Apakah Iman Gugur Karena Tidak Shalat? Ini Jawaban Syekh Nawawi al-Bantani

0
998

BincangSyariah.Com – Apakah iman gugur karena tidak shalat ? Syekh Nawawi al-Bantani dalam karyanya Qathr al-Ghayts menjelaskan bahwa tidak gugurnya iman karena tidak melaksanakan shalat.

Tapi, pernyataan ini punya penjelasan lebih jauh. Penjelasan beliau ini dimulai dari teks tanya jawab yang disampaikan Abu Laits As-Samarqandi, ketika ditanya, “jika engkau ditanya shalat, puasa, zakat, mencintai malaikat dan kitab-kitab, mencintai para Rasul, menerima takdir baik dan buruk hakikat-Nya seluruhnya bersumber dari Allah dan lain-lain yang termasuk perintah dan larangan dalam ajaran Islam, dan ajakan mengikuti Nabi Saw., apakah itu semua termasuk syarat keimanan ? Jawabannya: “tidak, karena keimanan untuk adalah wujud mengesakan Allah. Sementara selain itu semua adalah cabang-cabang keimanan saja.”

Dari ungkapan ini, Imam An-Nawawi kemudian menjelaskan,

وأما الصلاة والصوم والزكاة والحج فهي شرط كمال على المختار عند أهل السنة. فمن تركها واعتقد وجوبها عليه أو ترك واحدا منها كذلك فهو مؤمن كامل من جريان أحكام المؤمنين في الدنيا والآخرة لأن مرجعه إلى الجنة وأن دخل النار ان لم ينل شفاعة من أحد الشافعين أو غفرانا من الله تعالى وهو مؤمن ناقص من جهة ضعف الإيمان لتركه لبعض المأمورات وإن تركها معاندًا للشرع أو شاكا في وجوبها فهو كافر إجماعا

Dan adapun shalat, puasa, zakat, dan haji maka itu semua adalah syarat sempurnanya imam menurut pendapat yang dipilih di kalangan Ahlus Sunnah. Maka siapa yang meninggalkan seluruh ibadah-ibadah tadi namun tetap meyakini kalau itu semua wajib atau meninggalkan salah satunya saja, maka ia tetaplah orang beriman dan melekat kepadanya hak-hak orang beriman, baik di dunia maupun akirat.

Karena kembalinya orang tersebut nanti tetaplah ke surge meski masuk neraka (terlebih dahulu) jika tidak mendapatkan syafaat dari seorangpun atau ampun dari Allah Ta’ala. Di saat yang sama orang yang meninggalkan ibadah itu dikategorikan mukmin yang lemah karena lemahnya imannya akibat meninggalkan sejumlah yang diperintahkan agama.

Baca Juga :  Sepuluh Perkara yang Membatalkan Puasa

Dan, jika seseorang meninggalkan ibadah itu semua seraya mengingkaru syariat atau meragukan kewajibannya maka ulama sepakat mereka menjadi kafir. Begitu juga kalau meninggalkan sebagian dari ibadah tersebut dengan sikap pengingkaran (juga menjadi kafir).

Dari pernyataan Imam An-Nawawi diatas, maka orang yang meninggalkan shalat dan ibadah-ibadah lainnya tidak segera dikatakan kafir jika tetap meyakini kewajibannya. Sementara, iman gugur ketika meninggalkan shalat terjadi jika kita melakukannya seraya menyatakan dalam hati kalau itu tidak wajib atau minimal merasa ragu terhadap kewajibannya. Karena itu, sebagian ulama memperdebatkan apa hukumnya orang yang meninggalkan shalat karena malas. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here