Apakah Benar Harus Mengepalkan Tangan Ketika Hendak Berdiri dari Tasyahud Awal?

1
1021

BincangSyariah.Com – Pada saat kita melaksanakan salat berjamaah di sebuah masjid, sering kita menjumpai seseorang yang hendak berdiri dengan bertumpu pada kedua tangannya yang terkepal ke lantai, seperti orang yang mau meninju. Padahal selama ini yang dilakukan oleh kebanyakan masyarakat Indonesia adalah bertumpu dengan kedua telapak tangan pada lantai, tanpa dikepal. Bahkan ada sebagian yang mengatakan bahwa yang benar adalah mengepalkan kedua tangan ketika hendak berdiri dari tasyahud awal. Benarkah demikian?

Dalam kitab al-Umm, Imam Syafii menegaskan bahwa bertumpu dengan kedua telapak tangan pada lantai ketika hendak berdiri dari tasyahud awal dan duduk istirahah merupakan sunah Nabi saw. Oleh karena itu, kita tidak sepantasnya untuk meninggalkan sunah dan praktek Nabi saw tersebut. Beliau berkata;

وإذا أَرَادَ الْقِيَامَ من السُّجُودِ أو الْجُلُوسِ اعْتَمَدَ بِيَدَيْهِ مَعًا على الْأَرْضِ وَنَهَضَ وَلَا أُحِبُّ أَنْ يَنْهَضَ بِغَيْرِ اعْتِمَادٍ فإنه يُرْوَى عن النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم أَنَّهُ كان يَعْتَمِدُ على الْأَرْضَ إذَا أَرَادَ الْقِيَامَ

“Jika seseorang hendak berdiri dari sujud atau duduk, maka hendaknya dia bertumpu dengan kedua tangannya secara bersamaan pada lantai dan berdiri. Saya tidak suka dia berdiri tanpa bertumpu, karena telah diriwayatkan bahwa Nabi saw bertumpu pada lantai ketika beliau hendak berdiri.”

Adapun cara bertumpunya adalah dengan meletakkan kedua telapak dan jari-jari di atas lantai, bukan mengepalnya seperti ingin meninju. Bahkan menurut Imam Nawawi, meletakkan kedua telapak tangan dan jari-jari di atas lantai ini, dan bukan mengepalnya, merupakan kesepakatan para ulama dan tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka. Imam Nawawi berkata dalam kitab al-Majmu sebagai berikut;

وإذا اعتمد بيديه جعل بطن راحتيه وبطون أصابعه على الأرض ، بلا خلاف

Baca Juga :  Kenali Tiga Tanda Usia Balig di Dalam Islam

“Jika seseorang bertumpu dengan kedua tangannya, maka dia hendaknya meletakkan kedua telapak tangannya dan telapak jari-jarinya di atas lantai, tanpa ada perbedaan di kalangan ulama.”

Juga disebutkan dalam kitab Nihayatul Muhtaj sebagai berikut;

وَكَيْفِيَّةُ الِاعْتِمَادِ أَنْ يَجْعَلَ بَطْنَ رَاحَتَيْهِ ، وَبُطُونَ أَصَابِعِهِ عَلَى الْأَرْضِ وَسَوَاءٌ فِيهِ الْقَوِيُّ وَالضَّعِيفُ

“Sedang cara bertumpunya adalah dengan menjadikan kedua telapak tangan dan telapak jari-jarinya di atas lantai, baik orang yang kuat maupun yang lemah.”

Melalui penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa menurut para ulama Syafiiyah seperti Imam Nawawi, cara bertumpu ketika hendak berdiri dari tasyahud awal dan sujud bukan dengan mengepalkan kedua tangan, akan tetapi dengan cara meletakkan kedua tangan dan telapak jari-jari pada lantai.

1 KOMENTAR

  1. Bagaimanakah ketika dlm solat saat bangkit dari tasyahud awal bertumpu dengan telapak tangan namun tidak menempelkannya ke lantai atau sajadah tetapi ke lutut karna terkadang tanpa sadar melakukan hal tersebut, apakah solatnya sah atau kah ada hukumnya atau bagaimana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here