Apakah Kewajiban Shalat Jumat Jadi Gugur Karena Shalat Idul Adha di Hari Jumat?

0
1568

BincangSyariah.Com – Apakah kewajiban shalat jumat jadi gugur karena shalat idul Adha di hari Jumat? Perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang gugur tidaknya kewajiban shalat jumat di hari raya idul fitri adalah persoalan klasik yang sebenarnya sudah banyak di bahas kitab para ulama. Seperti pembahasan ulama tentang persoalan ini?

Menurut Ibn Qudamah dalam kitabnya, al-Mughni, setelah dikumpulkan, ada setidaknya empat riwayat pendepat para ulama tentang shalat jumat di hari raya.

Pertama, mengatakan bahwa shalat jumat tetap wajib dilaksanakan dan tidak gugur dikarenakan shalat id. Ini adalah pendepat mayoritas ulama fikih

Kedua, shalat jumat gugur bagi orang yang sudah shalat id (di hari jumat). Menurut Ibn Qudamah, katanya (dalam bahasa Arab redaksinya menggunakan bentuk pasif, qiila), ini adalah mazhab yang dipilih oleh Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Sa’id bin Jubair, dan Abdullah bin Umar.

Ketiga, shalat jumat gugur bagi orang yang sudah melaksanakan shalat id, jika ia tinggal di pelosok dan jarak antara rumah dan masjid jauh sekali sehingga sulit untuk kembali melaksanakan shalat jumat secara berjamaah. Ini adalah pendapat Utsman bin Affan Ra. dan disebut-sebut pendapat yang paling shahih dari kalangan sahabat.

Keempat, dikahirkan shalat id dan mulai shalat ketika matahari di atas kepala. Dan setelah,ia tidak perlu shalat jumat dan bahkan shalat zhuhur. Ini adalah pendapat Abdullah bin Zubair dan Abdullah bin Abbas.

Dari keempat pendapat, tersebut, banyak dari para ulama yang mencoba menjelaskan, bahwa sebenarnya shalat jumat tidak bisa gugur karena melaksanakan shalat id (idul fitri/idul Adha). Pasalnya, keduanya memiliki hukum yang berbeda. Bagi pendapat ini, shalat jumat hukumnya adalah wajib sementara shalat idul Adha hukumnya adalah sunnah muakkad, yang artinya sunah yang dikukuhkan. Dan, kewajiban tidak bisa digugurkan karena kesunahan. Argumen kedua adalah, sabda Utsman bin Affan erat sekali kaitannya dengan persoalan utama yang menjadi keabsahan menggugurkan shalat jumat, yaitu kondisi masyaqqah (kesulitan yang amat sangat). Waktu itu, di masa itu kasusnya adalah orang yang dari pelosok-pelosok kalau harus shalat jumat juga, maka tidak mungkin karena mereka setelah shalat idul Adha mereka kembali ke kampungnya untuk mengurusi penyembelihan hewan kurban. Ungkapan Utsman bin Affan yang sangat populer itu disebutkan dalam hadis dari Az-Zuhri, dari Abu ‘Ubaid mawla Ibn Azhar,

Baca Juga :  Tiga Tingkatan Shalat Malam

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِي، فَلْيَنْتَظِرْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ

Bagi masyarakat penghuni pendesaan, siapa yang ingin menunggu sampai waktu shalat jumat dipersilahkan, dan yang ingin pulang langsung, saya sudah izinkan. (H.R. al-Bukhari)

Hadis diatas disebut menjadi perhatian Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ bahwa dari hadis tersebut, bahwa shalat jumat memang tidak gugur bagi penduduk kota (ahl al-balad), tapi gugur bagi penduduk desa (ahl al-qura’).

Supaya lebih memudahkan, untuk lebih mudah memberi gambaran, di masa lalu, shalat id dilaksanakan secara terpusat di kota Madinah. Dan semua orang, bahkan untuk jarak yang sangat jauh, shalat menuju ke kota Madinah untuk melaksanakan shalat idul Adha. Ini nampaknya yang menjadi latar belakang ungkapan Utsman bin Affan Ra. dan ungkapan ini tidak dibantah seorang sahabat Nabi manapun untuk mempersilahkan kepada orang yang tinggal sangat jauh dari Madinah untuk tidak melaksanakan shalat jumat (tapi tetap shalat zhuhur).

Ungkapan Utsman bin Affan dalam hadis tersebut tidak menjatuhkan kewajiban melaksanakan shalat. Karena dalam riwayat lain, dalam Shahih Muslim dari Nu’man bin Basyir, Rasulullah Saw. kalau shalat id berbarengan harinya dengan shalat jumat, beliau membaca surah yang sama dalam kedua shalat tersebut,

 عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ ، وَفِي الْجُمُعَةِ بِـ « سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى » وَ « هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ » ، قَالَ : وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلاتَيْنِ

Dari Nu’man bin Basyir; Rasulullah Saw. itu membaca surah di shalat id dan shalat jum’at, 1) sabbihisma rabbika al-a’laa (Surah Al-A’la, di rakaat pertama) dan 2) hal ataaka hadiits al-ghoosyiyah (Surah al-Ghosyiyah, di rakaat kedua). Nu’man bin Basyir berkata: kalau shalat id berbarengan (harinya) dengan shalat jumat, beliau membaca dua surah tersebut di dalam shalat id dan shalat jumat.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here