Apakah Berbohong Membatalkan Puasa?

0
15709

BincangSyariah.Com – Nabi saw. diutus oleh Allah Swt. tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Nabi Saw. membawa agama Islam dengan paket komplit. Agama Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana umatnya bersikap kepada Tuhan yang menciptakannya.

Tetapi agama Islam juga mengajarkan kepada hambanya bagaimana cara berinteraksi yang baik dengan sesama jenisnya, bahkan kepada semua ciptaan Tuhan yang ada di muka bumi.

Salah satu ajaran Nabi Saw. kepada umatnya adalah agar berkata jujur, dan tidak berbohong. Karena berbohong merupakan salah satu ciri orang munafik.

Dari abu Hurairah ra, ia berkata: Nabi Saw. bersabda: tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berkata, ia bohong. Jika berjanji, ia meningkari dan jika diberikan kepercayaaan, dia khianat.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Oleh karena itu berbohong sangatlah tidak diperkenankan kapan pun waktunya. Terlebih ketika sedang menjalankan ibadah puasa. Lalu, apakah berbohong saat berpuasa itu bisa membatalkan puasa?

Berbohong bukanlah termasuk perkara yang membatalkan puasa. Karena hal-hal yang dapat membatalkan puasa menurut Imam Abu Syuja’ di dalam kitab Taqrib-nya ada sepuluh. Pertama, masuknya sesuatu secara sengaja hingga sampai ke lubang yang terbuka yang menjurus ke perut.

Kedua, masuknya sesuatu lewat lubang luka yang terdapat di bagian kepala. Ketiga, menuangkan obat pada salah satu kedua jalan (qubul dan dubur). Keempat, muntah dengan sengaja. Kelima, bersetubuh secara sengaja (yaitu masuknya dzakar) ke dalam kemaluan wanita.

Keenam, keluarnya mani akibat dari sentuhan kulit secara langsung. Ketujuh, haid. Kedelapan, nifas. Kesembilan, gila, dan kesepuluh murtad.

Meskipun tidak sampai membatalkan puasa, tetapi menahan diri dari berbicara yang tidak baik atau berbohong saat berpuasa adalah bagian dari sunnah-sunnahnya puasa. Karena Nabi Saw. bersabda:

Baca Juga :  Hal yang Masuk ke Lambung, tapi Tak Membatalkan Puasa

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَل َبِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan zur, maka Allah tidak berkepentingan sedikitpun terhadap puasanya.” (HR. Al Bukhari).

Imam Ibnu Munir, imam Ibnul Arabi dan imam al Baidhawi sebagaimana dikutip oleh imam Ibnu Hajar di dalam kitab Fathul Bari berpendapat bahwa makna hadis tersebut adalah Allah tidak menerima puasanya orang yang berkata dan bertindak zur.

Zur oleh imam Ibnu Hajar diartikan dengan alkidzbu/dusta. Jadi meskipun secara syara puasanya sah, namun tidak dianggap oleh Allah karena ibadah puasanya dicampuri dengan kebohongan-kebohongan yang ia lakukan dan ucapkan.

Imam Ibnu Hajar di dalam kitabnya juga mengutip pendapat imam As Subki yang menyatakan bahwa sempurnanya ibadah puasa itu jika selamat dari berkata kotor dan berbohong. Ini karena menjauhi hal-hal yang dapat membatalkan puasa itu adalah suatu kewajiban, sedangkan menjauhi hal-hal yang menyimpang adalah bagian dari kesempurnaan.

Sehingga, kebohongan yang diucapkan atau dilakukan saat berpuasa itu dapat mengurangi kesempurnaan pahala puasa yang sedang dijalankan.

Jadi, kesimpulannya berbohong saat puasa tidak dapat membatalkan puasa, karena ia bukan salah satu perkara yang membatalkan puasa. Tetapi berbohong dapat mengurangi kesempurnaan pahala puasa, atau bahkan dapat menyebabkan tidak diterimanya amal puasa tersebut di sisi Allah Swt.

Oleh karena itu, marilah kita biasakan berkata jujur dan tidak berbohong. Karena biasanya sekali seseorang itu berbohong, maka ia akan terus berbohong, karena untuk menutupi sebelumnya dan begitu seterusnya.

Maka tidaklah heran, jika Nabi Saw. pernah bersabda, “hendaknya kalian senantiasa jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga.

Baca Juga :  Kultum: Kenapa Kita Dianjurkan Banyak Membaca Alquran Selama Ramadhan?

Jika seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat oleh Allah Swt sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbohong, karena sesungguhnya kebohongan akan mengantarkan kepada kejahatan.

Kejahatan akan mengantarkan kepada neraka. Jika seseorang sukanya berbohong dan berupaya untuk berbohong, maka ia akan dicatat oleh Allah Swt. sebagai pembohong.” (HR. Muslim).

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here