Apakah Thawaf Harus Jalan Kaki?

0
307

BincangSyariah.Com – Thawaf merupakan bagian dari rangkain ibadah haji yang wajib dilakukan. Dalam pelaksanaannya, thawaf dianjurkan untuk dilakukan dengan berjalan kaki. Namun apakah thawaf harus berjalan kaki? Bagaimana jika dilakukan dengan berkendara atau lainnya, apakah sah?

Menurut para ulama, jika tidak mampu berjalan karena ada uzur, baik kondisi fisik lemah, sudah lanjut usia, atau lainnya, maka boleh melakukan thawaf dengan berkendara, menggunakan kursi roda, atau alat bantu lainnya. Dalam kondisi demikian, boleh melakukan thawaf tanpa jalan kaki. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah berikut;

ﻻ ﺧﻼﻑ ﺑﻴﻦ اﻟﻔﻘﻬﺎء ﻓﻲ ﺻﺤﺔ ﻃﻮاﻑ اﻟﺮاﻛﺐ ﺇﺫا ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﻋﺬﺭ ﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﻡ ﺳﻠﻤﺔ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ، ﻗﺎﻟﺖ: ﺷﻜﻮﺕ ﺇﻟﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻲ ﺃﺷﺘﻜﻲ ﻓﻘﺎﻝ: ﻃﻮﻓﻲ ﻣﻦ ﻭﺭاء اﻟﻨﺎﺱ ﻭﺃﻧﺖ ﺭاﻛﺒﺔ

Tidak ada perbedaan di kalangan ulama fiqih mengenai keabsahan thawaf bagi orang yang berkendara jika ada uzur padanya. Hal ini berdasarkan hadis Ummu Salamah, dia berkata; ‘Saya mengadu kepada Rasulullah bahwa saya sedang sakit. Kemudian Rasulullah berkata, ‘Thawaflah di belakang manusia dalam keadaan kamu berkendara.

Adapun jika mampu berjalan dan tidak ada uzur, maka menurut ulama Malikiyah dan Hanafiyah harus melakukan thawaf dengan jalan kaki. Menurut mereka, thawaf merupakan ibadah seperti halnya shalat, tidak boleh dilakukan dalam keadaan berkendara tanpa ada uzur. Jika melakukan thawaf dengan berkendara tanpa ada uzur, maka harus membayar denda atau dam. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah berikut;

ﻭﺫﻫﺐ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻭاﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﻭﺃﺣﻤﺪ ﻓﻲ ﺇﺣﺪﻯ اﻟﺮﻭاﻳﺎﺕ ﻋﻨﻪ، ﺇﻟﻰ ﺃﻥ اﻟﻤﺸﻲ ﻓﻲ اﻟﻄﻮاﻑ ﻣﻦ ﻭاﺟﺒﺎﺕ اﻟﻄﻮاﻑ، ﻓﺈﻥ ﻃﺎﻑ ﺭاﻛﺒﺎ ﺑﻼ ﻋﺬﺭ ﻭﻫﻮ ﻗﺎﺩﺭ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﺸﻲ ﻭﺟﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺩﻡ، ﻭاﺳﺘﺪﻟﻮا ﻋﻠﻴﻪ: ﺑﺄﻥ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: اﻟﻄﻮاﻑ ﺑﺎﻟﺒﻴﺖ ﺑﻤﻨﺰﻟﺔ اﻟﺼﻼﺓ. ﻭﻷﻥ اﻟﻄﻮاﻑ ﻋﺒﺎﺩﺓ ﺗﺘﻌﻠﻖ ﺑﺎﻟﺒﻴﺖ ﻓﻠﻢ ﻳﺠﺰ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﺭاﻛﺒﺎ ﻟﻐﻴﺮ ﻋﺬﺭ ﻛﺎﻟﺼﻼﺓ،

Baca Juga :  Hukum Makan dan Minum saat Tawaf

Ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Imam Ahmad dalam satu riwayat darinya, bahwa berjalan kaki merupakan bagian dari kewajiban thawaf. Jika seseorang thawaf dengan berkendara tanpa ada uzur dan mampu berjalan, maka wajib baginya membayar denda atau dam. Mereka mendasarkan hal ini dengan sabda Nabi Saw, dia berkata; ‘Thawaf di Baitullah seperti halnya shalat.’ Juga karena thawaf merupakan ibadah yang berhubungan dengan Baitullah sehingga tidak boleh dilakukan dengan berkendara tanpa adanya uzur, seperti halnya shalat.

Sementara itu, ulama Syafiiyah mengatakan bahwa thawaf tidak harus dilakukan dengan berjalan kaki. Thawaf boleh dilakukan dengan berkendara meskipun mampu berjalan dan tidak ada uzur. Hanya saja, jika tidak ada uzur dan mampu berjalan kaki, maka lebih utama melakukan thawaf dengan berjalan kaki dibanding berkendara. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu berikut;

فإن طاف راكبا بلا عذر جاز بلا كراهة لكنه خالف الأولى . كذا قاله جمهور أصحابنا

Jika seseorang thawaf dengan berkendara tanpa ada uzur, maka hukumnya boleh dan tidak makruh, hanya saja menyalahi yang lebih utama. Seperti ini yang dikatakan sebagian besar ulama kami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here