Apakah Mengupil Membatalkan Wudhu?

0
26

BincangSyariah.Com – Di dalam kitab-kitab fiqih sudah banyak dijelaskan mengenai hal-hal yang membatalkan wudhu, di antaranya adalah sesuatu yang keluar dari kubul atau dubur, menyentuh lawan jenis tanpa penghalang dan lainnya. Namun bagaimana dengan mengupil, apakah mengupil itu termasuk yang membatalkan wudhu?

Jika di hidung seseorang keluar upil atau kotoran hidung dan kemudian dia membersihkannya dalam keaadaan sedang memiliki wudhu, maka wudhunya tidak batal. Hal ini karena meski upil termasuk kotoran yang berasal dari tubuh, namun karena tidak keluar dari kubul atau dubur, melainkan keluar dari hidung, maka hal itu tidak membatalkan wudhu.

Menurut ulama Syafiiyah, hal-hal yang membatalkan wudhu ada enam, dan mengupil tidak termasuk bagian di dalamnya. Yaitu, sesuatu yang keluar dari kubul dan dubur, tidur selain tidur yang kedua pantat ditekan ke tanah atau lantai, hilang akal baik karena mabuk atau sakit, menyentuh lawan jenis tanpa ada penghalang, menyentuh kemaluan depan (kubul) dengan telapak tangan, dan terakhir menyentuh kemaluan belakang (dubur) dengan telapak tangan.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Matn Abi Syuja’ berikut;

والذي ينقض الوضوء ستة اشياء ما خرج من السبيلين والنوم على غير هيئة المتمكن وزوال العقل بسكر أو مرض ولمس الرجل المرأة الأجنبية من غير حائل ومس فرج الآدمي بباطن الكف ومس حلقة دبره على الجديد

Dan hal yang membatalkan wudhu ada enam. Yaitu, sesuatu yang keluar dari dua jalan (kubul dan dubur), tidur selain tidur yang menekan pantat, hilang akal sebab mabuk atau sakit, menyentuhnya laki-laki terhadap perempuan ajnabi tanpa ada penghalang, menyentuh kemaluan anak adam dengan telapak tangan, dan menyentuh dubur anak adam, menurut qaul jadid.

Selain upil dan mengupil tidak membatalkan wudhu, juga upil dihukumi suci, tidak najis. Oleh karena itu, jika seseorang mengupil setelah melakukan wudhu, maka dia tidak perlu mengulangi wudhunya dan juga tidak perlu membasuh tangannya. Hal ini karena semua kotoran yang keluar selain dari kubul dan dubur dihukumi suci, seperti kotoran telinga, ludah, dan kotoran hidung dan lainnya.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Hasyiatul Baijuri berikut;

وكل مائع خرج من السبيلين نجس قوله ( خرج من السبيلين) أي من أحد السبيلين القبل والدبر. –إلى أن قال- وخرج بقوله من السبيلين الخارج من بقية المنافذ فهو طاهر الّا القيء الخارج من الفم بعد وصوله الى المعدة وإن لم يتغيّر

Artinya:

Segala benda cair yang keluar dari dua jalan adalah najis. Maksud dari cairan yang keluar dari dua jalan adalah keluar dari salah satu dua jalan yang berupa qubul dan dubur. Dikecualikan dengan perkataan ‘dari dua jalan’ yaitu perkara yang keluar dari lubang-lubang tubuh yang lain (telinga, hidung, mulut) maka dihukumi suci kecuali muntahan yang keluar dari mulut setelah awalnya muntahan tersebut telah sampai pada perut, meskipun warna muntahan tidak berubah (maka dihukumi najis).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here