Apakah Air Bekas Minum Kucing Najis?

3
10978

BincangSyariah.Com – Kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai bahkan hidup bersama kita. Tak jarang kita jumpai sebuah keluarga atau orang tertentu yang memang sengaja memelihara kucing, dikasih makan dan minum sebagaimana layaknya hewan peliharaan biasa.

Secara khusus, Nabi Saw. menyebutkan bahwa kucing bukan hewan yang najis. Dalam hadis riwayat Imam Abu Daud, Tirmidzi dan Imam Ahmad, Nabi saw. bersabda;

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجِسٍ إَنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِيْنَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ

“Kucing itu tidak najis sebab kucing itu termasuk yang berkeliaran di tengah kalian.”

Namun bagaimana dengan bekas minum atau makan kucing, apakah hukumnya najis mengingat kucing termasuk hewan yang memangsa hewan lain untuk dimakan?

Dalam kitab Almajmu ditegaskan bahwa air bekas minum atau makan kucing tidak najis. Begitu juga air bekas hewan yang lain, seperti ayam, kambing, sapi, kuda, dan lainnya, tidak najis. Yang najis hanya air bekas minum atau makan anjing dan babi.

ومذهبنا أن سؤر الهرة طاهر غير مكروه وكذا سؤر جميع الحيوانات من الخيل والبغال والحمير والسباع والفار والحيات وسام أبرص وسائر الحيوان المأكول وغير المأكون فسؤر الجميع وعرقه طاهر غير مكروه الا الكلب والخنزير وفرع أحدهما

“Mazhab kami (syafiiyah) menilai bahwa air bekas kucing adalah suci dan tidak makruh. Demikian juga air bekas semua binatang-binatang lainnya seperti kuda, keledai, binatang buas, tikus dan binatang lainnya baik yang boleh dimakan dagingnya atau tidak boleh dimakan. Maka air bekas dan keringatnya hukumnya adalah suci kecuali anjing, babi, dan binatang peranakannya.”

Oleh karena itu, boleh minum dan wudu dari air bekas minum kucing dan binatang lainnya. Hanya saja Imam Abu Hanifah menilai makruh jika air bekas minum kucing digunakan berwudu. Syaikh Wahbah Azzuhaili dalam kitabnya Alfiqhul Islami wa Adillatuhu mengatakan;

Baca Juga :  Empat Keutamaan Berwudhu Sebelum Tidur

سؤر الهر والفأر وابن عُرْس ونحوها من حشرات الأرض كالحيات وسام أبرص: طاهر، يجوز شربه والتوضؤ به، ولا يكره عند أكثر أهل العلم من الصحابة والتابعين، إلا أبا حنيفة، فإنه كره الوضوء بسؤر الهر، كما أوضحنا فإن فعل أجزأ.

“Bekas kucing, tikus, musang, atau lainnya dari semua jenis binatang serangga seperti ular dan tokek, adalah suci dan boleh diminum dan digunakan berwudu, dan tidak makruh menurut kebanyakan ulama dari kalangan Sahabat dan Tabiin. Hanya saja Imam Abu Hanifah menilai makruh air bekas minum kucing digunakan wudu seperti yang telah kami jelaskan. Akan tetapi jika digunakan wudu, maka hukumnya mencukupi atau sah.”

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here