Apakah Sunnah Buka Puasa dengan Makanan yang Manis-Manis?

0
318

BincangSyariah.com – Saat bulan Ramadhan tiba biasanya aneka makanan kuliner buka puasa dijajakan di mana-mana. Yang paling khas dan selalu ada di bulan Ramadhan adalah minuman takjil, pembatal puasa lainnya yang manis-manis.

Ada yang beranggapan berbuka dengan yang manis-manis ini memang dianjurkan dalam agama. Apakah memang demikian?

Asal muasal anjuran agar mengawali berbuka dengan yang manis-manis sebenarnya juga dari ijtihad ulama yang memahami kurma dari sisi rasanya yang manis, bukan wujud fisiknya sehingga mencakup segala jenis makanan yang rasanya manis.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Biasanya Rasulullah berbuka puasa dengan kurma muda sebelum sholat magrib, jika tidak ada kurma muda maka berbuka dengan kurma matang, jika tidak ada kurma matang, maka beliau meneguk beberapa teguk air. (Hadis riwayat Abu Daud no.2356)

Ar Rauyani berpendapat bahwa kurma dalam hadits ini dikiaskan atau dianalogikan sehinga jika tidak ada kurma boleh diganti dengan makanan dan minuman yang manis.

Barangkali berdasarkan pendapat ini kemudian banyak masyarakat muslim di tanah air yang mengubahnya menjadi berbuka dengan yang manis, karena kurma bukan buah yang tumbuh di tanah air.

Apalagi secara medis memang dianjurkan demikian. Ibu Uji Mujiyati, SP, MKM, RD berpendapat bahwa berbuka yang manis intinya adalah menggantikan kadar gula darah kita supaya tetap kembali ke normal. Karena selama berpuasa itu kadar gula darah kita turun.

Jangan beranggapan bahwa dengan yang manis kita dengan bebas minum, secara kasarnya misalnya kita minum air teh manis langsung 12 gelas.

Maka setiap datang bulan Ramadhan selalu muncul berbagai kuliner khas Ramadhan khususnya menu berbuka puasa atau takjil seperti kolak, biji salak,bubur sumsum, es blewah, sirup kolang-kaling dan lainnya.

Baca Juga :  Anjuran Dan Keutamaan Berbagi Takjil

Apakah berbuka dengan aneka minuman khas tanah air ini tidak bisa menggantikan sunnahnya takjil atau buka dengan kurma.?

Sebagian ulama berpendapat ada keberkahan yang secara khusus hanya ada pada buah kurma, sehingga tidak tepat jika sifat manis kurma dikiaskan dengan makanan lainnya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda mengenai keberkahan kurma dalam hadits riwayat Imam Bukhari.

إنَّ مِن الشجَرِ لما بَرَكَتُهُ كَبركةِ المسلمِ ) . فَظننتُ أنَّهُ يعني النخلةَ ، فأردتُ أنْ أقول : هي النخلةُ يا رسولَ الله ، ثم التَفتُّ فإذا أنا عاشِرُ عَشَرةٍ أنا أحْدَثهُم فسَكتُّ ، فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : هيَ النَّخلَة

Sesungguhnya ada pohon yang daunnya tidak berguguran dan ia merupakan permisalan seorang muslim. Pohon apakah itu? Aku (Ibnu Umar) menyangka yang dimaksud adalah pohon kurma. Namun aku enggan “wahai Rasulullah, itu adalah pohon kurma”, maka aku berpaling. Karena aku terlalu muda untuk bicara kepada mereka, jadi aku diam saja. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun memberitahu jawabannya: “Pohon tersebut adalah pohon kurma” (HR. Bukhari no.131, Muslim no.2811).

Syaikh Salim Al-Hilali menjelaskan kurma itu memiliki keberkahan keberkahan yang khusus yang bisa mempengaruhi hati dan membersihkannya. Ini tidak diketahui kecuali oleh orang yang mengikuti sunnah.

Banyak ulama yang telah menjelaskan mengapa Nabi mendahulukan makan kurma ketika berbuka puasa, karena kurma sifatnya yang manis dan memiliki dampak menguatkan tubuh orang yang puasa.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here