Apa yang Harus Dilakukan Makmum Bila Imam Shalat Batal?

0
33

BincangSyariah.Com – Ketika melaksanakan shalat berjemaah, terkadang imam batal di tengah shalat, baik karena kentut, atau terkena najis dan lainnya. Dalam keadaan demikian, apa yang harus dilakukan makmum bila imam shalat batal?

Jika imam batal pada saat pertengahan shalat, baik karena kentut dan lainnya, maka shalat makmum tidak otomatis menjadi batal. Oleh karena itu, jika imam batal di pertengahan shalat berjemaah, maka makmum tidak boleh membatalkan shalatnya. Hal yang harus dilakukan makmum bila imam shalat batal itu harus memilih di antara dua pilihan berikut;

Pertama, makmum melanjutkan shalatnya sendirian dengan niat mufaraqah atau memisahkan diri dari imam. Jika imam batal di pertengahan shalat, maka makmum boleh niat memisahkan diri dari imam dan kemudian meneruskan shalatnya sendirian tanpa berjemaah.

Kedua, makmum tetap melanjutkan shalat berjemaahnya dengan cara istikhlaf. Yang dimaksud istikhlaf di sini adalah menunjuk pengganti imam dengan imam lain, yang karena satu sebab imam pertama tidak bisa menyempurnakan shalatnya.

Proses istikhlaf boleh dilakukan imam pertama yang batal untuk menunjuk pengganti imam lain dan boleh dilakukan oleh para makmum. Dapat pula seseorang dengan inisiatif sendiri maju menjadi imam. Jika istikhlaf dilakukan oleh para makmum, maka harus dilakukan dengan isyarat, tanpa menimbulkan perbuatan yang membatalkan shalat. Selain itu, harus dilakukan secepatnya, langsung setelah imam pertama batal.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin berikut;

حاصل مسألة الاستخلاف كما أوضحها الشيخ محمد بن صالح الريس في القول الكافي أنه إذا خرج الإمام عن الإمامة بنحو تأخره عن المأمومين ، أو عن الصلاة بنحو حدث ولو عمداً ، فاستخلف هو أو المأمومون أو بعضهم صالحاً للإمامة ، أو تقدم الصالح بنفسه جاز تارة بل وجب وامتنع أخرى

Kesimpulan masalah istikhlaf, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Rais dalam kitab Al-Qaul Al-Kafi, bahwa jika imam keluar dari keimaman dengan cara mundur dari para makmum, atau keluar dari shalat karena hadas meskipun dengan sengaja, kemudian imam, atau para makmum atau sebagian menunjuk pengganti orang yang pantas untuk menjadi imam, atau orang yang pantas menjadi imam maju dengan inisiatif sendiri, maka hukumnya boleh bahkan terkadang menjadi wajib jika yang lain enggan melakukannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here