Argumen Shalat Jumat hanya 3 Orang dalam Kondisi Lockdown

1
2370

BincangSyariah.Com – Di tengah situasi merebaknya coronavirus disease (covid-19), pemerintah telah menerbitkan PP Nomor 21 Tahun 2020 yang berisi tentang Pembatasan Sosial berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19. Isi dari peraturan ini dilatarbelangi karena wilayah penyebaran corona virus 2019 ini sudah tidak lagi berscope daerah, melainkan sudah masuk lintas wilayah dan lintas negara sehingga memiliki dampak yang ekstrim dalam perpolitikan, ekonomi, sosial, budaya, dan sistem pertahanan keamanan wilayah.

Salah satu alternatif guna mengatasi dampak tersebut, adalah melakukan social distancing, lockdown atau pembatasan wilayah (isolasi). Jika hal ini dilakukan, maka tidak ada pilihan lain selain melakukan kompromi antara peraturan negara dengan teks-teks nash syariat yang berkaitan dengan aspek pelaksanaan ibadah, terutama shalat jum’at.

Shalat Jum’at dalam konteks fiqih Syafiiyah hukumnya adalah wajib berdasarkan dalil al-Qur’an, Al-Sunnah dan Ijma’. Dalil al-Qur’an yang menyatakan perintah menunaikan, termaktub di dalam Firman Allah SWT:

يَا أَيهَا الَّذين آمنُوا إِذا نُودي للصَّلَاة من يَوْم الْجُمُعَة فَاسْعَوْا إِلَى ذكر الله

“Wahai orang-orang yang beriman, ketika diserukan panggilan untuk sholat di hari Jum’ah, maka bersegeralah kepada mengingat Allah!”

Adapun dalil al-Sunnah, adalah sebagaimana termaktub dalam Shahih Muslim:

لقد هَمَمْت أَن آمُر رجلا فَيصَلي بِالنَّاسِ ثمَّ أحرق على رجال يتخلفون عَن الْجُمُعَة بُيُوتهم

“Sungguh, aku ingin sekali memerintahkan seseorang agar ia shalat bersama manusia yang lain, kemudian aku datangi rumah-rumah orang yang meninggalkan jum’ah dan aku bakar rumah mereka.”

Masih di dalam kitab hadis Shahih Muslim, berdasar sumber riwayat yang lain dijelaskan bahwa:

عن الحكم بن ميناء أن عبد الله بن عمر وأبا هريرة حدثاه أنهما سمعا رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول على منبره : ((لينتهين أقوام عن ودعهم الجمعات أو ليختمن الله على قلوبهم ثم ليكونن من الغافلين)) رواه مسلم

Dari al-Hakam bin Miina’a bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma mengatakan kepadanya, bahwa keduanya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Hendaklah suatu kaum menghentikan perbuatannya meninggalkan shalat jum’at atau (kalau tidak) Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengunci hati-hati mereka lalu mereka benar-benar menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim)

Baca Juga :  Terkait Social Distancing Corona, Rasulullah Menolak Bersalaman dengan Orang Berpenyakit Menular

Di dalam salah satu hadis riwayat Ashhaabu as-Sunan juga disebutkan bahwa,

من ترك ثَلَاث جمع تهاونا طبع الله على قلبه

“Barang siapa meninggalkan tiga kali shalat jum’at karena mengentengkannya, maka Allah akan kunci mati hatinya.”

Dengan menimbang adanya perintah langsung dari Allah, serta kerasnya ancaman dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap pelaku yang meninggalkan shalat Jum’at karena tahawun (meremehkan), menggiring para ulama dari kalangan Syafiiyah untuk bersepakat menetapkan status kewajibannya. Status kewajiban ini berlaku kepada ahl al-Jum’ah (orang yang wajib melaksanakan shalat jumat), yaitu: Islam, baligh, merdeka, berakal, laki-laki, sehat, dan tinggal dan menetap di suatu perkampungan (istiithan). Ketujuh ketentuan ini selanjutnya dikenal sebagai syarat wajib shalat jumat.

Berdasarkan ketujuh syarat itu, maka pihak yang boleh meninggalkan shalat Jumat, adalah mereka yang terdiri dari bukan orang Islam, tidak merdeka, belum baligh, tidak berakal, perempuan, sakit, termasuk di dalam bagian sakit adalah hujan badai, dan tidak tinggal menetap di perkampungan (safar). Selain ketujuh pihak ini, maka tidak berlaku yang disebut uzur Jum’at.

