Apakah Minum Air Putih Membatalkan Wudhu?

0
16

BincangSyariah.Com – Ketika kita selesai melakukan wudhu, kita terkadang makan suatu makanan dan kemudian minum air putih. Apakah minum air putih bisa membatalkan wudhu? (Baca: Habib Luthfi: Jangan Langsung Minum Setelah Makan)

Dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa minum air putih tidak termasuk bagian dari hal-hal yang membatalkan wudhu. Begitu juga minum selain air putih, misalnya minum susu, teh, jus, dan lainnya, semuanya tidak membatalkan wudhu. Oleh karena itu, jika kita minum air putih setelah kita melakukan wudhu, atau minum jenis minuman lainnya, maka wudhu kita tidak batal.

Disebutkan bahwa hal-hal yang membatalkan wudhu ada enam, dan minum air putih tidak termasuk di dalamnya. Yaitu, sesuatu yang keluar dari kubul dan dubur, tidur selain tidur yang kedua pantat ditekan ke tanah atau lantai, hilang akal baik karena mabuk atau sakit, menyentuh lawan jenis tanpa ada penghalang, menyentuh kemaluan depan (kubul) dengan telapak tangan, dan terakhir menyentuh kemaluan belakang (dubur) dengan telapak tangan.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Matn Abi Syuja’ berikut;

والذي ينقض الوضوء ستة اشياء ما خرج من السبيلين والنوم على غير هيئة المتمكن وزوال العقل بسكر أو مرض ولمس الرجل المرأة الأجنبية من غير حائل ومس فرج الآدمي بباطن الكف ومس حلقة دبره على الجديد

Dan hal yang membatalkan wudhu ada enam. Yaitu, sesuatu yang keluar dari dua jalan (kubul dan dubur), tidur selain tidur yang menekan pantat, hilang akal sebab mabuk atau sakit, menyentuhnya laki-laki terhadap perempuan ajnabi tanpa ada penghalang, menyentuh kemaluan anak adam dengan telapak tangan, dan menyentuh dubur anak adam, menurut qaul jadid.

Begitu juga dengan makan, ia tidak termasuk bagian yang membatalkan wudhu. Menurut kebanyakan para ulama, makan tidak membatalkan wudhu, meskipun sesuatu yang dimakan tersebut dimasak dengan api. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

لاَ يَجِبُ الْوُضُوءُ بِأَكْل شَيْءٍ مِمَّا مَسَّتْهُ النَّارُ، وَبِهِ قَال جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ، وَهُوَ مَحْكِيٌّ عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَابْنِ مَسْعُودٍ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَأَبِي طَلْحَةَ وَأَبِي الدَّرْدَاءِ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَعَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ وَأَبِي أُمَامَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ – وَبِهِ قَال جُمْهُورُ التَّابِعِينَ وَالْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ

Tidak wajib wudhu sebab makan sesuatu yang dimasak dengan api. Ini adalah pendapat kebanyakan para ulama, dan ini yang diriwayatkan dari Abu Bakar Al-Shiddiq, Umar, Utsman, Ali, Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Abu Thalhah, Abu Al-Darda’, Ibnu Abbas, Amir bin Rabi’ah, Abu Umamah, dan ini pula merupakan pendapat kebanyakan para tabi’in, ulama Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah dan Hanabilah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here