Apakah Pertanian Umbi-Umbian ada Zakatnya?

0
280

BincangSyariah.Com – Apakah pertanian umbi-umbian ada zakatnya? Zakat di bidang pertanian merupakan salah satu ibadah yang manfaatnya sangat signifikan bagi umat islam, khususnya di Indonesia yang salah satu basis ekonominya ialah agraria.

Sebagaimana kita ketahui bersama, kurma, anggur, gandum, beras, jagung, dan kacang-kacangan merupakan beberapa komoditas yang wajib dizakati jika hasilnya sudah mencapai nishab yakni 5 wasaq atau sekira 750 kg. Bila pertanian mengandalkan pengairan tadah hujan, prosentase zakatnya ialah 10%, sedangkan bila mengandalkan irigasi yang berbayar, prosentase zakatnya ialah 5%.

Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa tidak semua komoditas pertanian harus dizakati. Hanya beberapa saja, yakni apabila berupa pertanian buah (tsimar), yang dizakati hanyalah komoditas kurma dan anggur saja. Sementara bila berupa pertanian persawahan (az-zar’), yang dizakati hanya komoditas yang bisa digunakan sebagai makanan pokok (qut), berupa bebijian (hubub) dan bisa disimpan (shalih lil iddikhar), yakni gandum, beras, dan sesamanya.

Hal ini sebagaimana dijelaskan Imam Abu Zakaria Muhyiddin Yahya bin Syaraf an-Nawawi, dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (Kairo: Dar al-Hadits, 2000, j. 5 h. 437),

مذهبنا أنه لا زكاة في غيره النخل والعنب من الاشجار ولا في شئ مِنْ الْحُبُوبِ إلَّا فِيمَا يُقْتَاتُ وَيُدَّخَرُ

“Madzhab kami (Syafiiyyah) menyebutkan bahwasanya tidak ada zakat pada selain kurma dan anggur, serta tidak ada zakat pada bebijian kecuali yang bisa dijadikan sebagai makanan pokok dan layak disimpan”.

Dengan demikian, komoditas pertanian yang tidak menepati kriteria sebagaimana disebutkan diatas semisal umbi-umbian seperti singkong, ubi, kentang, porang, dan lainnya tidak termasuk ke dalam komoditas hasil pertanian yang wajib dizakati.

Baca Juga :  Berapa Jatah Maksimal Daging yang Boleh Diambil Orang yang Berkurban

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here