Apakah Mengganti Salat Wajib Harus pada Waktunya?

2
2080

BincangSyariah.Com – Salat wajib lima waktu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Setiap Muslim yang mukallaf tidak boleh meninggalkan salat wajib lima waktu, bahkan tidak boleh melalaikan hingga keluar dari waktunya. Jika meninggalkan atau melalaikan hingga keluar dari waktunya, maka salat tersebut wajib untuk diqadha’ atau diganti.

Namun, apakah mengganti salat harus ditunda sampai waktunya atau boleh dilakukan pada waktu yang lain?

Ulama Syafiiyah sepakat bahwa salat yang tertinggal atau sengaja ditinggal wajib diqadha’ atau diganti. Dalam mazhab Syafii, ada dua cara mengganti salat; yaitu fauri atau segera diganti dan tarakhi atau ditunda.

Jika salat tersebut sengaja ditinggalkan, misal karena lalai dan malas, maka wajib hukumnya segera mengganti salat tersebut meski waktunya belum tiba.

Misalnya seseorang sengaja meninggalkan subuh karena malas bangun tidur, maka dia wajib segara mengganti salat subuh tersebut tanpa harus menunggu waktu subuh berikutnya. Justru jika menunda sampai waktu subuh berikutnya, maka dia berdosa karena dianggap lalai mengganti salat yang ditinggalkan.

Jika salat tersebut tertinggal tanpa disengaja, seperti karena lupa, pingsan, ketiduran atau lainnya, maka menggantinya boleh ditunda. Misalnya seseorang meninggalkan salat subuh karena ketiduran, maka dia boleh mengganti salat subuh tersebut di waktu subuh berikutnya.

Namun demikian, salat yang tertinggal tanpa disengaja sebaiknya segera diganti tanpa harus menunggu waktu berikutnya.

Salat yang tertinggal tanpa disengaja lebih baik untuk segera diganti, meskipun di waktu salat yang lain. Misalnya tidak sengaja meninggalkan salat asar, maka hendaknya diganti pada waktu salat maghrib atau isya tanpa harus menunda salat asar berikutnya.

Bahkan ulama Malikiyah dan Hanabilah menegaskan bahwa salat yang tertinggal atau sengaja ditinggal, wajib segara diganti meskipun di waktu salat yang lain. Menurut mereka, mengganti salat adalah bersifat fauri atau segera dan tidak boleh ditunda sampai waktu berikutnya. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Imam Bukhari dari Anas bin Malik, Nabi Saw. bersabda;

Baca Juga :  Tata-cara Mandi Wajib

مَنْ نَسِيَ صَلاةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا

”Siapa yang terlupa salat, maka hendaklah salat ketika ia ingat.”

Juga hadis lain riwayat Imam Muslim, Nabi Saw. bersabda;

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً، أَوْ نَامَ عَنْهَا، فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Siapa yang lupa salat, atau terlewat karena tertidur, maka kafarahnya adalah ia kerjakan ketika ia ingat.”

Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa mengganti salat yang tertinggal atau sengaja ditinggal tidak harus pada waktu salat tersebut. Bahkan lebih baik segera mengganti salat, tertinggal dan lebih-lebih sengaja ditinggal, meskipun di waktu salat yang lain.

2 KOMENTAR

  1. Waah.., kalo dikaitkan dengan hadist dibawahnya, lebih ke sholat yg terlupa karna lupa sekali, ketiduran , pingsan yg sifatnya tdk sengaja, tapi klo disengaja karna malas itu lalai, apakah seperti itu dan apakah diterima ibadah..nnti yg ada umat sangat santai beribadah..aah nanti ajhlah…

    • Bener,,, pdhl kan sholat itu lbh baik dikerjakan tepat waktu,, tp klau sengaja krn alasan malas,, itu mah benar2 tdk baik.. Sholat aja malas2an,, ee seenak nya mau ganti kapan wkt,, kayak puasa ramadhan aja ya bisa di ganti sholat? Ya Allah.. Jagalaa hati kami slalu mengingat Engkau dengan cara yg wajar,aamiin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here