Bagaimana dengan kondisi takut wabah? Dalam pandangan fiqih Syafiiyah, pihak yang takut wabah tidak bisa disamakan dengan illat kondisi sakit ataupun hujan badai. Takut wabah bukan merupakan ‘illah mu’tabarah (illat hukum yang diakui) dan dikenal dalam syariat. Ia hanya merupakan hikmah. Oleh karenanya, kondisi takut wabah ini tidak bisa dijadikan sebagai illat udzur jum’at.

Lantas, bagaimana solusinya apabila ada peraturan pemerintah yang bertabrakan dengan konsep fiqih semacam ini? Di satu sisi, masyarakat memiliki kewajiban untuk melaksanakan shalat Jum’at, namun di sisi lain, pemerintah menghendaki agar masyarakat menjauhi kerumunan massa dalam jumlah banyak.

Baca Juga :  Bolehkah Wudu Sebelum Istinja’?

Taat pemerintah merupakan sebuah kewajiban. Namun fikih juga memiliki metode tersendiri dalam memberikan solusi. Untuk menghindari kerumunan dalam jumlah besar, maka hendaknya masyarakat mengambil pendapat ulama yang menyatakan bahwa pelaksanaan sholat Jum’at hanya 3 orang jamaah (dengan imam), 4 orang jamaah (dengan imam), atau 12 orang jamaah (dengan salah satunya menjadi imam) di rumah masing-masing.

Pertama, berdasarkan keterangan dari Kitab Bughyatu al-Mustarsyidin (h. 102)

ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﻋﺪﻡ ﺻﺤﺔ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺑﻤﻦ ﻟﻢ ﻳﻜﻤﻞ ﻓﻴﻬﻢ ﺍﻟﻌﺪﺩ، ﻭﺍﺧﺘﺎ ﺭﺑﻌﺾ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ ﺟﻮﺍﺯﻫﺎ ﺑﺄﻗﻞ ﻣﻦ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﺗﻘﻠﻴﺪﺍً ﻟﻠﻘﺎبل ﺑﻪ

“Menurut pendapat yang kuat, shalat jum’at adalah tidak sah tanpa lengkapnya jumlah jamaah (40 orang). Namun, para ashabu al-Syafii memilih pendapat tentang bolehnya pelaksanaan shalat Jum’at dengan jumlah kurang dari 40 orang, dengan taqlid pada pendapat pembanding yang menyatakan sahnya.

Kedua, berdasarkan keterangan dari Kitab Risalah Jum’ah (h. 5),

ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺳﺎﻟﻢ ﺍﻟﺤﻀﺮﻱ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭﺓ ﻧﻤﺮﺓ 21 ﺍﻥ ﻟﻠﺸﺎﻓﻌﻲﺭﺣﻤﻬﺎﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﺐ ﺍﻟﻌﺪﺩ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﻨﻌﻘﺪ ﺑﻪ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺍﺭﺑﻌﺔ ﺍﻗﻮﺍﻝ ﻗﻮﻝ ﻣﻌﺘﻤﺪ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺠﺪﻳﺪ ﻭﻫﻮ ﻛﻮﻧﻬﻢ ﺍﺭﺑﻌﻴﻦ ﺑﺎﻟﺸﺮﻭﻁ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭﺓ , ﻭﺛﻼﺛﺔ ﺍﻗﻮﺍﻝ ﻓﻲﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻟﻘﺪﻳﻢ ﺿﻌﻴﻔﺔ ﺍﺣﺪﻫﺎ ﺍﺭﺑﻌﺔ ﺍﺣﺪﻫﻢ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺛﻼﺛﺔ ﺍﺣﺪﻫﻢﺍﻻﻣﺎﻡ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﺍﺛﻨﻰ ﻋﺸﺮ ﺍﺣﺪﻫﻢ ﺍﻻﻣﺎﻡ , ﻓﻌﻠﻰ ﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺍﻟﻄﺎﻟﺐ ﻣﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﻦ ﺛﻮﺍﺑﻪ ﻭﺭﺿﺎﻩ ﺍﻥ ﻻﻳﺘﺮﻙ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻣﺎﻧﺄﺗﻲ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻦﻫﺬﻩ ﺍﻻﻗﻮﺍﻝ ﺍﻻﺭﺑﻌﺔ ﻭﻟﻜﻦ ﺍﺫﺍ ﻟﻢ ﺗﻌﻠﻢ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺍﻧﻬﺎ ﻣﺘﻮﻓﺮﺓ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺸﺮﻭﻁ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻻﻭﻝ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﺠﺪﻳﺪ ﻓﻴﺴﻦ ﺍﻋﺎﺩﺓ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﺑﻌﺪﻫﺎ ﺍﺣﺘﻴﺎﻃﺎﻓﺮﺍﺭﺍ ﻣﻦ ﺧﻼﻑ ﻣﻦ ﻣﻨﻌﻬﺎ ﺑﺪﻭﻥ ﺍﺭﺑﻌﻴﻦ ﺍﻫـ

