Apakah Menelan Ludah Membatalkan Puasa?

0
4129

BincangSyariah.Com – Ludah atau air liur merupakan cairan yang memiliki peran penting dalam menunjang kesehatan mulut dan pencernaan. Salah satu mafaatnya, sebagaimana yang dilansir di laman Alodokter adalah dapat mencegah bau mulut dan menjaga mulut tetap lembab dan sehat. Oleh karena itu, menelan ludah bagi kebanyakan orang adalah hal yang lumrah dan tidak dapat dihindari.

Namun, bagaimana jika menelan ludah dilakukan dalam keadaan berpuasa? Apakah hal ini dapat membatalkan puasa?

Imam Zainuddin al Malibari di dalam kitab Fathul Muin telah memberikan penjelasannya

(و) لايفطر(بريق طاهرصرف) اي خالص ليبتلعه (من معدنه) وهو جميع الفم ولو بعد جمعه على الأصح

Tidak membatalkan puasa sebab menelan ludah yang suci dan murni dari sumbernya yakni dari semua bagian mulut meskipun setelah dikumpulkan (ludahnya terlebih dahulu) demikian menurut pendapat yang paling shahih.” (Fathul Muin, halaman. 56, Surabaya: Nurul Huda)

Jadi menelan ludah saat berpuasa adalah diperbolehkan dan tidak membatalkan puasa. Namun, ludahnya itu dengan syarat suci, murni dan asli dari area mulut. Sehingga imam Zainuddin al Malibari dalam keterangan lanjutnya mengecualikan ludah yang najis. Misalnya ludahnya tercampur dengan darah yang keluar dari gusi, maka dapat membatalkan puasa.

Kecuali jika ia sudah berusaha meludahkannya (ludah dan darah), namun tidak memungkinkan masih adanya ludah yang tercampur darah tersebut tertelan, maka hal ini dimaafkan menurut imam Ibn Hajar al Haitami, guru dari imam Zainuddin al Malibari. Selain itu dikecualikan juga ludah yang tercampur dengan benda suci lainnya.

Karena itu, puasa seseorang menjadi batal jika ia menelan ludah yang berubah menjadi kemerah-merahan misalnya dikarenakan sudah tercampur dengan nginang (daun yang dapat berubah menjadi merah setelah ditempelkan di gigi, biasanya hal ini dilakukan oleh nenek-nenek pada zaman dulu) atau tercampur dengan pewarna pakaian atau cairan dan benda suci lainnya.

Baca Juga :  Apakah Menghirup Inhaler Membatalkan Puasa?

Pengecualian berikutnya adalah ludah yang sudah keluar dari mulutnya, bukan di atas lidahnya. Maka jika terdapat ludah yang berada di luar bibir, kemudian ia mengembalikannya dengan lidahnya lalu menelannya atau terdapat air atau basah-basahan di area bibir lalu ia memasukkannya ke dalam mulut dan menelannya maka puasanya batal.

Berbeda halnya dengan air bekas berkumur-kumur saat wudhu, maka tidak lah membahayakan puasa karena sulitnya untuk menjaga hal tersebut, meskipun memungkinkan untuk diludahkan.

Adapun masalah dahak, maka hal ini juga telah dibahas oleh imam Zakaria al Anshari di dalam kitab Fathul Wahhab Bi Syarh Minhajit Thullab  (Surabaya: al Hidayah, tth, juz 1 h. 120 sebagaimana berikut:

(لاَ) ترك (قلع نخامة ومجها) فلا يجب فلا يفطر بهما لأن الحاجة اليهما مما تتكرر (ولو نزلت) من دماغه وحصلت (في حد ظاهر فم فجرت)  الى الجوف (بنفسها وقدر على مجها أفطر) لتقصيره بخلاف ما إذا عجزعنه.

Tidak disyaratkan bagi orang yang berpuasa meninggalkan aktifitas mengeluarkan dahak dan melepehnya. Maka tidak wajib dan tidak membatalkan puasa disebabkan mengeluarkan dan melepehkan  karena dibutuhkannya akan hal tersebut berulang-ulang.

Dan seandainya dahak itu turun dari otak, menuju ke batas luar mulut lalu mengalir dengan sendirinya ke dalam perut, sedangkan ia mampu untuk melepehnya maka puasanya batal, karena sembrononya berbeda halnya jika ia tidak mampu untuk melepehnya.” Demikianlah penjelasan hukum menelan ludah dan dahak saat berpuasa.

Wallahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here