Apakah Menikah Harus Ada Saksinya?

0
414

BincangSyariah.Com – Pernikahan adalah ikatan lahir batin seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kebijakan itulah yang tertulis dalam Undang-undang No. 1 tahun 1974.

Ucapan terhadap kesaksian dalam pernikahan adalah wajib. Tidak sah sebuah pernikahan tanpa kehadiran dua orang saksi. Adapun yang dimaksud dengan kesaksian di sini adalah pemberitahuan seseorang yang benar di depan pengadilan dengan ucapan kesaksian untuk menetapkan hak oang lain. Al Syafi’i setuju dengan wajibnya keberadaan saksi berdasarkan hadis Rasulullah yang berbunyi:

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: لاَ نِكَاحَ اِلاَّ بِوَلِيٍّ وَ شَاهِدَى عَدْلٍ. احمد  بن حنبل

Dari‘Imran bin Hushain dari Nabi saw. beliau bersabda,“Tidak ada nikah melainkan dengan wali dan dua saksi yang adil”. [HR. Ahmad bin Hanbal]

Berdasarkan hadis tersebut, keberadaan saksi dalam pernikahan adalah wajib. Sehingga jika ada pernikahan yang tidak menghadirkan saksi nikah adalah batil, atau tidak sah, karena saksi merupakan salah satu rukun nikah. Dalam kitab Al Muwattha’, Imam Malik memaparkan bahwa pernikahan yang tanpa saksi adalah memiliki sanksi untuk dirajam. Hal tersebut berdasarkan suatu riwayat dari Abu Zubair Al Makki sebagai berikut:

عن ابى الزبير المكي اَنَّ عُمَرَ بْنَ اْلخَطَّابِ اُتِيَ بِنِكَاحٍ لَمْ يَشْهَدْ عَلَيْهِ اِلاَّ رَجُلٌ وَ امْرَأَةٌ فَقَالَ: هذَا نِكَاحُ السِّرِّ وَ لاَ اُجِيْزُهُ وَ لَوْ كُنْتَ تَقَدَّمْتَ فِيْهِ لَرُجِمْتَ.

Dari Abu Zubair Al Makki, bahwa sesungguhnya pernah diajukan kepada Umar bin Khattab sebuah pernikahan yang tidak disaksikan melainkan hanya seorang lelaki dan wanita. Umar berkata: “ini adalah nikah sirri, aku tidak memperkenankannya, dan kalau engkau tetap melakukannya tentu aku rajam.”

Hikmah adanya saksi dalam sebuah pernikahan adalah untuk menolak keraguan dan tuduhan dari pernikahan tersebut. Selain itu, dengan saksi tersebut kita bisa membedakan mana yang halal dan haram. Sehingga menjadi nyata terhadap urusan pernikahan dan kehati-hatian dalam menetapkan pernikahan tatkala dibutuhkan. Sebab menurut Tihami dan Sohari, saksi tersebut bisa menjadi alat bukti dan tentu untuk menegakkan keadilan.

Baca Juga :  Imam dan Makmum Bisu, Apakah Sah Salat Jamaahnya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here