Apakah Sah Salat Sambil Bersandar pada Dinding?

0
389

BincangSyariah.Com – Salah satu rukun salat fardu adalah berdiri bagi orang yang mampu. Jika tidak mampu berdiri, maka boleh salat fardu sambil duduk. Jika duduk pun tidak mampu, maka boleh salat fardu dalam keadaan tidur berbaring. Namun bagaimana jika ada seseorang yang melaksanakan salat fardu dalam keadaan berdiri tapi sambil bersandar pada dinding, apakah salatnya sah?

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Setidaknya, ada tiga pendapat di kalangan ulama Syafiiyah dalam masalah ini.

Pertama, seseorang boleh melaksanakan salat fardu dalam keadaan berdiri sambil bersandar pada dinding, tongkat, atau lainnya, meskipun seandainya sandaran itu hilang ia akan jatuh. Hal ini karena berdiri dalam salat fardu tidak disyaratkan berdiri secara mandiri. Ini adalah pendapat yang paling sahih.

Kedua, tidak boleh salat fardu sambil bersandaran pada dinding atau lainnya. Oleh karena itu, jika seseorang salat fardu dalam keadaan berdiri sambil bersandaran, maka hukum salatnya tidak sah.

Ketiga, seseorang boleh salat fardu sambil bersandaran pada dinding atau lainnya selama ia tidak akan jatuh seandainya sandaran tersebut dihilangkan. Namun jika sandaran dihilangkan ia akan jatuh, maka tidak boleh dan salatnya tidak sah.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Raudhatut Thalibin berikut;

ويشترط في القيام، الانتصاب. وهل يشترط الاستقلال بحيث لا يستند؟ فيه أوجه: أصحها وهو المذكور في (التهذيب)، وغيره لا يشترط. فلو استند إلى جدار أو إنسان، بحيث لو رفع السناد لسقط، صحت صلاته مع الكراهة والثاني: يشترط، ولا يصح مع الاسناد عند القدرة بحال. والثالث: يجوز إن كان بحيث لو رفع السناد لم يسقط، وإلا، فلا

“Syarat dalam berdiri adalah tegak lurus. Lalu apakah disyaratkan berdiri secara mandiri tanpa bersandar pada apapun? Terdapat beberapa pendapat dalam masalah ini. Pendapat yang paling sahih adalah pendapat yang dijelaskan dalam kitab al-Tahzib dan kitab yang lain, bahwa tidak disyaratkan berdiri secara mandiri. Oleh karena itu, jika seseorang bersandar pada tembok atau manusia sekiranya jika sandaran itu dihilangkan maka ia akan terjatuh, maka salat yang ia laksanakan tetap sah besertaan terkena hukum makruh. Pendapat kedua, disyaratkan berdiri secara mandiri, maka tidak sah salatnya seseorang yang bersandar ketika ia masih mampu berdiri secara mandiri. Pendapat ketiga, boleh bersandar sekiranya ketika sandaran dihilangkan maka ia tidak terjatuh. Seandainya sandaran itu dihilangkan ia terjatuh, maka tidak boleh baginya bersandar.”

Baca Juga :  Lupa Mengucap Tatswib dalam Azan Subuh, Sahkah Azannya?


BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here