Apakah Menyentuh Istri Membatalkan Wudu?

0
13445

BincangSyariah.Com – Para ulama fikih berbeda pendapat tentang masalah apakah menyentuh istri akan membatalkan wudu atau tidak. Hal ini disebabkan oleh berbedanya ulama dalam mengambil kesimpulan hukum dalam surah al-Maidah ayat 6:

أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاء فَلَمْ تَجِدُواْ مَاء فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدًا طَيِّبًا

“Atau kamu menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapati air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci).” (QS al-Maidah: 6)

Secara harfiah, ayat tersebut menyatakan bahwa menyentuh wanita menyebabkan batalnya wudu. Sehingga ia diperintahkan mencari air untuk berwudu kembali, jika tidak menemukan air maka diperintahkan untuk bertayamum.

Namun, dalam ayat di atas tidak dijelaskan secara jelas tentang wanita mana yang jika disentuh membatalkan wudu seseorang, apakah wanita yang menjadi mahramnya atau bukan, wanita yang sudah baligh atau belum. Siapa saja yang jika menyentuh wanita bisa membatalkan wudu? Apakah semua gender, atau terbatas bagi laki-laki saja? Belum lagi soal bagian anggota tubuh, apakah kulit, gigi atau termasuk rambutnya juga.

Para ulama fikih dari mazhab Syafii memandang bahwa bersentuhan kulit secara langsung antara laki-laki  dan wanita yang bukan mahramnya dapat membatalkan wudu. Jika sentuhan itu tidak dihalangi oleh apapun seperti kain, kertas, dan lain sebagainya. Sentuhan tersebut baik dengan syahwat ataupun tidak. Sengaja atau tidak.

Istri bukanlah mahram bagi suaminya. Maka menurut mazhab Syafi’i bersentuhan kulit antara suami istri membatalkan wudu.

Dalam kitab Raudhah at-Thalibin tentang hal-hal yang membatalkan wudu, Imam Nawawi menjelaskan:

الناقض الثالث: لمس بشرة امرأة مشتهاة، فإن لمس شعرا، أو سنا، أو ظفرا، أو بشرة صغيرة لم تبلغ حد الشهوة، لم ينتقض وضوءه، على الأصح. وإن لمس محرما بنسب، أو رضاع، أو مصاهرة، لم ينتقض على الأظهر.وإن لمس ميتة، أو عجوزا لا تشتهى، أو عضوا أشل، أو زائدا، أو لمس بغير شهوة، أو عن غير قصد، انتقض على الصحيح في جميع ذلك، وينتقض وضوء الملموس على الأظهر

“Pembatal (wudu) yang ketiga adalah menyentuh wanita musytahah. Jika ia menyentuh rambut, gigi, atau kuku wanita, atau menyentuh anak kecil yang tidak mengundang syahwat maka wudunya tidak batal. Menurut pendapat yang sahih dalam mazhab ini (Syafii). Begitu juga menyentuh mahram, baik mahram karena nasab, sepersusuan atau mushaharah, maka wudunya tidak batal. Adapun jika ia menyentuh wanita yang sudah meninggal atau wanita tua yang sudah tidak mengundang syahwat, atau anggota tubuh wanita yang cacat atau yang organ tambahan, atau ia sentuhan tanpa syahwat dan tidak disengaja maka wudunya batal menurut pendapat yang sahih dalam mazhab ini, begitu juga batalnya wudu orang yang disentuh.”

Baca Juga :  Lima Hal yang Membatalkan Wudhu

Berbeda dengan madzhab Syafii, para ulama dari kalangan mazhab Hanafi cenderung memaknai kalimat lamastumun nisa dengan makna majazi, yakni jima’ atau hubungan seksual.

Sementara, menurut mazhab Hanafi dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, sentuhan kulit antara laki-laki dan wanita bukan mahram (termasuk istrinya) tidaklah membatalkan wudu secara mutlak, walaupun sentuhan itu dilakukan dengan syahwat. Sebab yang menjadi ukuran batalnya wudu dalam hal ini adalah terjadinya jima’. Maka, sentuhan yang tidak sampai pada hubungan seksual tidak membatalkan wudu.

Namun ulama dalam mazhab Hanafi berbeda pendapat mengenai percumbuan antara laki-laki dan wanita dengan tanpa busana, yang menjadikan hampir seluruh tubuh mereka saling bersentuhan dengan syahwat. Tidak terjadi penetrasi, juga tidak sampai keluar air mani.

Abu Hanifah dan Yusuf memandangnya dengan kacamata istihsan yang menjadikan keduanya berhadas, sehingga otomatis membatalkan wudu. Berbeda dengan Muhammad bin Hasan as-Syaibani  yang menghukumnya dengan qiyas, perbuatan tersebut tidak membatalkan wudu sebab tidak sampai terjadi penetrasi atau jima’ yang sesunguhnya.

Ulama dari mazhab Maliki dan Hambali sepakat bahwa yang membatalkan wudu adalah sentuhan yang disertai syahwat. Maka, sekedar menyentuh saja tidak membatalkan wudu jika tidak disertai syahwat.

Demikian pendapat masing-masing mazhab yang cenderung berbeda satu sama lain.  Namun tidak untuk dijadikan ajang perselisihan di kalangan umat Islam. Sebab tiap pendapat para ulama mazhab tentu melalui proses istimbat hukum dengan metode usul fikih yang sudah dirumuskan oleh para mujtahid yang kompeten di bidangnya. Wallahu ‘alam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here