Apakah Menangis Membatalkan Wudhu?

0
4710

BincangSyariah.Com – Dalam keadaan dan momen tertentu, kita pasti pernah menangis. Umumnya kita menangis karena mengalami perasaan sedih. Baik karena ditinggal orang yang kita cintai, tertekan dari sebuah pekerjaan atau masalah, dan lain sebagainya. Ketika kita menangis sampai mengeluarkan air mata, apakah hal itu membatalkan wudhu?

Menangis tidak termasuk bagian dari perkara yang membatalkan wudhu. Karena itu, jika kita menangis dalam keadaan memiliki wudhu, maka kita tidak wajib melakukan wudhu kembali, baik kita menangis karena urusan dunia maupun akhirat, hingga mengeluarkan air mata atau tidak.

Dalam kitab-kitab fiqih, di antaranya dalam kitab Matnu Abi Syuja’,  disebutkan bahwa perkara yang membatalkan wudhu ada enam. Yaitu, semua hal yang keluar dari salah satu dua jalan (kubul dan dubur), tidur dengan tidak menetapkan pantat pada tanah, hilang akal sebab mabuk atau lainnya, bersentuhan kulit dengan lawan jenis tanpa penghalang, menyentuh kelamin manusia dengan telapak tangan, dan menyentuh kubul dan dubur.

Ahmad bin Hasan Abu Syuja’ berkata sebagai berikut;

والذي ينقض الوضوء ستة اشياء ما خرج من السبيلين والنوم على غير هيئة المتمكن وزوال العقل بسكر أو مرض ولمس الرجل المرأة الأجنبية من غير حائل ومس فرج الآدمي بباطن الكف ومس حلقة دبره على الجديد

Perkara yang membatalkan wudhu ada enam. Yaitu sesuatu yang keluar dari dua jalan (kubul dan dubur), tidur tanpa menetapkan pantat pada tanah, hilang akan sebab mabuk atau sakit, laki-laki menyentuh perempuan lain tanpa penghalang, menyentuh kelamin anak adam dengan telapak tangan, dan menyentuh lubang dubur menurut qaul jadid.

Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat diketahui bahwa menangis tidak termasuk perkara yang membatalkan wudhu. Semua ulama telah sepakat dalam hal ini. Semua hal yang keluar dari dalam tubuh tidak membatalkan wudhu kecuali jika hal tersebut keluar dari kubul dan dubur. Jika keluar dari kubul dan dubur, maka membatalkan wudhu.

Baca Juga :  Dua Surah Ini Dianjurkan untuk Dibaca Saat Kita Shalat Shubuh di Hari Jumat

Ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ berikut;

ومذهبنا انه لا ينتقض الوضوء بخروج شئ من غير السبيلين كدم الفصد والحجامة والقئ والرعاف سواء قل ذلك أو كثر وبهذا قال ابن عمر وابن عباس وابن أبي اوفى وجابر وابو هريرة وعائشة وابن المسيب وسالم بن عبد الله بن عمر والقاسم ابن محمد وطاوس وعطاء ومكحول وربيعة ومالك وابو ثور وداود قال البغوي وهو قول أكثر الصحابة والتابعين

Madzhab kami (ulama Syafiiah), wudhu tidak batal akibat keluar sesuatu selain dari dua jalan (kubul dan dubur), seperti darah bekam, muntah, baik hal itu sedikit maupun banyak. Ini adalah pendapat Ibn Umaar, Ibn Abbas, Ibn Abi Awfa, Abu Hurairah, Aisyah, Ibnu Al-Musayyib, Salim bin Abdillah bin Umar, Al-Qasim bin Muhammad, Thawus, Atha’, Makhul, Rabi’ah, Malik, Abu Tsaur, dan Daud. Imam Al-Baghawi berkata; Ini adalah pendapat kebanyakan sahabat dan tabiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here