Apakah Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban Bidah?

0
335

BincangSyariah.Com – Ulama berbeda pendapat dalam menyikapi serangkain ritual ibadah yang dilakukakan umat muslim pada malam Nisfu sya’ban. Setidaknya, perbedaan pendapat ulama tersebut dapat dibagi dua; bid’ah hasanah dan bid’ah madzmumah.

Di antara ulama yang menghidupkan malam Nisfu sya’ban adalah ulama Syam seperti Khalid bin Ma’dan dan lainya. Mereka menilai bahwa menghidupkan malam Nishfu Sya’ban sebagai bid’ah hasanah/mustahsanah (yang dinilai baik).

Mereka menilai serangkain ibadah yang dikerjakan pada malam Nisfu sya’ban masuk dalam cakupan ibadah yang dinilai baik dan secara umum diperintahkan oleh Allah. Zikir dan doa yang dilakukan pada malam Nisfu sya’ban secara umum diperintahkan oleh Allah baik sendirian maupun berjamaah di masjid-masjid dan lainnya, dan juga dalam setiap waktu dan kondisi.

Dalam pandangan mereka, tidak semua perkara baru atau cara baru dalam beribadah dilarang dan masuk dalam cakupan bid’ah dhalalah atau madzmumah. Perkara baru dalam beribadah dilarang apabila bertentang dengan sunnah Nabi Saw atau syariat Allah.

Dalam kitab Ihya ‘Ulum ad-Din al-Imam al-Ghazali berkata: “Tidak setiap pembarun yang terjadi setelah Nabi Saw menjadi larangan. Yang menjadi larangan adalah pembaruan yang bertentangan dengan sunnah yang resmi dan menghilangkan suatu perkara dalam syara’ sementara ‘illatnya masih ada. Bahkan pembaruan itu terkadang bisa menjadi wajib bila sebab-sebabnya telah berubah.”

Bahkan dalam kitab Fath al-Bari al-Hafizh Ibnu Hajar menegaskan bahwa bid’ah kadang bisa menjadi wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Hal ini karena hukum bid’ah bisa terbagi ke dalam lima hukum tersebut. Untuk lebih jelasnya, beliau berkata: “Pada faktanya, sungguh bila bid’ah tercakup dalam suatu asal yang dinilai baik oleh syara’ maka merupakan bid’ah hasanah, sedangkan bila tercakup dalam suatu asal yang dinilai jelek oleh syara’ maka merupakan bid’ah mustaqbahah (yang dinilai jelek). Bila tidak demikian maka termasuk kategori bagian perkara yang diperbolehkan. Dan  bid’ah itu dapat terbagi menjadi lima hukum.”

Sedangkan ulama yang mengatakan menghidupkan malam Nisfu sya’ban sebagai bid’ah madzmumuah (yang dinilai tercela) karena mereka beralasan dengan kemakruhan melakukan ibadah tertentu dalam waktu tertentu yang Allah dan Nabi Saw tidak menganjurkannya secara wajib.

Baca Juga :  Maksud Hadis Silaturahim Memperpanjang Umur

Di antara ulama yang menilai menghidupkan malam Nisfu sya’ban sebagai bid’ah madzmumah adalah al-Imam al-Qarafi. Dia berkata: “Sungguh menentukan hari-hari fadhilah atau selainnya dengan suatu macam ibadah adalah bid’ah makruhah (yang dimakruhkan).”

Sedangkan asy-Syathibi berpendapat: “Sungguh terus-menerus melakukan puasa pada hari Nisfu sya’ban dan qiyam al-lail di malam harinya adalah bid’ah madzmumah.”

Dari kedua pendapat ulama tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pendapat pertama adalah yang lebih kuat. Bahkan dalam kitab Tuhfah al-Ikhwan, al-‘Allamah Syihabuddin Ahmad bin Hijazi al-Fasyani menilai kesunnahan menghidupkan malam Nisfu sya’ban secara mutlak.

Beliau berkata; “Kesimpulannya, sungguh hukum menghidupkan malam Nisfu sya’ban itu disunnahkah karena terdapat hadis-hadis yang menerangkannya. Caranya bisa dengan melaksanakan shalat tanpa hitungan rakaat tertentu, membaca al-Qur’an sendirian, zikir kepada Allah, berdo’a, membaca tasbih, bershalawat bagi Nabi Saw secara berjamaah atau sendirian, membaca hadis dan mendengarkannya, mengadaan kajian dan majelis tafsir al-Qur’an dan penjelasan hadis, membicarakan keutamaan malam Nisfu sya’ban, menghadiri majelis tersebut, dan mendengarkannya, serta ibadah selainnya.” Begitulah kesimpulan beliau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here