Apakah Banyak Gerak Membatalkan Shalat?

0
60

BincangSyariah.Com – Sudah lumrah kita ketahui bersama bahwa shalat itu harus tenang dan khusyuk. Kita perlu memperhatikan apa saja hal-hal yang membatalkan shalat. Lantas, apakah banyak gerak dapat membatalkan shalat?

Imam Yahya bin Salim al-‘Imrani dalam kitabnya Al-Bayan fi Mazhab al-Imam as-Syafi’i (j.2 h.315) menuturkan perbedaan pendapat di kalangan Ashab as-Syafi’i perihal banyak gerak yang dapat membatalkan shalat atau tidak sebagai berikut:

Imam al-Ghazali berpendapat bahwa standar mengenai batasan gerakan dianggap banyak atau sedikit adalah ‘urf (adat kebiasaan).

Ashab as-Syafi’i (murid-murid Imam Syafi’i) mengatakan pada kasus dua langkah dan dua pukulan berturut-turut, ada dua pendapat. Pertama, tidak membatalkan terhadap shalat. Alasannya adalah dikarenakan Nabi Saw. melepas dua sendalnya, dalam hal ini dihitung dua gerakan. Kedua, membatalkan kepada shalat. Alasannya  dikarenakan dua langkah atau dua pukulan yang dilakukan secara berurutan adalah perbuatan yang diulang-ulang sebagaimana tiga gerakan.

Imam al-Al-Qaffal: Gerakan banyak adalah sebuah gerakan di mana orang yang shalat seolah-olah terlihat tidak sedang melaksanakan shalat di pikiran orang yang melihatnya. Jika tidak demikian, maka disebut gerakan sedikit (qalīl).

Salah satu Ashab as-Syafi’i (murid-murid Imam Syafi’i): Batasan gerakan disebut sedikit adalah setiap perbuatan yang tidak menggunakan dua tangan. Sementara gerakan banyak adalah sebaliknya yaitu setiap perbuatan yang butuh kepada dua tangan untuk melakukannnya. Akan tetapi, pendapat ini tidak benar.

Pendapat Imam an-Nawawi Soal Standar Banyak Gerak dan Sedikit dalam Shalat

Tak ketinggalan, Imam an-Nawawi (w.676 H) juga memberikan pendapatnya perihal batasan tentang gerakan bisa disebut banyak dan sedikit dalam kitab Raudhat at-Thalibin wa Umdat al-Muftin (j.1 h.293) sebagai berikut:

Pertama, gerakan sedikit adalah gerakan yang tidak cukup untuk mengerjakan satu rakaat shalat. Sementara gerakan banyak adalah sebaliknya.

Kedua, gerakan sedikit adalah setiap gerakan yang tidak butuh menggunakan dua tangan untuk melakukannya, seperti mengangkat serban. Sementara gerakan banyak adalah setiap gerakan yang butuh menggunakan dua tangan, seperti mengikat serban dan lain sebagainya.

Ketiga, Gerakan banyak adalah sebuah gerakan yang membuat orang yang shalat terlihat seolah-olah tidak sedang melaksanakan shalat di pikiran orang lain yang melihatnya. Sementara gerakan sedikit adalah sebaliknya. Namun pendapat ini lemah dengan bukti semisal seseorang yang melihat orang lain shalat sambil membawa anak kecil atau membunuh ular, kalajengking dan sebagainya, dia beranggapan bahwa orang tersebut itu tidak sedang dalam keadaan shalat. Padahal, membawa anak kecil, membunuh ular dan contoh lainnya diatas tidak apa-apa dilakukan dalam shalat, jadi tidak berdampak kepada kebatalan shalat.

Keempat, batasan gerakan disebut sedikit atau banyak dikembalikan kepada adat (urf). Pendapat inilah yang paling shahih dan dilontarkan oleh kebanyakan para ulama.

Keterangan dalam Kifayat an-Nabih fi Syarh at-Tanbih

Terakhir, Ibnu Rif’ah juga mengutarakan suaranya terkait batasan gerakan dianggap banyak atau sedikit dalam Kifayat an-Nabih fi Syarh at-Tanbih (j.3 h.418) dengan perincian sebagai berikut:

Pertama, Imam al Al-Qaffal: Gerakan banyak adalah sebuah gerakan yang membuat orang lain  berpikiran bahwa orang yang shalat terlihat seolah-olah tidak sedang melaksanakan shalat. Dengan alasan seperti inilah gerakan tersebut disebut gerakan banyak. Jika tidak demikian maka disebut gerakan sedikit.

Kedua, disampaikan oleh imam al-Faurani dan al-Mutawalli. Batasan gerakan disebut sedikit adalah setiap perbuatan yang tidak menggunakan dua tangan. Sementara gerakan banyak adalah sebaliknya yaitu setiap perbuatan yang butuh kepada dua tangan untuk melakukannnya.

Ketiga, dilontarkan oleh imam ar-Rafi’i pemilik kitab al-‘Uddah. Beliau mengatakan bahwa gerakan sedikit adalah gerakan yang tidak cukup untuk melakukan satu rakaat shalat. Jadi, seandainya cukup untuk melakukan satu rakaat shalat maka dianggap gerakan yang banyak.

Itulah ragam pendapat para ulama Mazhab Syafi’iyah perihal standar (batasan) gerakan dianggap sedikit atau banyak dalam shalat. Semoga bermanfaat, wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here