ulama Syafiiyyah. Demikian ini hanya berlaku bagi orang yang salat sendirian. Adapun bagi imam, maka ia tidak dianjurkan untuk memperbanyak bacaan tasbih, karena hal ini dapat menjadikan bosan (meresahkan) makmum.

Baca Juga :  Haruskah Thuma’ninah Ketika Ruku’?

Imam An-Nawawi di dalam kitab Raudlatut Thalibin wa Umdatul Muftin mengatakan

وأما الإمام فلا يزيد على ثلاث وقيل خمس إلا أن يرضى المأمومون بالتطويل فيستوفي الكمال

“Adapun imam, maka ia tidak boleh (membaca tasbih) lebih dari tiga kali dan dikatakan lima kali, kecuali jika makmum rida dengan imam yang memperpanjang tasbihnya, maka ia boleh untuk memenuhi kesempurnaan jumlah tasbih.”

Setelah membaca tasbih, umat muslim juga boleh mengagungkan Allah swt, dengan bacaan apa saja, begitu pula ketika sujud, ia boleh doa apa saja.

Oleh karena itu, jika umat muslim ingin memperbanyak bacaan tasbihnya ketika rukuk dan sujud, maka hal ini diperbolehkan, tetapi ketika salat sendirian. Adapun ketika ia menjadi imam, hendaknya tidak melakukan hal tersebut, kecuali jika makmum sudah menyetujuinya. Karena makmum itu terdiri dari berbagai macam orang dengan beragam urusan dan kondisi.

Hal ini pun telah ditegaskan di dalam hadis riwayat imam Al Bukhari dari Abu Hurairah Ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ مِنْهُمْ الضَّعِيفَ وَالسَّقِيمَ وَالْكَبِيرَ وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ

“Jika salah satu dari kamu menjadi imam untuk orang-orang, maka hendaklah kamu ringankan (bacaan Alquran dan tasbih), karena sesungguhnya diantara mereka ada yang lemah, sakit, dan tua. Dan jika salah satu dari kamu salat sendirian, maka panjangkanlah semaumu.” (HR. Al Bukhari). Wa Allahu A’lam bis Shawab

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here