“Berkata as-Syaikh Salim Al-Hudlori dalam kitabnya halaman 21, bahwa dalam Madzhab Syafi’i, ada ketentuan mengenai jumlah jamaah Jum’at yang terbagi dalam empat qoul, yang mu’tamad adalah qoul jadid, yang mengharuskan jumlah jum’at 40 orang. Tiga qoul lain adalah qoul qodim dan hukumnya dlo’if yaitu : a) 4 orang salah satunya imam, b) 3 orang salah satunya imam, dan c) 12 orang, salah satunya imam. Bagi orang ‘Aqil yang mencari ridlo Alloh hendaknya tidak meninggalkan jum’at dengan cara menjalankan salah satu dari empat qoul yang telah disebutkan. Tetapi jika tidak tahu/ yaqin apakah jum’atnya memenuhi syarat qoul pertama maka di sunnahkan mengulang sholat dhuhur, untuk berhati-hati dan menghindar dari dari ulama’ yang melarang jum’at kurang dari 40.” 

Sebenarnya, ada banyak hujjah yang lain yang dijelaskan dalam Kitab Hasyiyah Bajuri Syarh Fath al-Qarib, yang menyebutkan adanya 15 model shalat Jum’at, bahkan dengan dua pendapat yang pertama menyatakan mengadakan shalat Jum’at sendirian (pendapat Ibn Hazm), dan dua orang saja (pendapat Imam Al-Nakha’i). Akan tetapi, kedua pendapat ini diabaikan disebabkan unsur tidak tertadwin (referensi yang kuat). Alhasil, pendapat yang memiliki sisi nilai muktabar adalah pendapat yang menyatakan jumlah jamaah terdiri dari 3 orang. Pendapat ini berasal dari kalangan Hanafiyah, termasuk di dalamnya adalah Abu Yusuf dan diadopsi dalam qaul qadim Imam Syafii.

Baca Juga :  Hukum Perempuan Melakukan Jual Beli pada Waktu Shalat Jumat

Pendapat yang memilih pelaksanaan Jum’at yang terdiri dari minimal 3 orang jamaah dengan salah satunya berlaku sebagai Imam adalah pendapat yang dla’if (lemah) dalam mazhab Syafi’i. Sementara pendapat yang muktamad adalah pendapat yang menyatakan minimal 40 orang. Maka shalat Jum’at dengan kondisi jamaah yang kurang dari 40 jamaah di atas, hukumnya adalah belum menggugurkan penggantian shalat dhuhur. Oleh karena itu, maka bagi yang melaksanakan jum’at dengan jumlah jamaah yang kurang dari 40 orang menjadi wajib mengulangi (i’adah) shalat dhuhur setelah selesai jum’atan. Hukum mengulangi ini, sebagian ulama memandangnya wajib, dan di sisi lain, ada ulama yang memandangnya sebagai sunnah saja. Wallahu a’lam bi al-shawab

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Shalat Jum’at menjadi salah satu rangkaian ibadah individu yang hukumnya wajib secara berjamaah, khususnya bagi pihak yang disebut sebagai ahlu al-Jumat. Ahli Jumat ini terdiri dari beberapa orang yang memiliki 7 ciri sebagai berikut: beragama Islam, berakal, baligh, laki-laki, merdeka, sehat dan tinggal di perkampungan (mustauthin). Dengan demikian, pihak yang disebut sebagai uzur Jumat adalah kebalikan dari 7 hal di atas, dan salah satunya adalah sakit (maridl). Kajian kita kali ini berkonsentrasi pada illat “sakit” ini. (Baca: Argumen Shalat Jumat hanya 3 Orang dalam Kondisi Lockdown) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here